Scroll to Top
Resmi! Gereja Kristen Sumba Kalu jadi Jemaat Mandiri ke 294 di Lingkungan Sinode GKS
Posted by maxfm on 2nd Mei 2026
Resmi! Gereja Kristen Sumba Kalu jadi Jemaat Mandiri ke 294 di Lingkungan Sinode GKS [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Di tengah gemerlap tari-tarian tradisional dan ritual adat, sebuah pesan tegas meluncur dari mimbar Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Kalu. Pendeta Theresia Ella Rambu Hada, yang baru saja ditahbiskan sebagai pendeta pertama jemaat tersebut, memanfaatkan khotbah sulungnya tidak hanya untuk meresmikan gedung gereja, melainkan untuk membangkitkan kesadaran ribuan jemaat yang hadir.




Membuka khotbah sulungnya Pendeta Theresia Ella mengambil contoh dari paduan suara yang menaikkan pujian-pujian saat ibadah ini, meski terbagi dalam kelompok suara mulai dari sopran, alto, tenor dan bas, tetapi tetap menghasilkan harmoni yang indah.

“Ketika setiap suara menyanyikan sesuai bagiannya, mengikuti partiture bersama-sama dan dipimpin oleh satu dirigen lahirlah harmoni, keindahan tidak muncul karena semua suara itu sama, melainkan karena perbedaan yang bergerak selaras. Jika satu suara ingin menonjolkan diri maka sudah pasti lagunya menjadi sumbang,” tegas Pendeta GKS Kalu Theresia Ella Rambu Hada di depan jemaat yang memadati ruang dalam dan halaman gereja di Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Jumat 1 Mei 2026.

Pendeta Teresia Ella dalam Khotbah sulung yang berlangsung khidmat tersebut mengutip langsung ajaran Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Pendeta Theresia dengan lantang mengingatkan bahwa setiap anggota jemaat—baik yang tampak di mimbar maupun yang melayani di belakang layar—memiliki peran penting yang tidak bisa diabaikan.

“Dunia boleh menghargai yang terlihat dan kuat, tetapi Allah seringkali memakai yang sederhana dan tersembunyi,” lanjutnya sambil sesekali menunjuk ke arah ibu-ibu yang melayani konsumsi dan pemuda yang mengatur parkir.



Menurutnya gereja harus menjadi ruang di mana setiap orang dihargai, termasuk mereka yang melayani tanpa sorotan. “Bukan jabatan yang membuat kita mulia, tetapi kesediaan untuk merasakan apa yang dirasakan saudara kita,” ujarnya.

Peresmian GKS Jemaat Kalu yang berlangsung meriah sejak pagi itu memang bukan seremoni biasa. Ribuan jemaat datang dari berbagai penjuru Sumba Timur, tidak hanya dari Jemaat Kalu tetapi juga dari sejumlah jemaat GKS lainnya. Suasana khidmat berpadu dengan semarak budaya yang terasa kuat.

Sebelum khotbah sulung dimulai, Ketua Umum Sinode GKS, Pendeta Marlin Lomi, telah lebih dulu menyampaikan bahwa GKS Jemaat Kalu resmi menjadi jemaat mandiri ke-294 dalam lingkup sinode. “Ini bukan sekadar penambahan angka dalam statistik gereja, tetapi pertumbuhan iman yang nyata di tengah masyarakat,” tandasnya.

Keunikan peresmian ini terlihat dari kuatnya sentuhan inkulturasi budaya Sumba Timur. Terlihat dari ketika Peneta yang akan ditahbiskan dane keluarga akan memasuki halaman GKS Kalu ada ritual Panggara Taungu. Wunang dari sisi keluarga maupun wunang dari sisi jemaat, melakukan ritual luluku berbalas menggunakan Bahasa Sumba Kambera.

Selain itu sajian sirih pinang mengalir sebagai tanda hormat kepada para tamu undangan. Tari-tarian tradisional ditampilkan sebagai unkapan rasa syukur, sementara lagu-lagu rohani dilantunkan dalam bahasa Kambera, menghadirkan nuansa spiritual yang khas dan membumi.

Dalam suka cita Syukur pemekaraan jemaat dan pethabisan pendeta ini, seekor kerbau dikurbankan sebagai simbol syukur dan pengorbanan—sebuah ritual adat yang masih dijaga hingga kini. Namun, Pendeta Theresia menghubungkan tradisi tersebut ke dalam khotbahnya. “Kerbau ini bukan sekadar ritual. Ini mengingatkan kita pada pengorbanan sejati: kesediaan untuk ‘mati’ bagi kepentingan sesama,” jelasnya.

Di akhir khotbahnya, Pendeta Theresia mengajak seluruh jemaat untuk berkomitmen membangun GKS Jemaat Kalu sebagai gereja yang peka terhadap penderitaan. “Jangan biarkan ada anggota yang sakit sendirian. Jangan biarkan ada yang lapar tanpa ada yang tahu. Itulah gereja yang Allah kehendaki,” pungkasnya.

Peresmian ini menjadi simbol bahwa gereja di Sumba Timur terus bertumbuh dengan tetap berakar pada budaya lokal. Namun yang paling membekas di hati jemaat bukanlah kemeriahan tari-tarian atau megahnya gedung baru, melainkan gema khotbah sulung yang mengajak semua orang, dari yang terkuat hingga yang terlemah, untuk menjadi satu tubuh yang saling merasakan.



GKS Kalu sebelumnya jadi bagian dari GKS Payeti, dengan sebutan GKS Payeti Cabang Kalu. Melalu proses panjang dan berliku, mulai dari pembahasan secara lokal di Cabang Kalu, kemudian diminta persetujuan GKS Payeti sebagai induk dan dibahas dalam kerapatan-kerapatan majelis. Setelah mendapat persetujuan dari Gereja Induk Payeti baru diajukan dalam persidangan Klasis dan seterusnya hingga tahap pemerkaran di 1 Mei 2026[HD]

Show Buttons
Hide Buttons