Scroll to Top
Belum Saatnyakah: Teori Wallace Itu Ditinjau Kembali?
Posted by maxfm on 7th Mei 2019
| 2187 views
Replika Rahang Stegodon Sumbaensis [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM, Waingapu – Seperti halnya Darwin terkenal karena teori evolusinya yang menggemparkan itu, Alfred Russel Wallace (1823 – 1913) seorang ahli ilmu hewan Inggris terkenal karena garis khayalnya yang disebut Garis Wallace. Garis ini menjadi pemisah fauna Asia dan Australia.

Di Indonesia Garis Wallace melalui selat Lombok, selat Makasar, Laut Mindanau ke Taiwan. Di sebelah barat garis tersebut faunanya bersifat Asia (gajah, harimau, singa, kera dan orang hutan). Sedangkan di sebelah timur bersifat Australia (kuskus, kasuari, cendrawasih) (lihat Ensiklopedi Umum, Yayasan Kanisius 1977, hlm 1163 dan bandingkan juga dengan Wallace Line Die Geographische GrenzezwischenAsien und Australian verlӓuft ȍstlich von Bali dalam Helmuth Uhlig Bali Insel der lebenden, Gotter C. Bertelsmann, terbitan 1977 hlm 15).




Pelopor teori mimicry yang telah menjelajahi daerah Amazone, Malaysia, Indonesia dan telah menghasilkan beberapa buku itu berkesimpulan, bahwa bagian timur Indonesia mempunyai fauna yang sangat mirip dengan Australia.

Bertolak dari teori ini maka di Sulawesi, Maluku, Irian, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terdapat gajah, singa, harimau dan orang hutan.

Benarkah di NTT tidak pernah hidup gajah dan harimau? Di sini kami hanya menyinggung NTT, khususnya Sumba menyangkut kedua binatang ini (harimau dan gajah). Di Sumba Timur harimau disebut meorumba, artinya kucing raksasa yang buas. Suka menerkam manusia dan binatang lainnya. Kini nama binatang buas tersebut tinggal diabadikan dalam nama sebuah desa di Kecamatan Paberiwai, Meorumba, Kabupaten Sumba Timur.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons