
MaxFM Waingapu, SUMBA – Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, secara resmi membuka Pekan Budaya Kabupaten Sumba Timur tahun 2026 di Museum Daerah Umbu Hina Kapita, Selasa 19 Mei 2026. Acara ini berlangsung hingga Sabtu 23 Mei 2026 dan menjadi momentum penting bagi pelestarian dan penguatan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Dalam pidatonya, Yonathan Hani menekankan ancaman nyata dari gempuran budaya asing yang sudah masuk hingga ke pelosok desa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar memamerkan keindahan fisik seperti tenun ikat, tetapi juga menghidupi nilai-nilai luhur dalam keseharian.
“Budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai bentuk atau simbol, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup penerapan nilai-nilai seperti sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, menjaga alam, dan menghargai hasil karya orang lain. Budaya Sumba harus menjadi identitas diri yang melekat, baik bagi mereka yang tinggal di Sumba maupun yang berada di luar daerah,” tegasnya.
Yonathan Hani mengibaratkan Sumba tanpa budaya sebagai “rumah kosong tanpa jiwa”. Ia menegaskan bahwa meskipun tidak dituntut untuk sempurna memahami seluruh seluk-beluk budaya, setiap individu memiliki tugas untuk mengisi kekosongan dan berusaha semaksimal mungkin menjaganya agar tidak hilang ditelan zaman.
Secara khusus, Wakil Bupati menyoroti kaum muda yang saat ini tengah terpapar budaya populer dari Korea dan Jepang. Ia mengingatkan bahwa generasi muda boleh mempelajari budaya lain, namun jangan pernah meninggalkan identitas budaya sendiri. Tantangan terbesar adalah memastikan ke mana pun masyarakat Sumba pergi, nilai-nilai luhur tetap dibawa dan ditunjukkan sebagai ciri khas.
Visi Global: Museum Tenun Terbaik Dunia
Dalam kesempatan yang sama, Yonathan Hani memaparkan visi besar untuk menjadikan museum daerah sebagai pusat kebudayaan dunia yang mampu menarik wisatawan mancanegara. Beberapa langkah strategis yang dirancang antara lain:
– Museum Tenun Terbaik di Dunia: Museum di Sumba Timur ditargetkan bertransformasi menjadi museum tenun terbaik dunia, menampilkan seluruh hasil karya terbaik maestro tenun Sumba Timur, termasuk kain-kain tenun kuno yang usianya mencapai ratusan tahun.
– Pameran Rutin dan Terjadwal: Untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara, akan dibuat kalender kegiatan dengan pameran rutin setiap tiga bulan sekali secara bergiliran dari berbagai wilayah sentra tenun, seperti Rende, Umalulu, hingga Kanatang.
– Festival Budaya dan Tenun Tingkat Dunia: Pemerintah daerah akan meyakinkan pemerintah pusat dan provinsi bahwa Sumba siap menjadi tuan rumah ajang internasional, sehingga posisi kebudayaan Sumba semakin kuat dan diakui secara global.
“Pelestarian ini adalah tugas bersama untuk memastikan bahwa 100 atau 200 tahun ke depan, budaya Sumba tetap hidup dan tidak tergerus oleh modernisasi,” pungkas Yonathan Hani.
Pekan Budaya Sumba Timur 2026 akan berlangsung selama sepekan dengan berbagai kegiatan, termasuk pameran tenun, pertunjukan seni tradisional, dan banyak acara lainnya. [HD]








