
MaxFM, Waingapu – Program unggulan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terus digalakkan saat ini adalah program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) kemitraan. Program ini diyakini dapat meningkatkan ekonomi petani dengan minimal satu hekta are bagi setiap petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi NTT, Ir. Lecky Frederich Koli menyampaikan hal ini melalui sambungan telepon langsung dengan Radio Max 96.9 FM Waingapu dalam acara “Warga Bicara”. Dijelaskannya program TJPS Kemitraan ini disebut sebagai kemitraan karena tidak hanya dibiayai oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT, namun juga dibiayai oleh berbagai mitra perbankan hingga perusahaan yang akan membeli jagung hasil petani.
Menurutnya program ini sudah dalam proses pelaksanaan di Kabupaten Manggarai Timur dan Sikka yang akan mulai penanaman pada Januari 2022 mendatang dengan luasan lahan yang disediakan seluas 1.500 hekta are (Ha) dan akan terus bertambah di kabupaten/kota lainnya di NTT.
“Manggarai Timur ada 500 hekta are yang siap tanam sedangkan di Sikka ada 1.000 hekta are dan itu sudah dibiayai oleh Bank NTT,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTT sendiri menurut Lecky telah menyediakan alat-alat pertanian yang memadai untuk membantu petani dalam mengolah lahan, menanam jagung hingga panen jagung menggunakan mesin sehingga akan terjadi efektivitas waktu yang sangat baik bagi petani.
"Bibit, pupuk dan pestisida untuk pengendalian hama juga kita siapkan yang terbaik bagi petani," jelasnya.
Karenanya mantan pelaksana tugas Kepala Bappeda Provinsi NTT ini mengajak semua masyarakat petani di Provinsi NTT untuk ikut mengambil bagian dalam program ini, karena pemerintah menargetkan 60 ribu hekta are lahan pertanian yang ditanami jagung pada tahun 2022 mendatang, dengan jaminan semua jagung akan dibeli oleh obsteker dengan harga yang sudah disepakati dengan pemerintah yakni paling rendah Rp 3.200/kilo gram.

Para petani juga diminta untuk tidak khawatir dengan kemungkinan banyaknya jagung yang dipanen dalam satu waktu. Karena sampai dengan saat ini kebutuhan jagung nasional masih dipenuhi dengan impor jagung dari berbagai negara. Karenanya dipastikannya semua jagung hasil petani NTT akan dibeli oleh obsteker.
Lecky menambahkan hasil dari jualan jagung tersebut petani selain memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari, dapat juga membeli ternak untuk dipelihara di rumah, mulai dari ternak unggas, ternak kecil hingga ternak besar seperti sapi dan lainnya. Karenanya ternak ini dapat memenuhi kebutuhan petani disaat membutuhkan dan tidak perlu lagi petani harus sibuk mencari ternak saat membutuhkan.
"TJPS kemitraan ini juga bertujuan untuk mengatasi masalah kesehatan, dan ekonomi yang masih menjadi permasalahan di NTT," tandasnya.(TIM)








