Scroll to Top
Pulau Sumba Jadi Kontributor Daerah Merah Malaria di NTT
Posted by maxfm on 7th Desember 2020
| 672 views
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, Dokter Chrisnawan Tri Haryantana Memberikan Keterangan Saat Jumpa Pers, Sabtu (16/05/2020) di Kantor Dinas Kesehatan Sumba Timur [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFm, Waingapu – Pulau Sumba saat ini menjadi kontributor malaria tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya tiga dari empat kabupaten di Pulau Sumba masih berada di zona merah daerah endemik malaria. Tiga kabupaten ini adalah Kabupaten Sumba Timur, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, dr. Chrisnawan Tri Haryantana menyampaikan hal ini melalui sambungan telepon dengan Radio MaxFm Waingapu dalam acara Warga Bicara, Kamis (3/12/2020). Dijelaskannya, semua pihak harus ikut berkontribusi untuk mengeliminasi kasus malaria di Pulau Sumba, agar target eliminasi malaria di NTT tahun 2023 mendatang.

Menurutnya sampai dengan saat ini, di Provinsi NTT, hanya terdapat tiga kabupaten yang masih berada dalam zona merah daerah endemik malaria dan semuanya ada di Pulau Sumba yakni Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Timur. Sedangkan Kabupaten Sumba Tengah sudah berada di zona kuning endemik malaria.

“Pulau Sumba kontributor tertinggi daerah endemik malaria, sementara Provinsi NTT sendiri adalah kontributor kedua secara nasional setelah Papua,” jelasnya.



Ayah dua putri ini menegaskan, memasuki masa peralihan musim dari kemarau ke penghujan saat ini, masyarakat dihimbau untuk ikut memberantas pertumbuhan jentik nyamuk di lingkungan masing-masing, dengan melakukan langkah 3M+ yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Ditegaskannya pemberantasan datang nyamuk (PSN) dengan melaksanakan 3M+ ini penting di saat pergantian musim seperti saat ini, mengingat curah hujan yang sudah mulai meningkat dapat menghasilkan banyak tempat penampungan air, sehingga tidak hanya nyamuk malaria yang dapat berkembang biak, melainkan nyamuk aedes aegepty penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) juga dapat berkembang biak dan bisa mengancam nyawa masyarakat.




“Kasus DBD kita untuk tahun akhir tahun 2020 hingga saat ini sebanyak 146 kasus tanpa kematian. Namun kita tidak boleh lengah, agar jangan sampai situasi KLB (Kejadian Luar Biasa) tahun 2019 kembali terulang,” tegasnya.

Juru bicara Satuan Tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Sumba Timur ini juga menghimbau kepada masyarakat Sumba Timur untuk terus taat dalam menjalankan protokol kesehatan Covid-19 saat ini. Pasalnya hingga saat ini peningkatan kasus Covid-19 secara nasional, maupun daerah-daerah lain di Provinsi NTT, bahkan di Pulau Sumba juga terus meningkat dari hari ke hari.

“Kalau kita sayang diri kita, marilah kita lakukan protokol kesehatan. Karena dengan melaksanakan protokol kesehatan, kita tidak hanya menyayangi diri kita, tetapi juga keluarga dan masyarakat Sumba Timur,” pintanya.



Untuk diketahui, di Kabupaten Sumba Timur sesuai dengan pembaruan data terakhir, Minggu (6/12/2020), terjadi penambahan satu kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur, sehingga jumlah kasusnya saat ini menjadi 33 kasus, dengan rincian 31 sembuh, satu dirawat, dan 30 lainnya sudah dinyatakan sembuh.(TIM).

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons