
MaxFM Waingapu, SUMBA – Duka di Lai Hiding, Dusun 3 Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, tak hanya soal kehilangan seorang warga. Ia menjelma menjadi perjuangan melawan arus Sungai Kambaniru yang deras, bahkan ancaman buaya yang mengintai keluarga yang mengantar jenasah.
Sebuah video amatir yang viral di media sosial memperlihatkan warga dengan penuh kebersamaan bergotong royong memikul peti jenazah menyeberangi Sungai Kambaniru yang dalam dan berarus kuat, terlihat posisi air sungai di atas dada orang dewasa. Tidak ada jembatan, tidak ada alternatif lain. Hanya keberanian dan rasa kekeluargaan yang mendorong keluarga baw apulang jenasah.
Kisah pilu ini terjadi pada Jumat 24 April 2026. Jenazah seorang warga Dusun Laihiding diantar dari Rumah Sakit di Kota Waingapu menggunakan ambulans. Namun perjalanan terhenti di bibir sungai. Di hadapan mereka, Sungai Kambaniru tampil tanpa kompromi.
“Tidak ada jalan lain. Kami harus lewat sini,” ujar Erens, salah seorang warga yang ikut menggotong peti, ketika dihubungi setelah membagikan video suasana pilu itu, Sabtu 25 April 2026 petang.
Peti jenazah dibalut kain tenun khas Sumba Timur. Tanpa alat bantu, tanpa pengaman, hanya tangan-tangan warga yang saling menguatkan menjaga keseimbangan agar peti tidak jatuh terseret derasnya air.
Namun, arus sungai yang deras bukan satu-satunya ancaman. Sungai Kambaniru juga dikenal sebagai habitat buaya. Risiko itu nyata, tetapi duka yang harus segera diselesaikan membuat warga tak punya pilihan lain.
Jembatan gantung yang dulu menjadi penghubung utama telah ambruk sejak April 2021. Bencana Siklon Seroja merobohkannya, dan hingga kini belum ada tanda-tanda perbaikan. Akibatnya, akses warga terputus. Sungai menjadi satu-satunya jalur yang “lebih mudah”, meski sebenarnya penuh bahaya. Perjuangan tidak berhenti di satu kali penyeberangan. Untuk mencapai rumah duka, warga harus melintasi sungai yang sama hingga dua kali.

Kepala Desa Kiritana, Jhonson Dena Tola, yang turut serta dalam prosesi tersebut membenarkan dan menceritakan peristiwa ini.
“Saya ikut mengantar jenazah sampai ke Laihiding, di dusun 3 Desa Kiritana. Bahkan saya yang mengatur warga saat akan melewati Sungai Kambaniru yang airnya cukup dalam dan hari sudah mulai gelap,” jelas Jhonson saat ditemui di sisi sungai, Sabtu 25 April 2026 petang.
Dengan nada prihatin dan memohon, ia menyampaikan harapan warga. “Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Setidaknya jembatan diperbaiki agar warga tidak lagi membahayakan nyawa,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa sungai itu dikenal sebagai habitat buaya, yang oleh sebagian warga tidak hanya ditakuti tetapi juga dikeramatkan.
Video ini bukan sekadar potret duka. Ia adalah cermin keterbatasan infrastruktur yang masih membayangi kehidupan masyarakat di pelosok NTT.
Di Kabuopaten Sumba Timur, kematian terasa makin menyayat hati kala jenazah untuk tiba di rumah duka pun harus diperjuangkan dengan bertaruh nyawa. Di balik derasnya arus sungai dan ancaman buaya, sejatinya ada harapan yang terus disuarakan agar akses yang layak bukan lagi sekadar janji semata.








