Scroll to Top
Antara Sayuri, Gadis Pantai, dan Srintil, serta Kemerdekaan Perempuan Sesungguhnya
Posted by Evi Silvian Rospita on 22nd Desember 2020
| 1910 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan {Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Hidup saya memang tak seindah Nia Ramadhani atau Yuni Shara. Namun hidup saya boleh dibilang beruntung.

Saya sudah bisa membaca sebelum usia saya genap lima tahun dan hal ini membuat ibu saya langsung menyekolahkan saya ke sebuah SD swasta terbaik di kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.



Ayah dan ibu juga membebaskan saya untuk membaca apa saja yang saya sukai. Mereka juga membebaskan saya untuk bercita-cita menjadi apa saja, termasuk ketika saya dengan tiba-tiba mengatakan ingin jadi penyanyi dangdut seperti Elvy Sukaesih yang terkenal saat itu. Ibu saya selalu bilang, “Kamu boleh jadi apa saja nanti ketika dewasa, yang penting kamu selesaikan dulu sekolahmu.”

Ibu saya juga berkata, “Kamu perempuan, dan kamu harus sekolah agar nanti tidak menggantungkan harapanmu dan hidupmu pada laki-laki atau pada siapapun. Kamu akan bebas menjadi dirimu sendiri dan memutuskan mau kamu jadikan apa hidupmu nanti, kalau kamu punya pendidikan yang baik.”

Didikan ibu saya sungguh tegas. Jangan coba-coba minta bolos sekolah jika alasannya hanya karena mengalami sedikit pusing. Buat beliau pendidikan nomor satu, baik itu kepada saya maupun almarhum adik laki-laki saya.

Pilihan untuk melakukan apa yang disukai, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, serta memiliki Role Model yang dapat saya lihat, mungkin inilah yang tidak dimiliki oleh Sayuri tokoh utama dalam Novel “Memoir of a Geisha” karya Arthur Golden, atau Srintil tokoh utama dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, dan Gadis Pantai dalam novel “Gadis Pantai” karya Pramudya Ananta Toer.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons