Scroll to Top
Duka di Tengah Bahaya: Warga Kiritana Gotong Royong Seberangi Sungai Berbuaya Demi Mengantarkan Jenazah
Posted by maxfm on 26th April 2026
Duka di Tengah Bahaya: Warga Kiritana Gotong Royong Seberangi Sungai Berbuaya Demi Mengantarkan Jenazah [Foto: ISTIMEWA]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Duka di Lai Hiding, Dusun 3 Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, tak hanya soal kehilangan seorang warga. Ia menjelma menjadi perjuangan melawan arus Sungai Kambaniru yang deras, bahkan ancaman buaya yang mengintai keluarga yang mengantar jenasah.




Sebuah video amatir yang viral di media sosial memperlihatkan warga dengan penuh kebersamaan bergotong royong memikul peti jenazah menyeberangi Sungai Kambaniru yang dalam dan berarus kuat, terlihat posisi air sungai di atas dada orang dewasa. Tidak ada jembatan, tidak ada alternatif lain. Hanya keberanian dan rasa kekeluargaan yang mendorong keluarga baw apulang jenasah.

Kisah pilu ini terjadi pada Jumat 24 April 2026. Jenazah seorang warga Dusun Laihiding diantar dari Rumah Sakit di Kota Waingapu menggunakan ambulans. Namun perjalanan terhenti di bibir sungai. Di hadapan mereka, Sungai Kambaniru tampil tanpa kompromi.

“Tidak ada jalan lain. Kami harus lewat sini,” ujar Erens, salah seorang warga yang ikut menggotong peti, ketika dihubungi setelah membagikan video suasana pilu itu, Sabtu 25 April 2026 petang.

Peti jenazah dibalut kain tenun khas Sumba Timur. Tanpa alat bantu, tanpa pengaman, hanya tangan-tangan warga yang saling menguatkan menjaga keseimbangan agar peti tidak jatuh terseret derasnya air.

Namun, arus sungai yang deras bukan satu-satunya ancaman. Sungai Kambaniru juga dikenal sebagai habitat buaya. Risiko itu nyata, tetapi duka yang harus segera diselesaikan membuat warga tak punya pilihan lain.





Video ini bukan sekadar potret duka. Ia adalah cermin keterbatasan infrastruktur yang masih membayangi kehidupan masyarakat di pelosok NTT.

Di Kabuopaten Sumba Timur, kematian terasa makin menyayat hati kala jenazah untuk tiba di rumah duka pun harus diperjuangkan dengan bertaruh nyawa. Di balik derasnya arus sungai dan ancaman buaya, sejatinya ada harapan yang terus disuarakan agar akses yang layak bukan lagi sekadar janji semata.

Show Buttons
Hide Buttons