
MaxFM Waingapu, SUMBA – Masyarakat Desa Praingkareha, Kecamatan Tabundung, melalui perantara tokohnya, mendesak Pemerintah Daerah Sumba Timur dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk segera memperbaiki ruas jalan Praingkareha–Malahar yang mengalami kerusakan berat. Jalan yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi NTT itu kini dalam kondisi mengkhawatirkan.
Kerusakan terparah terjadi di tiga titik. Pada dua titik, badan jalan telah hilang dan hanya separuh aspal yang tersisa. Sementara di titik lain, deker atau tepian jalan telah runtuh, meninggalkan lubang besar di sisi Sungai.
Tokoh Masyarakat setempat, Agus Njurumbaha, menyampaikan kekhawatiran bahwa akses satu-satunya yang menghubungkan Praingkareha dengan Malahar berpotensi putus total jika hujan lebat turun pada puncak musim hujan (akhir Januari hingga Februari 2026), seperti yang diprakirakan BMKG NTT.
“Kondisi jalan saat ini sudah rusak berat di sedikitnya tiga tempat. Bila hujan banyak di Februari mendatang, kami khawatir ruas jalan ini akan putus, dan rakyat akan kesulitan menuju Ibu Kota Kecamatan Tabundung di Malahar, maupun ke Waingapu,” ujar Agus kepada para jurnalis, Sabtu (17 Januari 2026.
Permintaan masyarakat ini diperkuat oleh pernyataan tokoh agama setempat, Pendeta Yonathan Meta Yiwa dari Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Praingkareha. Ia membenarkan dan mendukung aspirasi yang disampaikan oleh Tomas Agus Njurumbaha.
Lebih lanjut, Pendeta Yonathan juga menyoroti titik rawan lain di ruas jalan menuju Waingapu. “Selain perbaikan ruas Praingkareha–Malahar, kami juga berharap titik longsor di jalan selepas Kantor Kecamatan Tabundung ke arah Waingapu diperhatikan. Material batuan besar menutupi sebagian badan jalan,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa kerusakan jalan ini berdampak langsung pada perekonomian warga. “Hasil bumi Tabundung sangat melimpah dan bisa dijual ke Waingapu. Namun, kondisi jalan yang rusak parah dari ibu kota kecamatan hingga dekat Pertigaan Tarimbang sangat memperlambat pergerakan kendaraan. Akibatnya, sangat sedikit hasil bumi yang bisa diangkut dan dijual,” tegasnya.
Berdasarkan pantauan maxfmwaingapu.com, selain potensi pertanian, kawasan ini juga menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa, seperti Air Terjun dan Danau Laputi yang memiliki air berwarna biru toska dan keunikan ekosistem lokal. Sayangnya, satu-satunya kendala utama adalah jalan rusak yang menghambat minat wisatawan untuk mengunjungi lokasi tersebut. [HD]








