Scroll to Top
IPAL Dua Tahap dan Water Monitoring System: Komitmen Lingkungan Proyek Tambak Udang Raksasa
Posted by maxfm on 11th Juli 2026
Kolase Foto : Alat-alat berat sedang membuat kanal besar untuk dilewat pipa IPAL Klaster 4 Tambak Udang Rasksasa Sumba Timur dan Project Construction Manager PT Adhi Karya Abdul Kadir [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Pembangunan kawasan tambak udang raksasa di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, terus menunjukkan progres signifikan. Di balik megaproyek senilai Rp7,2 triliun yang menempati lahan sekitar 2.150 hektare ini , perhatian utama tertuju pada sistem pengelolaan limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dirancang dengan standar internasional untuk menjamin kelestarian lingkungan .



Project Construction Manager PT Adhi Karya Abdul Kadir di ruang kerjanya kepada Radio MaxFM Waingapu menjelaskan sistem pengolahan limbah di tambak udang modern ini dirancang melalui dua tingkatan pengolahan untuk memastikan air yang dikembalikan ke lingkungan benar-benar bersih.

“Air limbah dari setiap kelompok kolam akan diolah terlebih dahulu di IPAL kluster, kemudian dialirkan ke IPAL utama seluas 60 hektare sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan,” jelas Project Construction Manager PT Adhi Karya Abdul Kadir.

Abdul Kadir bilang, seluruh parameter pengolahan limbah harus memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta peraturan menteri terbaru.

“Karena proyek ini didanai oleh bantuan luar negeri (sekitar 85%), persyaratan lingkungan yang diterapkan sangat tinggi dan dipantau secara ketat oleh pihak pemberi pinjaman,” tegas Abdul Kadir.



Abdulkair menambahkan limbah yang dihasilkan, yang utamanya berupa sisa pakan, akan melalui proses pengolahan lumpur terlebih dahulu. Hal ini memastikan bahwa air yang dialirkan kembali tetap bersih dari zat-zat yang dapat mencemari, meskipun air tersebut tetap bersifat asin.

Untuk memastikan tidak terjadi pencemaran, akan dipasang sistem pemantauan air (water monitoring system) di jalur pengaliran limbah. Sistem ini berfungsi untuk mendeteksi secara dini jika ada parameter yang berpotensi merusak lingkungan sekitar

Air yang telah melalui proses pembersihan total akan dialirkan melalui sungai alam untuk menuju kembali ke laut. Dengan teknologi ini, pihaknya memastikan bahwa air yang keluar dari kawasan tambak benar-benar sudah bersih dan tidak akan mencemari lingkungan.



Diberitakan sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa proyek ini menjadi bagian dari upaya memperbaiki kelemahan mendasar sektor budidaya udang nasional sekaligus menjaga stabilitas pasokan udang untuk pasar global dan pihaknya menargetkan uji coba dua klaster pertama pada tahun 2027. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons