Scroll to Top
“Batareak Mata Malotot” (Catatan Isolasi Mandiri)
Posted by maxfm on 29th Juli 2021
| 193 views
Karikatur : Karya Yongky HS

MaxFM, Waingapu – Perjuangan panjang menjalani isolasi mandiri ini akhirnya selesai juga. Meskipun siapa yang berhak menyatakan selesai masih simpang siur. Hanya atas dasar itung-itungan teoritis saja, bahwa setelah 14 hari masa inkubasi virus sudah usai. Antibodi tubuh sudah terbentuk, dan penderita tidak beresiko lagi menularkan virus. Ini asumsi yang bisa didasari dengan tes antibody. Lebih akurat lagi menggunakan tes PCR.




Tapi siapakah yang berhak menyatakan seseorang itu sembuh dari sakit? Dokterkan? Harus ada Surat Dokter kan?

Sudah 14 hari lewat sejak dinyatakan positif lewat Rapid Antigen, ini beberapa gejala yang masih ada khususnya saya: masih pilek dan batuk sesekali, serta mudah capek. Istri saya dan anak-anak tidak memiliki keluhan yang berarti. Hanya saja kenapa semua kalau saya ajak omong harus batareak. Apa suara saya kian mengecil? Atau pengaruh parau jadi gak jelas pengucapannya? Atau jangan-jangan pendengaran kita mulai terganggu sejak positif covid 19? Jangan kaget ya, andai memang semua pendengaran mulai terganggu maka satu rumah sudah sangat seru. Semua kalau omong batareak supaya bisa didengar. Apa-apa jadi harus batareak.



Belajar tertib demi kepentingan bersama, kami coba mengikuti alur yang ada. Pertama maka kami melapor kembali ke Gugus Covid 19 dalam hal ini kelurahan dan Puskesmas setempat, bahwa kami sudah menjalani masa isolasi. Selanjutnya, Jumat 23 Juli 2021 dirujuk untuk menjalani tes (pake rapid antibody). Sampai di sini dijelaskan bla..bla…bla…, Intinya sudah negatif. Surat keterangan sehat akan dikeluarkan Senin 26 Juli 2021.

Sambil menulis ini saya sedang menunggu proses pembuatan surat tersebut. Syukurlah Surat Sehat sudah didapat, selanjutnya bagaimana?



Perjuangan selanjutnya bagi Penyintas Covid 19 adalah mengangkat bendera kebebasan agar diakui dan bisa diterima kembali dalam masyarakat. Setelah terpuruk 2 Minggu lebih tanpa penghasilan, perjuangan utama tentulah bagaimana supaya dapur tetap bisa ngebul. Urusan ekonomi jadi lebih dominan, sehingga banyak yang mengabaikan kemungkinan tertular kembali walau tubuh sudah punya antibodi. Memang ada sebagian orang masa bodo dengan situasi ini, tapi lebih berbahaya lagi kalau yang benar-benar bodoh, menganggap virus ini tidak ada dan hanya rekayasa. Kita batareak sampai mata melotot tetap juga mereka gak akan dengar.

Saya mau gantung Surat Sehat di dada, bawa Toa sambil teriak-teriak di jalan: ” Saya sudah sehat! Saya sudah selesai isolasi! Jangan takut saya tidak menularkan virus! Tapi kalian harus pakai masker! Kalian harus jaga jarak! Hindari kerumunan! Tetap taati Protokol Kesehatan! Taati PPKM!” Eh tapi siapa yang mau dengar? Apa mereka bisa dengar? Saya sudah batareak sampai mata melotot kok sepertinya tak ada yang perduli. Sudahlah biarkan saja.




Andai makin banyak yang positif, artinya makin banyak yang punya antibodi. Kalau semua sudah tertular gak perlu lagi kita sibuk-sibuk cari vaksin. Tapi apa semua bisa melewati kalau tertular? Tidak. Resiko terburuk tetap ada. Jadi sebaiknya mari tetap taati Protokol Kesehatan, hanya ini cara kita memerangi Virus Covid 19.

Bahu kiri saya ditepuk, sedikit agak berteriak sang istri berkata: ” Orang sudah panggil makan dari tadi, hanya ingat main HP saja!” Gawat, mungkin ini benar kita sudah tuli semua!!!!

Waingapu, 26 Juli 2021
Isolasi Mandiri hari ke 14-15

Penulis “ Yongky HS
NB.
-Terimakasih untuk semua sahabat dan kerabat yang sangat mencintai kami, mensupport kami, mendoakan kami, mengirimkan berbagai macam kebutuhan sehingga kami sekeluarga bisa menjalani masa isolasi mandiri dengan baik. Tuhan Membalas Segala Kebaikan Anda Semua….Amin

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons