Scroll to Top
Merawat Kehidupan: Merawat Hati
Posted by maxfm on 5th Juli 2026
Ibadah Minggu Dalam Rangkaian Sidang Sinode GKS ke-44 Dipimpin Pendeta Aprianus Jangga Uma, Minggu 7 Juli 2026 [Foto: MaxFM – Jubi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Ibadah Minggu, 5 Juli 2026 dalam rangakain Sidang Sinode GKS ke-44 dipimpin oleh Pendeta Aprianus Meta Jangga Uma pada dengan bacaan Alkitab terambil dari kitab Amsal 4 : 3 sebagi Nats pembimbing dan Khotbah diambil dari Mazmur 24 : 1-4 dan Amsal 4 : 3

Dalam khotbahnya, Pendeta Aprianus Jangga Uma menekankan bahwa pemulihan hidup sejati harus dimulai dari upaya menjaga kemurnian hati, karena segala tindakan dan perkataan manusia bersumber dari kondisi batinnya.

“Tanpa hati yang bersih dan damai, pelayanan terhadap keluarga maupun gereja dianggap akan sia-sia dan hanya menjadi beban bagi orang lain,” ungkap Pendeta Aprianus.



Berikut catatan khotbahnya :

Dari hati kembali ke hati, merawat kehidupan berarti dimulai dari merawat hati. Tidak dapat kita katakan merawat keluarga, mengasihikeluarga tettap luka batin belum tak kunjung usai, hati masih hancur, untuk melakukan sesuatu jika hatinya sedang tidak baik maka perkataan hanyalah penghakiman.

Jila hati tidak mau dibersihkan oleh Tuhan, maka keluar dari mulut bukan berkat melainkan kutuk.

Mengapa harus hati dulu?
Alkitab pengajaran Yesus selalu mengatakan yang utama dari hiduprnu, yaitu yang berasal dari dalaman. Yang berasal dari hati dan keluar lewat mulutmu. Merawat hati berarti merawat mezbah. Mezbah Allah ada dalam hati kita.Perjumpaan dengan Allah harus berangkat dari hati yang bersih. Misi Allah dimulai dari kekudusan hidup.

Sensus Divinitatis: Di dalam diri kita semua ada kesadaran akan kehadiran Allah, yang tidak bisa tergantikan apa pun itu.

Merawat kehidupan:
1. Dimulai dari kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehldupan ini
Allah yang menyapa kita melalui citaanNya, bagaimana tanaman bisa hldup kalau hati masih suntuk. Hati tidak damai, hati j auh dari kehidupan itu sendiri.

Fisik boleh poles tapi kehangatan hati tidak bisa ditipu, boleh bersandiwara di hadapan manusia, tapi merawat kehidupan tidak boleh bersandiwara jika hati tidak baik-baik saja.

Pertanyaannya:
Apakah kesadaran akan Tuhan benar-benar kita miliki dalam hidup inl.



2. Jika mau merawat kehidupan, maka miliki hati yang mau diJaga oleh batas kebenaran.

Semakin hari harus menjadi orang yang berhikmat, bukan saja bagi mereka yang bersekolah, tetapi keearifan itu ada bagi setiap generasi.

Merawat relasi: berarti ada kesetaraan, saling menghargai.

Teologi adalah perjumpaan, Allah berjumpa dengan manusia, Allah berjumpa dengan realitas (ekologi, teologi femlnis, teologi pembebasan, dll).

Dan ini ada dalam kebenaran, merawat kebenaran seperti menuangkan sesuatu bagi sekitar kita. Tetapi harus memikirkan apa yang mau dituangkan (kebenaran).

Berkomitmen merawat kehidupan: bereskan keluarga, bereskan gereja kita, bereskan kepemimpinan kita. Jika tidak berangkat dari hati yang bersih maka yang ada hanyalah kepentingan.



Kerja Lurus dan Tulus. Kalau hati tidak bersih, kalau kebenaran tidak benar-benar hidup dalam hati kita, hanyalah Kesia-siaan.

3. Hati yang dirawat adalah Haiti yang berdampak

Semua mengejar tujuan, tetapi tidak semuanya berdampak, ingin berkhotbah tetapi sudahkah berdampak? Ingin menjadi pendeta, benarkan sudah berdampak? Mau jadi Kristen, tetapi apakah kita berdampak?

Semua mau hadir dalam peribadahan, apakah suah berdampak? [MaxFM – Jubi]

Show Buttons
Hide Buttons