
MaxFM Waingapu, SUMBA ─ Gejala penyakit seringkali tidak disadari oleh kebanyakan orang. Hal itulah yang sempat dialami oleh Katrina Kareri Hara (54), seorang ibu rumah tangga asal Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Selama berbulan-bulan, ia mengira rasa nyeri yang ia rasakan pada bagian perut sebelah kanannya hanyalah sakit perut biasa yang bisa hilang dengan sendirinya.
“Awalnya saya kira hanya sakit perut biasa. Kadang rasa sakitnya hilang, kadang muncul lagi. Jadi saya tidak terlalu memikirkan, karena saya pikir mungkin karena makan atau masuk angin saja”, cerita Katrina ketika ditemui usai kontrol di rumah sakit.
Namun, semakin lama sakit perut itu tidak juga mereda. Rasa nyeri di bagian kanan perutnya semakin sering datang dan terasa menusuk. Tak ingin mengambil risiko lebih jauh, ia memutuskan pergi ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempat ia terdaftar.
“Sempat diberikan obat untuk meredakan sakitnya, namun setelah beberapa saat saya masih merasa kondisi saya belum benar-benar pulih”, ujarnya.
Karena kondisi tak kunjung pulih, pihak puskesmas akhirnya merujuk Katrina ke rumah sakit. Di sanalah, dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan menyatakan bahwa Katrina mengalami apendisitis atau sering dikenal dengan sebutan usus buntu.
“Waktu dokter bilang harus operasi, saya sempat kaget juga sakit yang selama berbulan-bulan ini saya anggap sakit yang biasa saja ternyata berujung sampai harus operasi. Tapi demi kesehatan saya, saya langsung setuju. Puji Tuhan, keluarga juga mendukung penuh demi Kesehatan saya”, ucapnya.
Bukan tanpa alasan, Katrina mengakui ia tidak ragu untuk menjalankan prosedur operasi karena yakin bahwa seluruh biaya pelayanan Kesehatan yang ia butuhkan saat ini akan ditanggung oleh Program JKN.
Operasi usus buntu pun segera dilakukan. Tindakan medis berjalan lancar, dan kini Katrina sedang dalam masa pemulihan. Saat ditemui, ia baru saja menjalani pelepasan jahitan pasca operasi. Kondisinya berangsur pulih dan ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Katrina mengaku bersyukur, tidak ada kendala berarti saat ia berobat menggunakan JKN miliknya.
“Kalau bukan karena Program JKN, saya tidak tahu bagaimana. Jujur saja, biaya operasi itu besar. Saya dan keluarga tidak mungkin bisa menyiapkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tapi karena saya terdaftar sebagai peserta JKN, saya sama sekali tidak keluar biaya, sepersen pun”, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menambahkan, sebagai warga dari daerah pedesaan, memiliki kepastian perlindungan Kesehatan saat sakit adalah hal yang sangat penting.
“Kami orang kecil, penghasilan terbatas. Kalau sakit, mana bisa kami bayar rumah sakit mahal-mahal. Tapi syukurlah ada BPJS Kesehatan yang bantu kami”, katanya.
Di akhir perbincangan, Katrina berpesan kepada masyarakat agar tidak menunda-nunda ketika mengalami gejala sakit dan segera untuk mendaftar untuk yang belum mendaftarkan diri atau keluarganya pada Program JKN.
“Jika sakit, jangan tunggu lama seperti saya, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Jangan anggap remeh gejala penyakit apapun karena kalau terlambat, bisa lebih berbahaya. Tidak perlu ragu juga untuk berobat, yang penting sudah ada JKN maka dari itu jika belum punya JKN jangan tunggu sakit baru ingat untuk mendaftar, lebih baik kita siap dulu. Supaya kalau sakit datang, kita tidak bingung lagi soal biaya”, tutupnya. (GC/vd)








