Scroll to Top
Lomba Luluk untuk Siswa SMP, Langkah Strategis Pemerintah Regenerasi Wunang di Sumba Timur
Posted by maxfm on 20th Mei 2026
Lomba Luluk Tingkat SMP se Sumba Timur, Foto Tengah : Sekretaris Dinas Pariwisata dan Budaya Sumba Timur : Frida M. Yiwa, di Museum Umbu Hinda Kapita, Rabu 20 Mei 2026 [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengambil langkah konkret melestarikan tradisi lisan “Luluk” (atau Lawiti) dengan menggelar kompetisi budaya khusus bagi siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Langkah ini diambil sebagai respons atas mengkhawatirkannya kondisi regenerasi Wunang atau juru bicara adat yang kian kritis. Dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur, Luluk bukan sekadar tuturan biasa, melainkan media komunikasi formal yang mengatur tata cara dan hubungan antar keluarga dalam berbagai upacara adat, mulai dari pernikahan hingga kematian.



Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur Frida M. Yiwa kepada MaxFM di dalam museum Umbu Hina Kapita menjelaskan tradisi Luluk memiliki peran sentral, terutama dalam prosesi adat Sumba.

“Juru bicara adat atau Wunang menggunakan bahasa tutur khusus dengan tema spesifik untuk menjadi jembatan komunikasi antara kedua mempelai dan keluarganya. Lebih dari itu, Luluk telah diakui sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, sehingga kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat adat,” jelas Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Timur Frida Mariyanai Yiwa, Rabu, 20 Mei 2026.

Sayangnya kata dia, keberadaan para Wunang yang menguasai kedalaman bahasa dan tradisi ini saat ini sangat terbatas dan didominasi oleh generasi tua. Pemerintah menilai bahwa proses regenerasi sebelumnya tidak berjalan dengan baik, sehingga muncul kekhawatiran akan punahnya tradisi lisan yang juga erat kaitannya dengan aliran kepercayaan Merapu ini. Minimnya generasi muda yang tertarik dan mampu menggantikan peran para tetua menjadi alarm bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk segera bertindak.

Tantangan terbesar dalam regenerasi Wunang adalah keterbatasan sumber daya manusia, baik dari sisi calon penerus maupun tenaga pendidik. Pemerintah mengakui bahwa kurangnya Wunang senior yang bisa memberikan pendidikan dan pendampingan mengenai cara bertutur atau menyampaikan Luluk dengan benar menjadi hambatan utama. Selain itu, dominasi penggunaan bahasa Indonesia dalam keseharian generasi muda turut menggerus penguasaan bahasa Sumba yang merupakan unsur krusial dalam tradisi lisan ini.



Tak hanya itu, Frida Yiwa melanjutkan menjadi seorang Wunang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Kemampuan ini sering dianggap sebagai “karunia” atau talenta khusus yang tidak dimiliki semua anak, sehingga diperlukan upaya untuk menemukan mereka yang memiliki passion atau keturunan langsung dari para Wunang. Alhasil, meskipun pemerintah telah membuka ruang melalui lomba dan pekan budaya, tingkat partisipasi dari sekolah atau sanggar di berbagai kecamatan masih tergolong rendah. Faktor lain yang ditemukan adalah beberapa anak masih kesulitan membedakan konteks tutur adat, misalnya mencampurkan tema kematian ke dalam tema pernikahan.

Lomba Luluk Tingkat SMP se Sumba Timur, di Museum Umbu Hinda Kapita, Rabu 20 Mei 2026 [Foto: Heinrich Dengi]

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah tidak hanya mengandalkan lomba. Penguatan konservasi juga dilakukan melalui optimalisasi peran delapan sekolah adat yang ada di Sumba Timur. Di sekolah-sekolah adat ini, para penyuluh kepercayaan Merapu secara intensif mengajarkan Luluk kepada anak-anak sebagai bagian dari pengajaran tentang kehidupan dan identitas Marapu. Melalui integrasi antara pendidikan formal dan non-formal ini, para siswa dilatih secara khusus untuk menjadi calon-calon Wunang masa depan.

Kompetisi budaya bagi siswa SMP dalam rangkana acara Pekan Budaya Sumba Timur yang berlansung 19 – 23 mei 2026, dirancang sebagai ruang kreativitas untuk mengasah keterampilan berbicara adat sejak dini.

“Pemerintah berharap melalui ajang ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk berlatih dan menunjukkan bakat mereka tanpa tekanan. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, para juara lomba nantinya diharapkan bisa menjadi kader yang siap menggantikan peran para tetua dalam menjaga warisan leluhur, terutama dalam upacara pernikahan dan kematian,” ujarnya.



Frida Yiwa menyatakan bahwa langkah ini merupakan bentuk adaptasi di tengah perkembangan zaman. Pemerintah berkeyakinan bahwa integrasi antara pendidikan formal di sekolah dan perlombaan seni budaya dapat mencegah kepunahan identitas lokal Sumba. Meskipun masih banyak pekerjaan rumah, antusiasme beberapa siswa yang mulai berani tampil menjadi angin segar bagi kelangsungan tradisi Luluk ke depannya.

Dengan semangat kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, serta delapan sekolah adat, upaya regenerasi Wunang di Sumba Timur terus digenjot. Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mendukung gerakan pelestarian ini. Sebab, hilangnya seorang Wunang bukan hanya kehilangan seorang juru bicara, tetapi juga putusnya tali penghubung antara generasi sekarang dengan kebijaksanaan leluhur yang terkandung dalam setiap untaian Luluk. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons