
MaxFM Waingapu, SUMBA – Berdasarkan analisis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini berada pada puncak musim hujan.
Baca juga:
Polisi Sumba Timur Gerak Cepat, Dalam 24 Jam, 27 Sapi Warga yang Hilang Ditemukan
Prediksi klimatologis BMKG menunjukkan adanya potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi di beberapa wilayah NTT mulai tanggal 18 hingga 22 Februari 2025. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya Sirkulasi Siklonik di Utara Australia yang dapat berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis di Laut Timor dalam beberapa hari mendatang.
Bibit Siklon Tropis yang diperkirakan bergerak ke arah Barat di atas perairan Samudera Hindia ini dapat menyebabkan peningkatan signifikan dalam pertumbuhan awan hujan di wilayah NTT.
Dampaknya, wilayah sekitar Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem yang dapat disertai dengan petir dan angin kencang. Hal ini diperparah dengan masih aktifnya Monsun Asia dan fenomena La Nina yang lemah, serta peningkatan suhu muka laut yang lebih hangat, yang turut mendukung kondisi ini.
Baca juga:
Polres Sumba Timur Laksanakan Operasi Keselamatan Turangga 2025, Fokus pada Kamseltibcarlantas
Prakiraan cuaca dari BMKG yang yang ditandatangani Kepala BMKG Station Meteorologi Kelas II Kupang Sti Nenot’ek pada 17 Februari 2025 diterima redaksi maxfmwaingapu.com menyebutkan, antara tanggal 18 hingga 22 Februari 2025, beberapa wilayah di NTT akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami hujan dengan intensitas tersebut antara lain Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, dan Alor. Selain itu, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga ekstrem yang disertai petir dan angin kencang meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.
Cuaca ekstrem yang diprediksi ini dapat membawa dampak signifikan bagi masyarakat. Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain genangan atau banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, hingga gangguan pada transportasi udara dan laut. Potensi terjadinya bencana hidrometeorologi ini perlu diwaspadai, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Baca juga:
Warga Binaan Lapas Waingapu Terima Baptisan, Keluarga Mendukung
BMKG mengimbau agar para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat di NTT meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi. Diharapkan masyarakat dapat mengambil langkah-langkah preventif, seperti memastikan saluran drainase tidak tersumbat, menghindari daerah rawan longsor, serta mempersiapkan alat komunikasi yang memadai untuk menghadapi keadaan darurat.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan agar masyarakat selalu mengikuti informasi dan peringatan dini cuaca dari BMKG dan instansi terkait lainnya. Dengan informasi yang tepat, diharapkan mitigasi bencana hidrometeorologi dapat dilakukan secara lebih efektif dan mengurangi dampak buruk bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, kesiapsiagaan masyarakat dan pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah NTT. Dengan adanya koordinasi yang baik, diharapkan potensi bencana dapat diminimalkan, dan masyarakat tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih aman. [HD]








