Scroll to Top
Dampak Sosial-Ekonomi Pemilukada SBD
Posted by maxfm on 25th Oktober 2013
| 1227 views
Frans Wora Hebi - Senang Menulis, tinggal di Waingapu
Frans Wora Hebi – Senang Menulis, tinggal di Waingapu

MaxFM, Waingapu РAda peribahasa yang mengatakan, Gajah sama gajah berperang, pelanduk mati di tengah-tengah. Kiranya peribahasa ini masih sitzt im Leben, masih aktual bila dikaitkan dengan Pemilukada Sumba Barat Daya (SBD) beberapa waktu lalu. Antara kubuh MDT dengan Konco. Merasa tidak puas salah satu kandidat mengaduh ke Mahkamah Konstitusi (MK) sehingga sidang digelar pada 19 Agustus 2013 dengan surat No. 103/PHPU.D-XI/2013. Karena berita simapang-siur tentang siapa yang menang, masyarakat kedua kubuh menjadi tidak tidak sabaran, menjadi brutal. Mereka saling membakar kampung. Menurut Martinus Rehi Ndoda asal Desa Bukambero, Kecamatan Kodi Utara, ada 9 kampung (78 buah rumah) pendukung Konco yang tinggal di Bukambero perbatasan Waijewa Barat dan Loura dibajkar massa. Di pihak MDT, 3 kampung (20-an rumah hangus terbakar. Korban nyawa yang diketahui pasti 2 orang dri 2 kubuh masing-masing Bora Mali (Bukambero) dan Tonda Raya (Waijewa). Untuk diketahui Kecamatan Waijewa Barat yang berbatasa dengan Kecamatan Kodi Utara masuk wilayah SBD. Sebagian masyarakatnya pendukung MDT dan sebagian lagi Konco.

Tidak terbilang harta benda yang hangus, sebagian dijarah seperti ayam, anjing, babi, kerbau, sapi, kuda, motor, perhiasan emas, uang. Baik itu dijarah oleh kubuh lawan maupun sesama kubuh yang tidak punya perikemanusiaan yang memanfaatkan situasi. Kini masyarakat yang terkena musibah terpaksa mengungsi ke kampung lain sambil menunggu nsituasi kondusif. Ada juga yang membuat kemah di atas puing-puing rumag mereka yang sudah hangus terbakar. Menurut Martinus, hingga saat ini para korban baru sebatas menerima bantuan beras 10 kg/KK, alat-alat rumah tangga, pakaian termasuk seragam sekolah. Untuk bantuan seng masih menunggu.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons