Scroll to Top
Khotbah Sulung Pendeta Melyard Tesa: Gereja Yang Merawat Kehidupan
Posted by maxfm on 1st Oktober 2025
Pentahbisan Melyard Tesa Maharani Rambu Mbela sebagai Pendeta Jemaat GKS Hibuwwundu [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Selasa 30 September 2025, dilaksanakan acara pemekaran Gereja Kristen Sumba (GKS) Lambanapu Cabang Hibuwundu menjadi jemaat mandiri GKS Hibuwundu dan pentahbisan Pendeta Melyard Tesa Maharani Rambu Mbelu. GKS Hibuwundu adalah jemaat mandiri ke-284 dan Pendeta Melyard tercatat sebagai pendeta ke-364 di GKS.

Berikut secara lengkap teks Khotbah Sulung Pendeta Melyard Tesa Maharani Rambu Mbelu, yang mengambil bacaan dari Kitab Kejadian 2:8-17, dengan Tema: Gereja Yang Merawat Kehidupan, Subtema: Menjadi Gereja Yang Bertanggungjawab Dalam Pelayanan Holistik

Baca juga:
Dipenuhi Nuansa Sumba, Pdt. Melyard Tesa Maharani Rambu Mbelu Ditahbiskan Jadi Pendeta GKS Hibuwundu

Saudara-saudari yang di berkati Tuhan, Menurut Aristoteles ada 3 gaya hidup yang harus diwujudkan seseorang dalam hidupnya yaitu: hidup yang kontemplatif yaitu gaya hidup yang merenung, hidup praksis yaitu melakonkan hidup sebagai buah renungan , dan hidup yang produktif yaitu gaya hidup yang mewujudkan buah itu dalam karya nyata. Ini berarti manusia akan merenungkan pekerjaannya dan mengerjakan apa yang menjadi perenungan dalam hidupnya. Hal ini terlihat dalam bacaan kita bahwa dalam proses penciptaan Allah tidak hanya sekedar berfirman, dalam ( kej 1) tapi dalam kejadian 2 secara khusus menekankan tentang penciptaan manusia, Allah tidak hanya berfirman tapi Allah bekerja dengan menghembuskan nafas ke dalam hidungnya disinilah Allah membentuk manusia ( ayat 7) yaitu Adam, Adam dalam bahasa Ibrani artinya “Adamah” yaitu debu tanah/ manusia.Dengan demikian manusia yang adalah ciptaan Allah yang juga merupakan segambar dan serupa dengan Allah itu berarti manusia harus produktif dalam melakukan segala tugas dan tanggungjawab yang berikan oleh Allah.

Iring-iringan Jemaat Memasuki Tempat Ibadah dengan Membawa Sayur Mayur Hasil Kebun Jemaat GKS Hibuwundu [Foto: Heinrich Dengi]




Baca juga:
Ketua KPU Benarkan Kejari Sumba Timur Geledah Kantor dan Sita Dokumen

Allah menempatkan manusia di taman Eden dengan tujuan agar manusia yang ciptakanNya menjadi manusia yang produktif. Taman Eden dibuat oleh Allah sebagai tempat Allah menyatakan kekuasaan-Nya yang Agung. Eden berarti sukacita dan kenikmatan wajar jika tempat ini di sebut sebagai sebuah kenikmatan karena dalam taman Eden tumbuh berbagai pohon dan buah yang terbaik untuk di makan dalam perjanjian lama Eden di gambarkan sebagai daerah yang sangat subur, air yang sangat melimpah dan ditumbuhi oleh pohon-pohon besar. Disinilah Allah menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia, dan segala hal yang harus diusahakan dan dipelihara oleh manusia. Dalam bacaan kita, Eden adalah taman, tempat Allah menumbuhkan berbagai tanaman. DI antara berbagai tumbuhan di Eden, Allah menempatkan dua pohon: pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Pohon kehidupan ditempatkan di tengah-tengah taman Itu (ay. 9), seolah-olah sebagai jantung dan jiwa taman. Selain Itu pula ke empat sungai yang ada di taman Eden juga menjadi sumber air yang memberi kehidupan bagi ciptaanNya serta ada emas yang menjadi symbol kekayaan yang disediakan Allah. Ke empat sungai ini adalah berkat dan kelimpahan yang Tuhan sediakan bagi manusia di taman Eden yaitu Sungai Pison, sungai Gihon, sungai Tigris dan Efrat dalam Alkitab ke empat sungai ini berasal dari satu sumber yaitu sungai yang keluar dari taman Eden, ini bisa diartikan sebagai kesatuan tujuan dan rencana Tuhan bagi manusia dan bumi. Sesudah manusia diciptakan maka, Allah selanjutnya telah memberi fasilitas tempat tinggal kepada manusia sebagai makhluk yang sangat dikasihiNya. Semua sarana disiapkan oleh Allah agar manusia mendiaminya merasa aman dan nyaman, sehingga tugas manusia adalah mengusahakan dan memelihara taman ini Karena kalau hubungan manusia dengan Tuhan aman maka hubungan dengan sesama ciptaan aman. Tetapi kalau hubungan manusia dengan Tuhan rusak maka hubungnya dengan sesama ciptaan rusak. Eden menjadi tempat kediaman yang cocok bagi manusia (Adam) untuk menjadi manusia yang produktif dengan bekerja, mengusahakan dan memelihara taman itu. Suatu pemberian dan karunia besar yang harus di pertanggungjawabkan dengan usaha yang besar dalam mengelola taman Eden dengan kata lain tugas manusia adalah bekerja atau memelihara tanah (Agriculture) adalah membangun bumi.

Nama GKS Hibuwundu di Depan Gedung Gereja [Foto: Heinrich Dengi]

Bapak/ ibu saudara/ I yang di berkati Tuhan
Allah memberikan tanggungjawab yang besar kepada Adam untuk merawat, memelihara taman Eden itu dengan baik. Kata merawat dalam bahasa Ibrani “Lishmor” yang berarti menjaga atau memelihara, ini adalah tanggungjawab besar yang diberikan Tuhan, tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi. Dalam ayat ini, “Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu,” (15-17) kata memelihara dalam Bahasa ibrani “Shamar” artinya manusia harus menjaga dan melindungi hal ini mancakup tindakan untuk tidak mencegah kerusakan atau ganguan, bukan hanya itu saja dalam memlihara manusia juga harus mengawasi dimana manusia bertanggungjawab untuk mengamati dan memastikan segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam konteks taman Eden “memelihara” dapat diartikan sebagai melindungi taman dari ancaman dari luar dan dalam, manusia harus mampu menjaga taman dari segala sesuatu yang dapat merusak keindahan alam dan kesuburannya, serta mampu memastikan kelestarian lingkungan dengan memelihara taman dimana manusia turut serta dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang telah diciptakan Allah. Dengan demikian, manusia diberikan tugas untuk mengelola dan menjaga taman Eden dengan segala isinya dalam ketaatan pada Allah. Allah memberi perintah sekaligus peringatan kepada manusia yang diberi tanggungjawab. Tentu saja dengan konsekuensi tertentu. Dimana manusia harus taat pada tugas yang diberikan Allah yaitu mengelola taman Eden (ayat 15,16) dan jika tidak taat maka akan menerima akibatnya yaitu kematian (ayat 17) Dengan demikian, melalui kedua pohon itu Allah memperlihatkan yang baik dan yang jahat, berkat dan kutuk (UI. 30:19). Dalam (10-14) Allah mau menunjukkan bahwa cara Tuhan memperlengkapi manusia sangatlah luarbiasa yaitu lewat sumber daya alam tapi dalam (9) Allah juga menunjukkan bahwa Dia tidak hanya memperlengkapi manusia dengan sumber daya alam tetapi ada akal yang harus dipakai untuk menjaga sumber daya alam dan potensi yang ada harus digunakan dengan baik. Perintah ini juga dapat menolong Adam untuk tidak salah dalam mengelola memelihara dan merawat taman Eden. Tuhan Allah memberikan perintah ini kepada manusia sejak awal sejarah umat manusia terikat dengan Allah melalui iman dan ketaatan kepada firman-Nya sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Perintah Allah ini juga diberikan kepada Adam sebagai ujian moral, perintah itu menempatkan di hadapannya suatu pilihan yang tegas untuk percaya dan taat, atau tidak percaya dan tidak menaati kehendak penciptanya.

Baca juga:
Kejari Sumba Timur Geledah Kantor KPU, Buru Bukti Korupsi Dana Hibah Pilkada 2024




Vicaris Melyard Tesa Maharani Rambu Mbelu Berjalan Memasuki Tenda Ibadah, di belakngnya berjalan Puluhan Pendeta Se GKS [Foto : Heinrich Dengi]

Bapak/ibu, sdara/I, ada ungkapan memilih taat berarti menikmati berkat, menolak taat berarti menolak berkat. Manusia dan taman Eden memberi makna betapa berkat melimpah Allah sediakan bagi manusia yang mau taat dalam menjalankan tanggungjawab yang diberikan oleh Allah. Baik gereja sebagai Lembaga (organisasi) maupun gereja sebagai pribadi (organisme) ketika Allah membentuk dan menempatkannya dalam dunia tentu dengan tujuan agar menjadi manusia yang mengalami sukacita dan kenikmatan sesuai dengan arti Eden itu sendiri. Namun kenyataan saat Ini baik gereja sebagai organisasi maupun gereja sebagai organisme tidak lagi mengalami sukacita dan kenikmatan yang sesungguhnya karena berbagai-bagai tantangan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek sosial, adanya sikap yang egois dan mementingkan kepentingan sendiri, tidak ada sikap yang peduli dengan lain. Semua tergantung siapa yang menguntungkan siapa, siapa yang suka siapa. Manusia saling menghancurkan, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, kekerasan verbal dan psikis, manusia seolah-olah melupakan tujuan kehadiran untuk menikmati sukacita sebaliknya menimbulkan dukacita dan kerugian. Dalam bidang ekonomi, berhadapan dengan tuntuan kebutuhan hidup. Ada kekayaan, ada aset yang perlu dikelola untuk meninggkatkan ekonomi tetapi tidak dimanfaatkan, dimana-mana orang terlilit hutang dan seolah-olah tidak ada jalan keluar. Dalam persoalan lingkungan hidup, semakin meresot mental asri dan bersih, orang membuang sampah sembarangan, pembakaran hutan dan lahan berpengaruh pada ekosistem. Mengapa, ada eksploitasi alam, ini di karenakan ada orang yang sering mementingkan dirinya, mementingkan kelompoknya. Kenapa hal itu terjadi! Ini karena manusia seringkali mementingkan ego, tapi Tuhan memberikan kita hikmat karena kita ini ciptaan Tuhan yang paling berbeda dari ciptaan lainnya, karena kita istimewa, maka keistimewaan itu kita pakai untuk mampu mengelola semua potensi yang ada pada kita untuk kemuliaan nama tuhan. Selain itu dunia berhadapan dengan perkembangan ilmu teknologi, tawaran yang baik maupun yang jahat, dampak positif maupun negatif, ada di depan mata. Era digital menjadi dunia untuk generasi-gernerasi Z yang tidak dapat dihindari, anak-anak lebih pilih hidup dengan Hp daripada dengan sesama. Waktu bersekutu, ikut katekesasi. lbadah-ibadah komisi , terbuang karena asyik dengan hp. Berhadapan dengan semua ini, gereja sebagai Lembaga maupun sebagai pribadi tidak hanya ada pada gaya hidup merenung seperti Aristoteles katanya, tetapi juga perlu memiliki gaya hidup produktif dengan menjadi Lembaga dan pribadi yang mau dan mampu untuk merawat kehidupan yang Allah percayakan. Karena itu ada beberapa poin penting yang akan menjadi perenungan dalam bacaan kita saat ini sebagai gereja yang merawat kehidupan:

1. Gereja yang merawat kehidupan adalah gereja yang bertanggungjawab kepada Allah pencipta dan pemilik hidup. Rich Warren dalam bukunya The Purpose Driven Life (Hidup yang digerak kan oleh tujuan menulis semua harus diawali dengan Allah. Gereja sebagai Lembaga maupun pribadi harus menyadari Ia ada hanya karena Allah menghendaki dan untuk tujuan Allah. Sehingga apapun yang kita miliki, yang menjadi tanggungjawab, profesi kita semuanya adalah dari Allah. Dalam kesadaran ini maka apapaun tugas dan tanggungjawab kita, dalam keluarga, gereja, masyarakat, semuanya perlu dilakukan dalam ketaatan kepada Tuhan. Melihat tanggungjawab sebagai kepercayaan dan anugerah Tuhan supaya kita menikmati hidup yang penuh sukacita. Gereja yang merawat kehidupan berarti bagaimana saya, bapa mama majelis dalam jabatan penetua dan Diaken kita hadir sebagai pribadi maupun organisasi untuk mampu merawat dan menggunakan segala hal untuk memperlengkapi semua pelayanan. Dalam bacaan saat ini mau mengajak saya dan bapa ibu penetua dan Diaken bahkan kita sebagai jemaat yang dipilih dan ditempatkan di GKS Hibuwundu bukan hanya ditempatkan begitu saja, bukan untuk gaya-gayaan, bukan untuk sekedar menikmati posisi yang ada, dan supaya orang-orang mengetahui bahwa kita menjaga jemaat yang mandiri tetapi kita hadir di GKS Hibuwundu untuk mengusahakan dan memelihara kehidupan jemaat secara bersama dengan cara kita hadir untuk merawat kehidupan ini secara bersama-sama dengan potensi yang ada dalam diri kita masing-masing serta bertanggungjawab kepada Allah.




Baca juga:
WALHI Kukuhkan Pimpinan Baru, Siap Lawan Kebijakan Ekstraktif Penyebab Krisis Ekologis

2. Gereja yang merawat kehidupan adalah gereja yang bertanggungjawab dalam relasi / hubungan dengan sesama. Di taman Eden ada manusia Adam dan Hawa, laki-laki dan perempuan yang sama-sama diberi kepercayaan untuk mengusahakan dan memelihara. Tanggungjawab ini hanya dapat dilakasanakan ketika ada relasi/ hubungan yang baik. Saling menghargai dan melengkapi antara sesama. Manusia dalam menjalani kehidupannya tentu harus mampu merawat kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik bahkan kehidupan bergereja secara bersama-sama dalam sikap yang melihat dalam diri setiap orang ada perintah serta peringatan Allah yang harus dilakukan dan ditaati. Ada potensi ditempat dimana setiap orang ditempatkan, ada sumber daya manusia yang harus dirawat dan dikembangkan. Baik gereja sebagai Lembaga maupun sebagai pribadi, perlu untuk merenung bersama, melakukan bersama, mengusahakan bersama serta memelihara persekutuan jemaat, mengusahakan dan memelihara gaya hidup produktif untuk pemuda remaja, yang mau untuk displin, taat pada Tuhan dan orangtua, tidak menyia-nyiakan potensi yang ada. Sebagai Lembaga gereja perlu memanfaatkan potensi / sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada, contoh untuk peningkatan ekonomi jemaat dengan mengelola hasil alam, ketrampilan, dan di hibuwundu sebagian jemaat ada pengerjaan tenun ikat dengan menggunakan pewarna alam, mengelola alam dengan taman sayur-sayuran, dalam hal ini gereja hadir dalam memperhatikan kehidupan jemaatnya secara menyeluruh dan memelihara hubungan dengan alam ciptaan dan hubungan dengan sesama yaitu melakukan pelayanan yang terbaik. Gereja juga harus mampu memberikan pelayanan secara utuh, yakni pemberitaan Injil yang dapat menjawab kebutuhan manusia secara jasmani dan rohani. Ketika melakukan pelayanan secara menyeluruh atau di sebut dengan pelayanan holistik tidak saja kita membangun hubungan dengan Tuhan atau mengajak jemaat untuk lebih dekat dengan Tuhan tetapi orientasi berpikir kita sebagai gereja juga harus bisa bahkan mampu mengarah pada pemenuhan kebutuhan jasmani dalam jemaat. Mengapa demikian, gereja dapat mengelola segala kekayaan yang ada pada jemaat dengan baik, dimana gereja mampu mengajak seluruh warga jemaat untuk memperhatikan kelestarian alam, , mengelola hasil bumi, pemberdayaan ekonomi jemaat yang mampu melihat kemampuan, bakat serta kerjasama antara pelayan dan jemaat untuk membangun gereja menjadi gereja yang mandiri dan mampu merawat kehidupan jemaatnya secara menyeluruh. Sama halnya dengan Adam, ketika Tuhan menempatkan ia di taman Eden untuk merawat dan memelihara taman itu dengan baik maka sebagai pelayan dan jemaat harus mampu membangun hubungan yang baik sehingga semua pelayanan yang di lakukan bersama dapat dilakukan dengan baik. Sebagai gereja juga harus mampu melihat potensi-potensi yang ada dalam jemaat untuk membangun gereja yang mandiri dan menjadi berkat yang luarbiasa bagi jemaat yang di layani.

Hasil Bumi berupa Padi Yang Baru Dipanen Jadi Latar Belakang Dekorasi di Tenda Ibadah Pendathbisan Pendeta [Foto: heinrich Dengi]

3. Gereja yang merawat kehidupan adalah gereja yang memelihara lingkungan hidup. Gereja tidak saja membawa jemaat untuk membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama tetapi juga dengan alam ciptaan Tuhan. Allah menganugerahkan segala hal yang baik dari alam ketika manusia bijak memanfaatkannya. Tetapi alam pun dapat menimbulkan dampak buruk ketika manusia tidak mengelolanya dengan baik. untuk itu menjaga kelestarian alam dengan penghijauan, tidak buang sampah sembarangan, menanam kembali atau reboisasi serta upaya pelestarian lingkungan lainnya menjadi bagian dari merawat kehidupan dimana gereja hadir lewat alam semesta. Gereja juga harus memperhatikan apa yang menjadi potensi dalam jemaat dan gereja juga harus menciptakan persekutuan yang erat dengan jemaat. Kita sebagai pelayan bahkan jemaat Tuhan yang akan menjadi jemaat yang mandiri kita hadir di tempat ini bukan sekedar menikmati segala sesuatu yang ada tapi dengan kesadaran bahwa kita akan menjalankan misi Allah di tempat ini secara bersama-sama dengan merawat segala alam yang ada, ini menjadi satu bukti bahwa kita sebagai pelayan dan jemaat Tuhan sudah mampu menjalankan misi Allah Dengan mengelola semua kekayaan alam yang ada dan mampu membangun kerjasama antara pelayan dan jemaat untuk kemuliaan Allah. Dengan demikian, gereja harus menjalankan misinya dengan baik agar kehidupan jemaat terus bersyukur dengan kehadiran gereja sebagai gereja yang mampu merawat, mengusahakan, dan memelihara.

Baca juga:
Kolaborasi Pemda, Akademisi Hingga Jurnalis, Polres Sumba Timur Kukuhkan Standar Kualitas Layanan



Manusia dan taman Eden mengajarkan saya dan jemaat Tuhan untuk mensyukuri bahwa Allah sang pencipta menjadikan kita dan membentuk kita menjadi manusia yang mewujudkan kehadiran kita dengan karya nyata, sebab kita ada hanya oleh Allah dan untuk tujuan Allah. Maka setiap persoalan menjadi tanggungjawab bersama untuk diselesaikan agar suasana Eden yang berarti sukacita dan kenikmatan itu dapat dialami oleh semua ciptaan Tuhan secara khusus kita yang dipilih dan ditempatkan di GKS Jemaat Hibuwundu. [MaxFMWgp]

Show Buttons
Hide Buttons