
MaxFM Waingapu, SUMBA – Pendeta Theresia Ella Rambu Hada ditahbiskan menjadi Pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS) Kalu pada Jumat 1 Mei 2026. Pada kesempatan ibadah pentahbisan ini, setiap pendeta yang ditahbiskan dalam jemaat baru, selalu diberikan kesempatan melayani jemaat dengan Khotbah perdana atau umumnya disebut Khotbah Sulung.
Dalam ibadah di GKS Kalu, Pendeta Theresia Ella Rambu Hada menyampaikan khotbah sulungnya kepada jemaat, dengan tema Berderap Menuju Keutuhan Tubuh Kristus.
Berikut ini, secara lengkap khotbah sulungnya, dengan bacaanya Alkibanya dari 1 Korintus 12:12–31:
Jemaat Tuhan yang terkasih, saya mengawali perenungan ini dengan gambaran sebuah paduan suara. Di dalamnya ada sopran, alto, tenor, dan bas. Suaranya berbeda, nadanya tidak sama, dan posisinya pun berbeda. Namun ketika semua mengikuti satu partitur dan dipimpin satu dirigen, lahirlah harmoni. Keindahan tidak muncul karena semua sama, tetapi karena perbedaan yang bergerak selaras. Jika satu suara ingin menonjol sendiri, lagu justru menjadi sumbang.
Begitulah gereja. Gereja bukan kumpulan orang yang seragam, melainkan tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota dengan fungsi berbeda. Ada yang memimpin, mengajar, melayani, mendoakan, menguatkan, dan bekerja diam-diam. Semua berbeda, tetapi semuanya penting.
Surat 1 Korintus ditulis Paulus kepada jemaat di Korintus, kota besar yang maju namun penuh persaingan dan kebanggaan diri. Pengaruh itu masuk ke dalam gereja. Muncul perpecahan, iri hati, dan sikap merasa lebih rohani dari yang lain. Karena itu Paulus menegaskan bahwa gereja adalah satu tubuh. Mata tidak dapat berkata kepada tangan, “Aku tidak membutuhkan engkau.” Kepala tidak dapat berkata kepada kaki, “Aku lebih penting.” Setiap anggota berbeda, tetapi saling membutuhkan.
Paulus berkata, “Tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak.” Artinya, kesatuan dan keberagaman berjalan bersama. Gereja tidak dipanggil menjadi seragam, tetapi menjadi satu. Inilah yang didoakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu.” Kesatuan bukan berarti semua sama, tetapi semua terikat di dalam Kristus.
Paulus juga berkata bahwa kita dibaptis dalam satu Roh menjadi satu tubuh. Jadi dasar persatuan gereja bukan suku, jabatan, pendidikan, atau kedekatan pribadi, melainkan karya Roh Kudus. Karena itu tidak ada ruang untuk kesombongan dan tidak ada alasan merasa rendah diri. Semua diterima oleh anugerah Tuhan.
Lalu Paulus menegaskan bahwa anggota tubuh yang dianggap lemah justru sangat diperlukan. Dunia menghargai yang kuat dan terlihat, tetapi Allah sering memakai yang sederhana dan tersembunyi. Dalam gereja, mereka yang setia berdoa, menolong, memberi, dan melayani tanpa sorotan sering kali menjadi penopang persekutuan.
Firman ini sangat relevan hari ini. Kita hidup di zaman yang suka membandingkan, mencari pengakuan, dan menilai dari penampilan. Bahkan pelayanan bisa berubah menjadi ajang mencari pujian. Tetapi tubuh Kristus dibangun bukan oleh orang yang menonjol, melainkan oleh anggota-anggota yang setia mengambil bagian.
Karena itu kita dipanggil menghargai perbedaan sebagai anugerah. Tuhan menempatkan orang-orang berbeda dalam gereja untuk saling melengkapi, bukan bersaing. Perbedaan adalah kekayaan yang dipakai Tuhan bagi pelayanan-Nya.
Kita juga dipanggil saling memperhatikan dalam kelemahan. Jika satu anggota menderita, seluruh tubuh ikut merasakan. Gereja harus menjadi tempat memulihkan, bukan menghakimi. Filipi 2:3-4 mengingatkan supaya kita tidak mencari kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain.
Kita pun dipanggil menjaga kesatuan sebagai kesaksian iman. Yohanes 17:21 menegaskan bahwa ketika umat Tuhan hidup dalam kesatuan, dunia melihat karya Kristus. Kesatuan dijaga melalui kerendahan hati, kesabaran, dan kasih. Filipi 2:5 mengajak kita memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus, yang rela merendahkan diri untuk melayani.
Hari ini, dalam perkenanan Tuhan, GKS Payeti Cabang Kalu boleh mekar dan mandiri. Ini bukan sekadar perubahan organisasi, tetapi tanda pertumbuhan tubuh Kristus. Pemekaran berarti pelayanan diperluas, dan kemandirian berarti semakin dewasa dalam panggilan. Peneguhan majelis dan pentahbisan pelayanan hari ini juga mengingatkan bahwa Tuhan terus menata gereja-Nya.
Karena itu marilah kita berjalan bersama: pendeta, majelis, pelayan komisi, kaum muda, orang tua, dan seluruh jemaat. Tidak saling meninggikan diri, tidak saling meninggalkan, tetapi berderap searah dalam kasih Tuhan.
Kita datang dari latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan dalam Kristus. Ketika kita berjalan bersama dalam kasih dan kerendahan hati, gereja dibangun, dunia melihat terang Kristus, dan Allah dimuliakan. Amin.
[Pendeta GKS Kalu : Theresia Ella Rambu Hada]








