
MAXFM Waingapu, SUMBA – Wabah penyakit Sura yang menyerang ternak kerbau dan kuda kini meluas di sejumlah kantong peternakan Kabupaten Sumba Timur. Sejak Januari 2026, Dinas Peternakan Sumba Timur mencatat lonjakan laporan kasus dari tiga kecamatan, yakni Tabundung, Pahunga Lodu, dan Ngadungala.
Kepala Dinas Peternakan Sumba Timur, Abraham Koli, mengungkapkan bahwa laporan pertama masuk dari Desa Tarimbang, Kecamatan Tabundung. Menindaklanjuti hal tersebut, Tim Kesehatan Hewan langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengambil sampel darah sekaligus memberikan pengobatan darurat.
“Tim kami sudah turun ke Tarimbang sebanyak tiga kali. Begitu ada laporan, petugas lapangan langsung bergerak untuk melakukan intervensi,” ujar Abraham kepada maxfmwaingapu.com, Rabu 19 februari 2026.
Tidak hanya di Tabundung, laporan serupa juga masuk dari Desa Kuruwaki, Kecamatan Pahunga Lodu, dan wilayah Kecamatan Ngadungala. Di Pahunga Lodu, petugas telah dua kali melakukan penanganan berupa pelokalisiran ternak yang sakit, penyemprotan vektor lalat (penular utama penyakit Sura), serta pengambilan sampel darah. Di Ngadungala, langkah serupa juga dilakukan untuk mencegah perluasan wabah.
Abraham menjelaskan, serangan paling masif terjadi di desa pemekaran Praimundi, Kecamatan Tabundung. Di lokasi tersebut, seluruh ternak yang berada di padang penggembalaan diperiksa dan diobati. Sementara di Desa Kuruwaki, wabah menyerang satu kawasan padang sabana yang menjadi pusat penggembalaan warga.
“Penyakit ini tidak langsung mematikan, tapi jika terlambat ditangani, ternak akan lumpuh dan akhirnya mati. Penularannya melalui vektor lalat, jadi kami lakukan penyemprotan di area kandang dan tubuh ternak,” jelasnya.
Larangan Lalu Lintas Ternak dan Antisipasi Anggaran
Menghadapi situasi ini, Dinas Peternakan Sumba Timur mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat untuk tidak melakukan lalu lintas ternak antar kecamatan maupun keluar wilayah Sumba Timur selama masa penanganan. Pihaknya akan melakukan pemeriksaan sampel darah ketat terhadap semua ternak yang akan dikeluarkan dari daerah.
“Kalau ternak terbukti terjangkit Sura, alasan apapun tidak akan kami rekomendasikan, baik untuk keperluan adat maupun jual beli,” tegas Abraham.
Dia menambahkan, dugaan awal masuknya penyakit ini ke Tabundung diduga dari hewan adat yang didatangkan dari luar wilayah.
Terkait kendala operasional di awal tahun anggaran, Abraham mengaku pihaknya telah mengantisipasi dengan menyiapkan stok buffer obat-obatan. Saat ini pengobatan dilakukan dengan stok yang ada sambil menunggu pengadaan obat baru jenis *Interkuin* yang diharapkan lebih manjur memberantas penyakit Sura.
Imbauan untuk Warga
Masyarakat diimbau untuk segera melapor kepada petugas lapangan, penyuluh, atau petugas kesehatan hewan di kecamatan jika menemukan gejala Sura pada ternaknya. Langkah cepat ini diperlukan agar penanganan dapat segera dilakukan sebelum wabah meluas ke wilayah lain.
Sementara itu Ayub Tay Paranda Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Sumba Timur Sumba Timur, membenarkan serangan Penyakit Sura di wilayah Timur Sumba Timur. Kata Ayub, dirinya mendapat informasi langsung dari masyarakat peternak khususnya di wilayah Timur, bahwa sampai hari ini masih ada penyakit Sura, yang menyebabkan kematian ternak Kuda dan Kerbau warga.
“Sasaran penyakit Sura ini pada Kerbau dan Kuda, dan kondisi ini sangat mencemaskan masyarakat, kalau satu sudah kena dan mati, sudah pasti akan merambat ke hewan lain berujung kematian ternak,” ujar Ayub
Karena itu Ayub bilang dirinya meminta kepada dinas terkait, Dinas Peternakan untuk menugaskan petugasnya untuk turun ke lapangan untuk mencari thau dan mengambil sampel darah ternak agar diperiksa, suapaya cepat dilokalisir, agar tidak merembet ke kawana hewan di lokasi lain. [HD]








