
MaxFM Waingapu, SUMBA – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memastikan seluruh pesertanya mendapatkan perlindungan layanan kesehatan tanpa terkecuali. Andi Rangga Kamading (33), warga Desa Pambotanjara, Kabupaten Sumba Timur, merasakan langsung manfaatnya. Sebagai pengemudi, Andi menekankan pentingnya JKN dalam melindungi masyarakat dari risiko finansial akibat penyakit serius.
Baca juga:
Yuliana Rasakan Manfaat Jaminan Kesehatan
Berprofesi sebagai seorang pengemudi menuntut Andi untuk duduk berjam-jam di belakang kemudi. Awalnya, ia merasa sehat-sehat saja, hingga suatu ketika ia menyadari muncul benjolan kecil di bagian pangkal pahanya.
“Awalnya saya biarkan saja, saya pikir itu hanya bengkak biasa atau akibat pegal karena sering duduk lama. Seiring waktu, benjolannya tidak kunjung menghilang malah justru semakin membesar dan kadang rasanya sangat nyeri,” ucap Andi.
Rasa was-was itu mendorong Andi untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyampaikan bahwa benjolan tersebut ternyata adalah tumor ganas dan harus segera ditangani.
Baca juga:
Tunggakan Retribusi Kendaraan Dinas ASN Tembus Rp300 Juta, BAPENDA: Alasan Klasik Lupa Bayar
Mendengar ucapan dokter itu, rasa cemas bercampur khawatir menyelimuti Andi. Ia sadar bahwa pengobatan yang ia harus jalani tentu membutuhkan biaya sangat besar, apalagi jika harus sampai operasi.
“Sebagai pengemudi, penghasilan saya cukup pas-pasan hanya untuk makan sehari-hari saya dan keluarga. Waktu mendengar dokter bilang harus operasi, saya langsung kepikiran soal biaya. Dari mana saya bisa cari uang sebanyak itu? belum lagi untuk obat-obatan, sampai biaya rawat inap di rumah sakit,” ujar Andi.
Namun, di tengah rasa cemas itu, Andi teringat bahwa ia memiliki kartu JKN. Kartu yang selama ini ia anggap hanya sekadar kartu saja ternyata menjadi penolong di saat yang paling dibutuhkan. Setelah mendapat rujukan, Andi menjalani pengobatan intensif di rumah sakit rujukan di Kota Kupang.
Ia sampai harus melalui dua kali operasi besar untuk mengangkat sel tumornya. Seluruh biaya pengobatan, termasuk tindakan medis, obat-obatan hingga kamar inap seluruhnya ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.
Baca juga:
Vicaris Theresia Ella Terpilih Jadi Calon Pendeta Untuk GKS Kalu
“Biaya operasi tumor itu bukan kecil. Mungkin bisa mencapai belasan juta. Kalau tidak ada JKN, saya pasti pasrah dengan keadaan, pasti bingung mencari uang untuk biaya operasi. Tapi karena ada program ini, saya bisa berjuang untuk sembuh,” ungkap Andi penuh rasa syukur.
Tidak hanya pada saat operasi, setelah prosedur selesai pun Andi masih harus menjalani kontrol rutin setiap bulan untuk memastikan kondisi kesehatannya.
“Sangat lega semua biayanya ditanggung, saya hanya perlu fokus untuk sembuh, tidak perlu pusing lagi cari pinjaman,” tuturnya.
Dari pengalamannya tersebut membuat Andi semakin paham pentingnya terdaftar sebagai peserta JKN dan selalu menjaga keaktifan kepesertaan. Menurutnya, banyak orang masih berpikir bahwa program ini hanya berguna ketika sakit, padahal lebih dari itu, JKN memberikan rasa aman dan kepastian bahwa di saat kondisi gangguan kesehatan tak terduga menimpa, ada perlindungan yang bisa diandalkan.
“Kalau dipikir-pikir, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidup saya tanpa JKN. Sekarang saya sudah mulai bisa kembali beraktivitas seperti biasa, semua karena adanya perlindungan dari JKN,” ucapnya.
Baca juga:
Lima Tuntutan GARDA AMAN untuk Penyelesaian Konflik Tanah Malai Kababa
Menutup perbincangan, Andi mengungkapkan harapannya akan keberlangsungan Program JKN. Menurutnya, Program JKN bukan hanya soal jaminan kesehatan, tetapi juga tentang harapan, kesempatan kedua, dan ketenangan hidup bagi masyarakat dari berbagai lapisan khususnya untuk memastikan tidak ada masyarakat Indonesia yang terkendala dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
“Jangan tunggu sakit dulu baru daftar. Saya sudah merasakan sendiri, JKN bisa jadi penyelamat hidup. Saya berharap semua peserta JKN selalu aktif kartunya, karena kita tidak pernah tahu kapan sakit itu datang,” pesan Andi. (ok/vd)








