Scroll to Top
Ragam Makna Kata
Posted by maxfm on 13th September 2022
| 583 views
Flayer Promo Acara Sekolah di Radio

MaxFM WAINGAPU – Ada yang disebut sinonim. Artinya sebuah kata searti dengan kata-kata yang lain. Misalnya kata mati bersinonim dengan kata-kata meninggal, wafat, mangkat, berpulang, tewas, gugur, hilang nyawa, sudah tiada. Sedangkan kata mati itu sendiri ada ragamnya seperti mati konyol, mati mampus, mati lemas, mati suri. Termasuk juga kiasan, misalnya mati angin, mati minat, mati modal, dsb.




Homonim, kata yang sama penulisannya dan pelafalannya tapi berbeda makna. Contoh, kali, kikir, genting, madu.

Homograf, kata yang penulisannya sama tapi pelafalannya berbeda seperti teras, perang, mereka.

Homofon, kata yang berbeda penulisan tapi pelafalan sama, seperti, bang – bank, buruh – buru, bawah – bawa.

Ada pula kata yang meluas makna. Kata ibu dulu berarti orang tua kandung yang wanita. Sekarang semua wanita yang karena jabatan, pangkkat, atau yang dihormati disebut ibu.




Bapa, dulu orang tua kandung yang laki-laki. Sekarang semua laki-laki karena jabatan, pangkat, atau siapa saja dapat disapa bapa. Kecuali kata ayah yang masih bertahan.
Saudara, dari kata sa (esa) dan udara, artinya berasal dari satu perut, satu rahim. Sekarang siapa saja bisa dipanggil saudara, saudari.

Berlayar, dulu mengharungi lautan dengan menggunakan perahu layar. Sekarang orang menggunakan perahu motor, kapal laut walaupun tidak memakai layar tetap disebut berlayar.

Putra dan putri, pu dari kata puj, dan tra, artinya yang dipuji. Sekarang setiap anak-laki disebut putra, dan setiap anak wanita disebut putri. Perlu pemahaman, akhiran -a dan -I sebagai pembeda jenis kelamin tidak asli dalam Bahasa Indonesia. Ini diadopsi dari kata deva-devi, raksasa-raksasi Bahasa Sansekerta. Dan pemakaiannya dalam Bahasa Indonesia terbatas. Hanya pada kata-kata pemuda-pemudi, saudara-saudari, siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi. Jadi tidak bisa bapa-bapi, opa-opi, oma-omi.

Kursi, dulu perangkat dari kayu atau besi berkaki empat sebagai tempat duduk. Sekarang berarti jabatan, kedudukan.

Makna kata yang menyempit. Kata gerombolan, dulu berarti kelompok atau rombongan orang pada umumnya. Sekarang kata gerombolan hanya khusus pada kelompok penjahat, pengacau, perampok.



Sarjana, dari kata sajjana. Dulu artinya orang-orang pandai, cerdik pada umumnya. Sekarang hanya orang-orang lulusan perguruan tinggi yang menyandang titel yang disebut sarjana.

Ameliorasi

Ameliorasi berarti mengganti kata-kata yang lama dengan kata-kata yang baru karena dianggap lebih baik, lebih halus. Kata isteri lebih baik dari kata bini. Sama halnya dengan kata menikah dengan kawin, melahirkan dengan beranak, mengandung dengan bunting, pengawas dengan mandur, tuna susila dengan pelacur, lembaga pemasyarakatan dengan penjara, nara pidana dengan orang jahat, pramugari dengan pelayan, sekretaris dengan juru tulis.

Peyorasi

Peyorasi berarti perubahan makna kata menjadi lebih buruk dari makna sebelumnya. Kata kabur lebih buruk dari kata lari. Bos lebih buruk dari pemimpin atau kepala. Dulu kata bos mengandung arti pemimpin preman, pemimpin penjahat. Tapi sekarang justeru kata ini yang selalu dipakai.

Sinestesia

Sinestesia adalah perubahan makna kata akibat pertukaran tanggap antara dua indera yang berbeda. Misalnya, Lukisan itu sedap dipandang mata. Di sini yang dipertukarkan adalah indera penciuman (hidung) dengan indera penglihatan (mata).



Penampilan gadis itu manis sekali. Yang dipertukarkan indera penglihatan (mata) dengan indera pengecap (lidah).

Kata itu arbitrer

Arbitrer artinya kebebasan kata untuk mengungkapkan isi pikiran yang hanya satu tapi dalam bentuk kata yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa di dunia yang jumlahnya 7000 menurut para ahli.



Contoh: Untuk mengungkapkan nama binatang berkaki empat yang biasa menggonggong, orang Indonesia menyebutnya anjing, orang Inggris, dog, orang Jerman, Hund, orang Jepang, ino, orang Jawa, asu, orang Ende, lako, orang Sabu, ngaka, orang Sumba Timur, ahu sama dengan orang Anakalang, Sumba Tengah, orang Sumba Barat, Sumba Barat Daya, bongga, bangga.

[Penulis : Frans Wora Hebi – Tulisan ini sudah dibawakan di Radio Max 96.9FM dalam acara Sekolah di Radio, Senin, 12 September 2022 ]

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons