Scroll to Top
Sindir – Menyindir
Posted by maxfm on 15th Juli 2014
| 7449 views
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM

MaxFM, Waingapu – “Nenek genit!”, kata orang-orang menjuluki seorang ibu yang usianya mendekati nenek-nenek tapi dandanannya wah…wah. “Rajin singgah, o…o”, nyeletuk seseorang melihat Tinus beberapa kali mampir ke rumah seorang janda muda. “Datangnya tepat waktu”, kata ketua panitia kepada salah satu undangan yang sebenarnya sudah lambat setengah jam. Dan masih banyak kata sindiran yang kita obral stiap hari.

Mungkin sekali orang yang mengeluarkan kata-kata sindiran itu bermaksud baik untuk merubah sikap atau tingkah laku seseorang yang tidak tepat. Risikonya jika orang yang dituju tidak senang kalau orang lain turut campur dengan urusannya. Apa lagi jika orang yang disindir itu fanatik, artinya tidak suka mendengarkan nasihat orang lain. Dia berasumsi bahwa orang yang selalu dinasihati pertanda orang bodoh, punya banyak kekurangan. Dalam dunia nyata kita tidak akan pernah menemukan orang  yang menganggap diri bodoh, mungkin saja dalam ucapannya demikian tapi  hati kecilnya berbicara lain.

Orang Jawa punya ungkapan soal kritik-mengkritik. Dikatakan kalau ingin  mengkritik harus melihat tingkat sosial seseorang. Jadi bupati disenyumi, camat disinis dan rakyat kebanyakan dikritik secara terus-terang kalau perlu dipukul. Maksudnya, kalau gubernur mangadakan sidak (inspeksi mendadak atas program kerja bupati yang ternyata sama sekali belum terlaksana, maka cukup dia disindir dengan senyuman. Tentu saja bukan senyum tulus melainkan senyum sinis atau senyum diplomat. Bupati yang paham akan segera berusaha mewujudkan programnya. Kalau camat, sindirannya harus  ditingkatkan menjadi sinis. Misalnya, “Ini sudah pertengahan tahun, pasti pak camat harus ngebut untuk memenuhi target menyangkut programnya”. Sedangkan rakyat jelata tidak bisa disindir karena mereka tidak paham. Harus secara langsung. “Kamu harus bekerja keras, tidak mungkin Dinas Sosial membagi-bagi beras untuk kamu”.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons