Scroll to Top
Di Sumba Timur Orasi Dihentikan Saat Adzan, Polisi dan Pendemo Berbagi Makanan dan Buah
Posted by maxfm on 4th September 2025
Pendemo dan Polisi Berbagi Makanan Saat Aksi Demonstrasi di depan Mapolres Sumba Timur Kamis, 4 September 2025 [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Gelombang demonstrasi masih terus terjadi di sejumlah daerah tanah air, termasuk di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, NTT. Aksi di daerah ini berlangsung damai dengan berbagai tuntutan kritis, namun diwarnai pula momen toleransi dan solidaritas.

Ratusan mahasiswa, tokoh agama, dan masyarakat turun ke jalan menggelar aksi di depan Mapolres Sumba Timur,pada Kamis, 4 September 2025 siang. Mereka mendesak Polri bersih dari praktik penyimpangan sekaligus menuntaskan berbagai kasus hukum yang dinilai mandek.




Dalam orasinya, massa menyoroti persoalan maraknya pencurian ternak dan meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Sumba Timur. Kedua isu tersebut disebut sangat meresahkan warga dan perlu penanganan serius aparat.

Suasana aksi sempat menghangat ketika mobil water canon didatangkan ke lokasi. Namun massa menolak dan menegaskan demonstrasi mereka digelar dengan damai tanpa anarkis.

Momen toleransi terjadi saat azan berkumandang dari masjid yang berjarak sekitar seratus meter dari lokasi aksi. Orasi langsung dihentikan, sebagian peserta aksi menepi, memberikan ruang khusyuk bagi umat Muslim yang tengah menunaikan ibadah.

Selain itu, aksi juga diwarnai solidaritas. Polisi terlihat membagikan minuman dan kue kepada massa, sementara pendemo membalas dengan membagi pisang yang mereka sebut sebagai “pisang dari rakyat.”



Pendemo kemudian melakukan aksi simbolis dengan menyerahkan lilin merah dan putih kepada Kapolres Sumba Timur. Tindakan itu menjadi simbol duka cita atas korban demonstrasi yang meninggal di sejumlah daerah lain di Indonesia.

Setelah dari Mapolres, massa bergerak ke kantor Bupati Sumba Timur. Mereka menuntut pemerintah daerah bertanggung jawab atas minimnya layanan publik serta rendahnya mutu pendidikan dan infrastruktur.

Situasi kembali memanas saat sejumlah pegawai memilih mengamati aksi dari dalam gedung. Massa meminta mereka keluar untuk mendengar langsung aspirasi yang disampaikan.



Di kantor DPRD, massa mendesak peningkatan fungsi pengawasan wakil rakyat dan mendorong evaluasi gaji serta tunjangan DPR baik di pusat maupun daerah. Demonstrasi damai di Sumba Timur pun menjadi contoh bahwa suara kritis tidak selalu identik dengan konflik, tetapi juga dapat menyuarakan persatuan, toleransi, dan kemanusiaan. [MaxFM]

Show Buttons
Hide Buttons