
MaxFM Waingapu, SUMBA – Hari sudah sore, sekira pukul 15.00 WITA, matahari masih tinggi di atas kepala, sedikit bergeser ke arah Barat. Cuaca di luar panas, tetapi agak terabaikan panasnya gegara angin kencang menderu dari arah laut ke darat menghantam tubuh ini.
Di laut terlihat gelombang cepat datang silih berganti dan buih-buih putih bermunculan kejar mengejar sebagi tanda laut sedang tidak ramah, angin kencang sedang melanda pulau Sumba dan biasanya situasi ini cukup ditakuti nelayan bila ingin melaut.
Saat melangkahkan kaki masuk ke laut yang sedang surut, kaki ini dikejutkan dengan tiba-tiba masuk ke lumpur agak dalam, orang Sumba Timur bilang Kapihak artinya Lumpur, sama dengan nama pantai atau laut ini yang sering disebut pantai atau laut Kapihak, karena mulai dari pinggir pantai hingga ke batas kering air laut dipenuhi lumpur.
Lumpur yang memenuhi pantai Kapihak di desa Mondu, Kecamatan Kanatang Sumba Timur, datang dari dua sisi. Pertama lumpur datang dari sungai kecil yang kering airnya saat musim kering, dekat dengan hotel Cemara di sisi Timur. Lumpur berikutnya datang dari Sungai Mondu di sisi barat pantai Kapihak.
Lumpur yang memenuhi Pantai Kapihak ini menjadi sumber penghidupan dari berbagai jenis ikan, termasuk ikan Tembang yang menjadi ikan yang paling di gemari warga Sumba, termasuk saya. Sehingga tidak heran, karena sumber lumpur melimpah akan menjadikan tempar sarang telur ikan yang baik, dari lumpur yang datang dari pegununungan membawa makanan dan sumber mineral yang melimpah menjadikan Laut Kapihak melimpah akan iakn tembang juga ikan jenis lainnya,
Saat saya masuk ke laut, terlihat banyak orang berkerumun, menglilingi satu perhau berwarna campuran hijau pupus, putih dan merah, sambil pukat sedikit-demi sedikit dibuka dari perahu dan ikan dilepaskan, ada belasan orang yang membantu nelayan untuk secepat mungkin melepaskan ikan tembang yang tertangkap.
Nelayan asal desa Mondu Djawa Tanggu R (50 th) yang sore itu baru saja melepas ikan dari pukat, kemudian menjual ikan tangkapannya kepada pembeli dari Waingapu menjelaskan, saat ini memang sedang musim ikan tembang.
“Sejak bulan Juni hingga nanti mulai musim banjir di Sungai (sekitar akhir November) ikan tembang melimpah di pantai Kapihak, dan setiap hari kami kamai bisa turun beberapa kali untuk mengejar ikan,” jelas nelayan Djawa Tanggu R, Senin, 27 Juli 2026 di pantai Kapihak.
Djawa Tanggu menambahkan saat ini bertepatan dengan musim angin kencang di sekitar laut Kapihak, akibatnya nelayan setempat kesulitan untuk bisa menangkap ikan dalam jumlah yang besar.
“Angin kencang bikin kita nelayan punya dada mau pecah saja untuk dayung perahu melawan ombak yang datang dan akhirnya cukup sulit mengarahkan perahu untuk mengejar kelompok ikan tembang yang sedang bermain di perairan dalam Kapihak,” tambah Djawa Tanggu kepada media ini.
Meski hambatan angin dan gelombang yang dihadapi, tidak menghambat Djawa Tanggu R untuk terus melaut, karena dirinya mengaku hasil ikan ini sangat membantu kehidupan ekonomi keluargnya.
“Hasil jual ikan ini, kami gunakan untuk beli keperluan keluarga di rumah, kalau banyak yang kami dapat, uang hasis jual ikan saya tabung untuk keperluan kuliah dua anak saya,” jelas Djawa Tanggu R.
Djawa Tanggu R menambahkan salah satu anaknya sudah hampir selesai kuliah Keperawatan di Kupang, sekang sedang ambil Ners, anak yang satu lagi sedang kuliah di Universitas Kristen di Waingapu (UNKRISWINA) dan semua biaya untuk bayar biaya kuliah anak-anak dari hasil jual ikan di pantai Kapihak.
Hari makin sore menuju gelap, beberapa perahu masih berjuang di laut dalam Kapihak untuk memburu ikan tembang, ada yang pulang membawa ikan dalam jumlah banyak, ada yang bawa hasil sedikit bahkan yang juga yang pulang kosong, seperti nelayan Djawa Tanggu R. Saat kembali melaut untuk ke dua kalinya sore itu, dirinya pulang tanpa hasil.
Saya yang sejak awal menanti ikan hasil tangkapan nelayan Djawa Tanggu R, akhirnya juga pulang kosong, beruntung saat mendekat ke beberapa nelayan yang pulang melaut dan hasil tangkapan melimpah, saya sempat mendapat sedikit ikan tembang, hasil itu yang dibawa pulang untuk jadi ikan tembang goreng dan ikan tembang kuah asam yang segar dan rasanya manis dari pantai Kapihak. [HD]








