
MaxFM Waingapu, SUMBA – Sebagai garda terdepan di fasilitas kesehatan, seorang perawat pun tak luput dari ancaman penyakit. Maria Fransisca Victoria Enga (29), seorang perawat di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, merasakan langsung manfaat pelindung dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam perjalanan panjang melawan penyakitnya.
Baca juga:
Syok Didiagnosa Usus Buntu, Syukur Biaya Ditanggung JKN Sepenuhnya
Sejak 2018, Maria didiagnosis mengalami gangguan lambung yang berkembang menjadi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kronis. Penyakit ini sering menimbulkan nyeri hebat, sesak dada, dan sangat mengganggu aktivitasnya, termasuk saat ia harus menjalankan tugas merawat pasien. “Setiap kambuh rasanya luar biasa, kadang sampai sulit buat berdiri,” tuturnya.
Puncak penderitaannya terjadi pada Juni lalu, ketika GERD yang dideritanya kambuh sangat parah. Kondisi itu memaksanya harus dirawat inap di rumah sakit selama satu minggu penuh untuk menstabilkan kesehatannya. Di momen menegangkan itu, satu hal yang memberinya ketenangan: kepesertaannya dalam JKN.
Baca juga:
Manfaat JKN Makin Terasa, Claudia Apresiasi BPJS Kesehatan
“Jujur, saya sangat bersyukur ada JKN. Saya tidak memiliki beban pikiran untuk biaya pengobatan saya waktu itu. Kalau bukan karena JKN, saya mungkin sudah pulang lebih cepat karena takut biaya rumah sakitnya membengkak,” ucap Maria dengan lega. Ia mengakui, proses pengobatan yang panjang dan memerlukan pemeriksaan berkala akan sangat berat secara finansial jika harus ditanggung sendiri.
Yang unik, Maria mengalami manfaat JKN dari dua sisi: baik sebagai penerima layanan maupun sebagai tenaga kesehatan yang melihat manfaatnya bagi orang lain. Dalam pekerjaannya sehari-hari, ia sering menyaksikan bagaimana JKN menjadi penyelamat bagi banyak pasien dari berbagai kalangan. Pengalaman pribadinya ini semakin mengokohkan keyakinannya akan pentingnya program tersebut.
Baca juga:
Kisah Cemburu yang Berdarah: Dari Kebun Jagung ke Warung Ayam, Pengakuan Pelaku yang Mengejutkan
“Bekerja di lapangan, saya lihat sendiri banyak orang terbantu. Dan ketika saya sendiri jatuh sakit, saya merasakan hal yang sama. Itu membuat saya semakin yakin bahwa program ini benar-benar dibutuhkan masyarakat, terutama di daerah seperti Sumba Timur ini,” paparnya.
Baca juga:
Jaga Kondusivitas, Kapolres Sumba Timur Keluarkan Himbauan Khusus Jelang Nataru
Maria pun berpesan agar masyarakat tidak menganggap jaminan kesehatan sebagai formalitas, melainkan sebagai investasi penting untuk ketidakpastian masa depan. “Tidak ada yang ingin sakit. Tapi kalau sakit itu datang, kita harus siap. Bagi saya, JKN adalah bekal terbaik yang bisa disiapkan,” tutupnya. Kisah Maria membuktikan bahwa JKN melindungi semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang sehari-hari justru merawat kesehatan orang lain. (ok/vd)







