Scroll to Top
Perahu Kayu dan Dayung Bambu Jadi Saksi Perjuangan Guru dan Warga Melewati Kerasnya Arus Sungai Kambaniru
Posted by maxfm on 5th Mei 2026
Gugup dan Kuatir, 3 Guru SMPN2 Waingapu, nekat sebrai sungai dengan perahu kayu kecil dengan dayung dari bambu [Kolase Foto : Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – 300 Kepala Keluarga (KK) di dusun 3 Desa Kiritana, Kecamatan Kambera Sumba Timur akses transportasinya terhambat, jembatan gantung yang pernah dibangun di 2019 hancur diterjang banjir saat Siklon Seroja menerjang Sumba di 2021, dan hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan.



Saat ini, bangkai jembatan gantung, terbagi dalam benyak seprihna yang masi ada di dekat lokasi, tali sling masing terlihat di dalam Sungai, juga terlihat di sisi tanah di pinggir sungai Kambaniru dekat lokasi jembatan gantung.

Bagian plat besi sebagi landasan saat warga melintasi jembatan juga masih terlihat, besi bulat kokoh masih ada di dua sisi sungai.

Untuk pergi pulang dari dusun tiga ke arah Lambanapu warga terpaksa harus naik perahu kayu kecil yang tersedia dengan dayung hanya menggunakan bambu.

Sore itu saya berada persis di sisi barat sungai, terlihat dua orang Ibu Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Waingapu yang akan pulang dari kunjungan keluarga di dusun tiga ke Waingapu naik perahu kayu dengan agak kuatir, seorang duru lainnya masih menanti di untuk naik perahu di berikutnya.



“Ini kali kedua saya naik perahu di sini, tetapi kali ini lebih gugup, karena airnya keras dan perahunya agak kecil serta lihat dayungnya dari bambu bikin tambah kecut rasa ini,” ujar Trini dan dibenarkan Rince, ke duanya guru di SMP Negeri 2 Waingapu.

Bangkai Jembatan Gantung yang rusak diterjang banjir besar saat Siklon Seroja terjang Sumba tahun 2021 terlihat di sekitar lokasi jembatan yang rusak {Kolase Foto: Heinirch Dengi]

Rince bilang dirinya bersama dua guru lain baru mengunjungi keluarga di dusun tiga dan menceritakan tentang anak perempuan keluarganya di kampung Lai Hiding dusun 3 Desa Kiritana yang pergi sekolahnya pagi, pulang kembali ke rumah bisa sampai sore hari, karena harus jalan jauh ke sekolah, belum lagi harus menyeberang sungai yang besar ini yang arusnya kuat, kalau musim hujan pasti akan menambah kesulitan siswa di sini untuk ke sekolah dan pulang ke rumah.

Dalam kesempatan yang sama ibu guru Eni pengajar di SMPN2 Waingapu yang punya banyak keluarga di dusun 3 Desa Kiritana berharap ke depannya Jembatan gantung bisa diperbaiki.

“Saya berharap ada perhatian dari banyak pihak untuk membantu memperbaiki jembatan gantung ini, agar warga tidak perlu lagi naik perahu atau berenang untuk sampai ke sisi sungai yang membawa warga ke Waingapu,” pinta ibu guru Eni.



Dirinya menambahkan di Dusun 3 Desa Kiritana ini semua warganya adalah petani hortikultura, petani sayur mayur, sehingga setiap hari harus membawa aneka sayur yang baru dipanen untuk dijual ke kota Waingapu sebagai upaya untuk menghasilkan uang dan menggerakkan kehidupan domestik keluarga.

“Biasanya para petani ini harus berangkat malam atau dini hari dari dusun 3 ini untuk membawa dagangannya, bisa dibayangkan kesulitan yang mereka hadapi,” tutupnya. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons