
MaxFM, Waingapu – Pemilihan benih jagung yang akan ditanam pada lahan pertanian jagung yang disiapkan petani adalah kunci untuk keberhasilan dalam pertanian jagung. Selain itu pengolahan lahan, jarak tanam hingga pemberian pupuk juga ikut menentukan maksimal tidaknya hasil panen nantinya.
Hal ini diungkapkan I Ketut Teron salah satu petani dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam testimoninya sebagai petani jagung sekitar lima tahun terakhir dalam talkshow Radio Max 96.9FM – Waingapu didukung oleh Pelayanan Indonesia Timur (PIT) yang juga disiarkan melalui media zoom dan siaran langsung youtube Rabu (08/12/2021). Dijelaskannya saat ini pertanian jagung sudah menjadi idola masyarakat NTB karena terbukti sangat berdampak dalam peningkatan ekonomi masyarakat petani.

“Beberapa tahun lalu daerah saya masih rawan kejahatan karena kesulitan ekonomi. Tetapi sekarang sudah hampir tidak ada lagi kejahatan,” ungkapnya.
Dijelaskannya karena daerah NTB juga merupakan daerah dengan kontur tanah dan juga curah hujan yang terbatas seperti di NTT pada umumnya sehingga para petani disana harus pintar-pintar memilih benih yang akan ditanam di lahan pertanian mereka agar hasilnya tidak mengecewakan mereka.
“Kami pakai bibit jagung premium yang berasal dari pabrik, karena kami ingin mendapatkan hasil yang optimal,” ungkapnya.
Menurut Ketut dengan menanam bibit premium dari pabrik dengan ukuran satu dus sebanyak 20 kilo gram benih, mereka mampu menghasilkan 10 hingga 12 ton jagung saat panen. Karena itu walau bibit nya cukup mahal mereka tetap memilih bibit premium agar bisa mendapatkan hasil panen yang maksimal.
Selain pemilihan bibit, Ketut menambahkan hal lain yang juga cukup penting untuk diperhatikan adalah lahan pertanian yang mau ditanami jagung harus dipastikan bersih dari rumput saat benih hendak ditanam agar pertumbuhan jagung sejak awal tidak terganggu dengan adanya rumput.
“Untuk pestisida ada jenis pestisida yang hanya membunuh rumput sedangkan jagung tidak, sehingga kami menggunakannya selama ini,” jelas Ketut.

Ketut mengaku dirinya sudah beberapa kali ke Sumba Timur dan menurutnya kontur tanah di Sumba Timur sama dengan kontur tanah yang ada di NTB, bahkan menurutnya curah hujan di Sumba Timur lebih banyak dibandingkan di wilayahnya. Karena itu petani jagung di Sumba Timur dapat menanam lebih dari satu kali setiap tahun.
“Kami di NTB bahkan di lereng bukit juga kami tanami jagung dan hasilnya langsung diambil pembeli dari kebun kami,” jelasnya.
Menurut Ketut kesempatan pertanian jagung harus bisa dimanfaatkan oleh petani di Sumba Timur dan NTT umumnya karena sampai dengan saat ini Indonesia secara nasional masih selalu mengimpor jagung setiap tahunnya dari negara lain. Padahal masih banyak lahan pertanian yang belum dimanfaatkan petani di NTT untuk menanam.
“Kalau petani di NTT mau ikut menanam jahung sebanyak-banyaknya akan sangat berdampak terhadap ekonomi masyarakat NTT dan bisa mengurangi jumlah jagung yang diimpor dari luar negeri setiap tahun,” harapnya.(TIM)








