
MaxFM Waingapu, SUMBA – Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersiap menggelar Humba Sandalwood Festival sebuah perhelatan budaya besar, pada Sabtu, 12 Juli 2025 mendatang sejak pagi hingga malam hari. Festival yang masuk dalam agenda 100 kegiatan Kalender Kementerian Pariwisata ini menjanjikan suguhan spektakuler budaya dan alam Sumba Timur.
Baca juga:
Kejari Sumba Timur Usut Dugaan Korupsi di Perusahaan Daerah Pengelola Rumput Laut
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Sumba Timur, Oria A. Raramata menjelaskan, pembukaan resmi akan dilakukan oleh Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali sekitar jam 9 pagi di Tempat Wisata Swembak Matawai.
“Selepas pembukaan Humba Sandalwood Festival, penjunjung Festival bisa menikmati kegitan tenun ikat yang menghadirkan 50 Pengrajin Tenun Ikat Sumbat Timur, yang akan mendemonstrasikan proses pembuatan tenun ikat secara lengkap, dari awal hingga menjadi karya bernilai tinggi juga ada Pameran UMKM juga akan turut memeriahkan lokasi pembukaan,” jelas Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Sumba Timur, Oria A. Raramata kepada maxfmwaingapu.com, Selasa 8 Juli 2025 siang.
Baca juga:
7 Atlit Yang Menjuarai HUMBA Berlari 2025 Diberangkatkan ke Jakarta
Puncak keunikan festival tambah Oria A. Raramata, terletak pada Parade 50 Ekor Kuda Sandelwood beserta penunggangnya. Parade akan menyusuri rute sepanjang 4,1 kilometer dari Bukit Merdeka menuju Bukit Hiliwaku, Piara Kuku, Kecamatan Matawai La Pau. Yang istimewa, parade dirancang berlangsung pada sore hari, menjelang matahari terbenam.
“Kami sengaja memilih waktu sore untuk menciptakan pemandangan yang eksotis. Jalur yang sangat indah dipadukan dengan suasana sunset akan menambah pesona khas Humba Sandalwood Festival, sekaligus mencerminkan budaya masyarakat setempat,” jelas Oria A. Raramata
Momentum bersejarah akan tercipta saat dibentangkan Tenun Ikat Kaliuda sepanjang 104 meter, yang pernah tercatat dalam Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Pembentangan kain ikat raksasa ini menjadi simbol kebanggaan akan warisan budaya Sumba Timur.
Malam penutupan festival akan diisi dengan Pameran UMKM dan Festival Band sebagai hiburan bagi pengunjung dan masyarakat.
Kehadiran 50 pengrajin tenun ikat dan 50 ekor kuda sandelwood bukan tanpa makna. Angka ini merupakan bentuk peringatan terhadap sejarah tahun 1975, saat tenun ikat Sumba Timur pertama kali terekspos keluar daerah dan menembus pasar mancanegara. Kuda sandelwood sendiri merupakan cerminan kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba Timur.
“Melalui festival ini, kami berharap Humba Sandalwood Festival semakin dikenal luas. Lebih dari itu, tujuan utama kami adalah menjaga dan memelihara kelestarian budaya masyarakat Sumba Timur di tengah perkembangan zaman,” pungkas Oria Raramata.
Baca juga:
“Usai Sukses Gelar Seri I, Palapang Njara Humba Cup Siap Hadir Lebih Meriah di Agustus & Oktober”
Humba Sandalwood Festival siap menjadi magnet wisata dan ajang pelestarian budaya Sumba Timur yang tak terlupakan. [HD]








