Scroll to Top
Pengunjung Minta Pemkab Sumba Barat Benahi Wisata Religi Gollu Poto
Posted by maxfm on 22nd Maret 2026
Patung Yesus Dengan Tangan Terentang Memberkati di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tnggarar Timur, NTT,Tinggi Sekitar 40 Meter [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Di atas perbukitan sunyi di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, berdiri sebuah patung Yesus dengan tangan terentang. Dari kejauhan, pose itu tetap menghadirkan kesan seolah sedang memberkati Kota yang terhampar di bawahnya, dengan bentangan sawah hijau di tengah kepungan rumah warga dan bangunan perkantoran.



Dari titik ini, lanskap kota terlihat utuh, tenang, hijau, dan terasa jauh dari hiruk-pikuk. Angin yang berembus di punggung bukit membawa suasana hening, sebuah ruang yang seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak, berdoa, dan merenung.

Patung Yesus Dengan Tangan Terentang Memberkati di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tnggarar Timur, NTT, Tinggi Sekitar 40 Meter [Foto: Heinrich Dengi]

Untuk mencapai area kaki patung di Bukit Gollu Poto, pengunjung harus menapaki ratusan anak tangga. Jalur ini semestinya menjadi bagian dari pengalaman spiritual, sebuah perjalanan fisik menuju refleksi batin. Namun di sepanjang lintasan, kondisi fasilitas justru menghadirkan kesan sebaliknya.

Lopo-lopo yang mengitari kawasan tampak reot dan tak terurus. Sebuah pos jaga di dekat area parkir berdiri tanpa fungsi yang jelas. Tanaman liar tumbuh lebat di sejumlah sudut, sementara sampah terlihat berserakan tanpa penanganan.




Di bagian dasar patung, pijakan melingkar dihiasi lukisan-lukisan bertema sejarah keselamatan. Elemen ini mempertegas identitas Gollu Poto sebagai destinasi wisata religi. Namun minimnya perawatan membuat sebagian detail mulai memudar.

Patung Yesus Dengan Tangan Terentang Memberkati di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tnggarar Timur, NTT, Tinggi Sekitar 40 Meter [Foto: Heinrich Dengi]

Dari ketinggian ini, Kota tampak seperti hamparan hidup yang utuh, sawah yang menghidupi, rumah yang menaungi, dan kantor yang menggerakkan aktivitas pemerintahan. Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari pusat kota, menjadikan Gollu Poto sebagai destinasi yang relatif mudah dijangkau.



Orce DA, yang ditemui di lokasi, mengaku terkesan dengan suasana yang ditawarkan. Ia merasakan ketenangan yang jarang ditemukan di ruang publik lain. “Tempat ini cocok untuk berdoa, refleksi, dan menikmati keindahan alam,” ujarnya.

Namun kekaguman itu tidak menutup catatan kritisnya. Ia menilai fasilitas dasar di lokasi belum memadai untuk menunjang kenyamanan pengunjung, terutama jika ingin dikembangkan sebagai destinasi wisata religi yang lebih serius. “Lopo-lopo banyak yang rusak. Kamar mandi juga mestinya ada. Sampah perlu dikelola dengan baik,” katanya.

Apa yang disampaikan Orce mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam pengelolaan destinasi wisata di daerah. Banyak tempat dengan nilai historis, spiritual, dan lanskap yang kuat, namun belum didukung oleh tata kelola yang berkelanjutan.



Padahal, dalam praktik pengembangan pariwisata, aspek dasar seperti kebersihan, fasilitas sanitasi, ruang istirahat, hingga sistem pengelolaan sampah menjadi faktor penting yang menentukan kualitas pengalaman pengunjung. Tanpa itu, daya tarik sebuah destinasi mudah memudar, bahkan sebelum sempat berkembang.

Patung Yesus Dengan Tangan Terentang Memberkati di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tnggarar Timur, NTT, Tinggi Sekitar 40 Meter [Foto: Heinrich Dengi]

Gollu Poto sebenarnya memiliki semua elemen untuk tumbuh sebagai destinasi unggulan: nilai religi yang kuat, panorama alam yang khas, serta kedekatan dengan pusat kota, selain itu cuaca yang dingin di kota Waikabubak menjadikannya tempat yang nyaman dikunjungi. Ia tidak hanya berpotensi menjadi tempat ziarah, tetapi juga ruang perjumpaan antara wisata, budaya, dan refleksi spiritual.

Di berbagai daerah lain, wisata religi justru menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal. Kehadiran pengunjung membuka peluang bagi masyarakat sekitar, mulai dari usaha kecil, jasa pemandu, hingga pengelolaan kawasan berbasis komunitas. Namun semua itu membutuhkan satu hal mendasar: perhatian dan komitmen dalam pengelolaan. [OG/HD]

Patung Yesus Dengan Tangan Terentang Memberkati di Kelurahan Soba Wawi, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tnggarar Timur, NTT, Tinggi Sekitar 40 Meter [Foto: Heinrich Dengi]
Show Buttons
Hide Buttons