Scroll to Top
Mahasiswa Prodi Keperawatan Waingapu Ikut Pelatihan Jurnalistik
Posted by maxfm on 20th September 2021
| 230 views
Mahasiswa Prodi Keperawatan Waingapu Ikuti Pelatihan Jurnalistik [Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang, Program Studi (Prodi) Keperawatan Waingapu mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dalam bentuk pelatihan jurnalistik Sabtu (18/09/2021).

Ketua Prodi Keperawatan Waingapu, Maria Karehi Hara, M.Kes. dalam sambutannya yang diwakili ketua panitia pelaksana, Domianus Namuwali S.Kep., Ns., M.Kep. menegaskan pelatihan jurnalistik ini dilaksanakan secara daring diikuti oleh lebih dari 300 mahasiswa mulai dari tingkat satu sampai tingkat tiga dan merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang rutin dilakukan setiap tahun oleh Prodi Keperawatan Waingapu. Namun tahun 2020 lalu, kegiatan ini ditiadakan karena awal Pandemi Covid-19 sehingga semua anggaran dialihkan untuk penanganan Covid-19.



“Syukur tahun ini kita bisa kembali bertemu dalam kegiatan pelatihan jurnalistik, walau secara daring karena masih ada Pandemi Covid-19,” jelasnya.

Kepada 300-an mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini, Domi menegaskan agar mengikuti kegiatan nya dengan baik, karena walau sebagai mahasiswa kesehatan, kegiatan menulis tidak bisa diabaikan. Karena selain pengetahuan jurnalistik yang penting bagi mahasiswa sebagai bekal setelah kuliah, para mahasiswa juga harus membuat tulisan pada semester akhir pendidikan.

“Kamu (para mahasiswa, Red) akan lulus sebagai perawat nantinya. Tetapi bisa juga memilih menjadi jurnalis, karena dunia jurnalistik saat ini cukup terbuka bagi semua kalangan, dan bukan tidak mungkin dari kamu bisa jadi jurnalis nantinya,” ungkapnya.




Pelatihan jurnalistik ini sendiri menghadirkan tiga narasumber dari unsur jurnalisme televisi, yang diwakili Wartawan MNC Media, Dionisius Umbu Ana Lodu, media cetak dibawakan oleh wartawan Harian Umum Victory News, Junus Imanuel Hauteas, dan jurnalisme radio diwakili oleh direktur Radio MaxFm Waingapu, Heinrich Dominggus Dengi.

Dalam paparan materinya, Heinrich Dengi menegaskan jurnalisme radio menggunakan suara sebagai kekuatan untuk mengikat pendengar setianya. Karena lewat suara, pendengar radio juga dapat berinteraksi langsung dengan awak radio melalui berbagai program interaktif, maupun program hiburan.

“Memilih menjadi jurnalis hakekatnya adalah pilihan hidup untuk melayani masyarakat akan kebutuhan informasi yang benar,” ungkapnya. Karenanya seorang wartawan menjalankan tugas jurnalistiknya dengan rendah hati, bukan sewenang-wenang, terbuka terhadap kritik, dan jujur dalam menjalankan profesinya.



“Jurnalis tidak menggunakan media untuk mencari keuntungan pribadi, keluarga maupun kelompoknya,” tegasnya.

Diakhir materinya, pria yang akrab disapa Heni ini meminta kepada para mahasiswa untuk ikut mengambil bagian dalam mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya mengikuti program vaksinasi Covid-19 saat ini agar mempercepat pembentukan kekebalan komunitas, yang akan mempercepat juga proses kembali ke kehidupan normal baru dari Pandemi Covid-19 saat ini.

“Adik-adik mahasiswa kesehatan harus ikut ambil peran di kampung masing-masing untuk percepatan vaksinasi ini,” tandasnya.




Wartawan MNC Media, Dionisius Umbu Ana Lodu pada pemaparan materinya menegaskan, jurnalisme televisi tidak jauh berbeda dengan jurnalisme cetak. Namun jurnalisme televisi tidak menggunakan kertas sebagai Media penyampai informasi, melainkan televisi sebagai medianya. Walau demikian, rumus pengambilan bahan beritanya sama yakni berdasarkan pada fakta di lapangan dan buka khayalan wartawan semata.

Karena itu, dalam karyanya seorang jurnalis televisi juga harus memegang teguh prinsip yang sama dengan media cetak dan juga media online, yakni menghormati fakta lapangan dan mematuhi etika jurnalistik. “Kita wartawan juga memiliki etika jurnalistiknya, jadi kalau ada wartawan yang berani menyebarkan berita yang tidak benar, artinya dia sudah mengangkangi etika jurnalistik dan tidak pantas lagi yang bersangkutan menyandang predikat wartawan,” tegasnya menjawab pertanyaan salah satu peserta.



Sementara itu mengenai tantangan jurnalisme cetak ditengah gempuran media online dan media sosial saat ini, Wartawan Victory News, Junus Imanuel Hauteas menegaskan, setiap media memiliki konsumen masing-masing dan tidak bisa saling menggantikan secara keseluruhan. Karena itu, walau harus diakui pembaca media cetak saat ini tergerus dengan lahirnya televisi, terutama media online, hingga media sosial. Media cetak, tetap memiliki tempat di hati pembacanya masing-masing.

“Setiap media memiliki kiblatnya masing-masing, dan tahu apa yang dibutuhkan pembaca/pemirsanya masing-masing. Karena tentunya satu media tidak akan mampu memenuhi rada keingintahuan semua pembaca/pemirsa. Jadi hadirnya media online dan televisi/radio, tidak hanya sebagai kompetitor dengan media cetak, namun juga sebagai ruang untuk saling melengkapi satu dengan yang lain,” tandasnya.(ONI)

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons