
MaxFM Waingapu, SUMBA – Ancaman gagal tanam dan penurunan produksi pangan menghantui Kabupaten Sumba Timur. Penyebabnya adalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar yang melumpuhkan aktivitas pengolahan lahan pertanian di kawasan Lewa Raya, yang dikenal sebagai salah satu lumbung beras utama wilayah itu.
Baca juga:
Darurat Solar! Petani Lewa Raya Ancam Segel Jalan Jika Pertamina Tak Penuhi Permintaan
Ketua Asosiasi Petani Lewa Raya, Yohanis Umbu Tunggu Djama, dalam audiensi di DPRD Sumba Timur, Rabu 3 Desember 2025, memberikan ultimatum tegas. Jika Pertamina Waingapu tidak memenuhi permintaan 380.000 liter solar dalam waktu 3×24 jam (hingga 5 Desember 2025), petani akan turun ke jalan dan menutup ruas jalan antar kabupaten. “Ini situasi darurat. Sawah kami tidak bisa digarap,” tegasnya.
Krisis ini berpotensi menggagalkan musim tanam. Dari total kebutuhan 485.650 liter solar untuk menggarap 8.830 hektar lahan di empat kecamatan, petani hanya mendapat sekitar 104.000 liter. Itu pun dikeluhkan telah beredar di tangan pengecer dengan harga tinggi, tidak terjangkau petani. Akibatnya, ribuan hektar lahan masih terbengkalai di tengah musim hujan yang sudah berlangsung sejak November.
Baca juga:
Terombang-ambing di Selat Rote, 6 Nyawa Nelayan Diselamatkan Tim SAR
“Rumput di sawah saya sudah setinggi pinggang orang dewasa,” ujar Mama Chris, petani dari Lai Hau, Kecamatan Lewa Tidahu, dengan suara lirih. Ia yang sudah siap menggarap 4 hektar sawah terpaksa menganggurkan lahannya karena tidak ada solar untuk traktor. “Hujan sudah ada, niat sudah ada, tapi tenaga traktor tidak ada,” tambahnya.
Baca juga:
Pemkab Sumba Timur Intens Bangun Komunikasi dengan Pemerintah Pusat untuk Peningkatan Infrastruktur
Mama Chris memperingatkan dampak berantai yang lebih besar. “Kalau ribuan hektar ini tidak dikerjakan, atau terlambat, dampaknya akan besar untuk Sumba Timur. Lewa Raya adalah sumber beras kami.” Keterlambatan pengolahan lahan bukan hanya berisiko menurunkan luas tanam, tetapi juga menggeser jadwal tanam dan berpotensi mengurangi produktivitas serta meningkatkan serangan hama.
Baca juga:
Hanya Bebas Dua Hari, Sekretaris KPU Sumba Timur Kembali Ditahan
Audiensi yang dihadiri Wakil Bupati Yonathan Hani dan dipimpin pimpinan DPRD ini menjadi upaya terakhir untuk mencegah krisis yang lebih luas. Tenggat waktu hingga Jumat, 5 Desember 2025, menjadi penentu. Nasib musim tanam dan ketahanan pangan puluhan ribu keluarga petani, serta stok beras Sumba Timur, kini tergantung pada respons cepat Pertamina Waingapu dalam mengatasi darurat solar ini. [HD]








