Scroll to Top
Pendidikan Terbaik, Seperti Apa Sebenarnya?
Posted by maxfm on 2nd Mei 2021
| 204 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan [Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Pendidikan terbaik itu seperti apa sebenarnya? Demikian, pertanyaan ini kerapkali berseliweran di benak penulis mengiringi keprihatinan penulis terhadap praktek pendidikan kala kini yang masih terfokus pada anggapan bahwa anak adalah sebuah cawan kosong yang harus diisi dengan berbagai macam ilmu pengetahuan oleh guru. Apakah pendidikan terbaik artinya anak harus bisa mencapai nilai 100 di setiap mata pelajaran yang anak pelajari? Praktek pemberian rangking yang masih banyak dilihat hingga kinipun membuat penulis prihatin karena seperti melihat anak sebagai objek yang perlu diklasifikasi seperti sayuran dalam berita RRI yang sering penulis dengar di kala penulis kecil. Wortel tanpa daun kualitas A harga perkilo sekian ribu Rupiah di pasar Beringharjo, kualitas B harga sekian ribu perkilo di pasar Beringharjo dan seterusnya.




Melawan Arus

Pertengahan tahun 2002 penulis berkesempatan untuk bergabung menjadi salah satu guru di sebuah sekolah bertaraf internasional di bilangan Jakarta Selatan. Sekolah unik ini mengubah paradigma penulis mengenai bagaimana seharusnya sekolah mendidik anak-anak.

Kala itu praktek pemberian rangking masih marak. Anak-anak berkatagori pintar masuk ke kelas akselerasi, sementara yang tidak masuk kategori ini masuk ke kelas berjenis lain.

Pada sesi pelatihan di sekolah tersebut penulis kemudian seperti dibuka “matanya”. Bahwa anak adalah mahluk berpikir, sama dengan kita. Bahwasanya belajarpun adalah sebuah proses, jadi apa yang kini anak belum bisa lakukan, bukan tidak mungkin akan dengan sangat baik dikuasai setelah adanya proses belajar. Jadi menurut pendapat penulis, mengkatagorikan anak-anak pada kategori-kategori tertentu adalah suatu bentuk pelabelan. Label, mungkin lebih tepat disematkan pada barang-barang, bukan pada anak.



Pelatihan guru yang penulis ikuti selama kurang lebih 4 minggu tersebut juga membuka mata penulis tentang bagaimana seharusnya kami sebagai guru mengajar.

Kami memfasilitasi anak-anak untuk mendapatkan ilmu pengetahuannya sendiri. Misalnya, melalui interaksi antara anak dengan tugas kelompoknya yang kemudian membuat anak dapat menyimpulkan mengapa suatu hal bisa terjadi. Misalnya seperti ini, saat penulis kecil kami hanya diberi tahu bahwa rumus lingkaran adalah 3,14 x jari-jari. Saat itu, penulis tak mengetahui dari mana angka 3,14 itu datang. Namun di sekolah disebut diatas, guru membuat sebuah kegiatan dimana anak diberi sebuah lingkaran. Lingkaran tersebut kemudian diukur dengan benangnya, kemudian guru mengajari dari mana angka 3,14 ini datang.



Proses ini membuat anak akan berpikir, bahwa suatu peristiwa tidak serta-merta timbul dengan sendirinya, pasti ada rasionalnya. Proses berpikir mencari rasional inilah yang kemudian akan tertanam di benak anak. Guru masa kini yang sudah melewati proses pelatihan PPG (Program Pelatihan Guru) menyebutnya dengan HOTS (Higher Order of Thinking Skill).

Sekolah dimaksud di atas juga memahami bagaimana setiap anak memiliki kesiapan anak berbeda-beda Ketika mereka mulai mempelajari sebuah konsep atau keterampilan baru, karena pada hakikatnya tidak ada satupun individu yang sama. Hal ini kemudian difasilitasi dengan memberikan pembelajaran berbeda sesuai dengan kesiapan anak. Mencari tahu di mana kesiapan siswa kini dengan melakukan penilaian formatif (Jenis Pre-Assessment)sudah menjadi hal wajib bagi para guru untuk mengetahui di mana posisi anak. Proses tidak hanya berhenti di situ, guru kemudian bersama team mendisain bahan ajar yang sesuai dengan kesiapan siswa. Mengapa? Karena anak akan lebih mudah memahami konsep atau keterampilan baru yang akan dipelajari, apabila pembelajaran dimulai dari sedikit hal yang anak sudah ketahui sebelumnya.




Setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan kesiapannya masing-masing. Jika misalnya bulan ini anak masuk ke dalam kelompok siswa yang baru membaca kata, maka dengan pengajaran yang tepat anak akan sangat mungkin pindah ke kelompok siswa yang lancar membaca. Tidak ada anak yang dilabel, semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa berkembang.

Hal ini menjadi tidak asing kala kini Kemendikbud menghimbau agar guru melakukan tes diagnostic sebelum pembelajaran tatap muka setelah anak melalui proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama setahun terakhir karena pandemic Covid-19, namun di tahun 2002 hal ini merupakan hal yang baru. Melakukan penilaian formatif dan mendisain bahan ajar sesuai kesiapan siswa kala itu dianggap sebagai hal yang menambah pekerjaan guru, dan karenanya sangat jarang atau bahkan tidak dilakukan.




Bukan hanya dalam menyiapkan materi ajar kemudian sekolah ini membuka paradigma penulis. Pun, dalam pengelolaan kelas sekolah ini mengajarkan pada penulis bahwa aura demokratis perlu dan harus dimunculkan dalam kelas. Alih-alih memberikan anak sekelompok aturan Panjang yang ditetapkan oleh pihak sekolah dan kemudian diterapkan oleh siswa, setiap guru kelas wajib melakukan kegiatan diskusi untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh warga kelas dan bagaimana cara menjalankannya. Prosesnya Panjang, namun hal ini terbukti bahwa selama penulis mengajar di sana mulai tahun 2002-2008, perselisihan antar siswa dan juga kecelakaan di kelas sangat minim terjadi.



Mimpi

Saat penulis mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sector pendidikan di daerah di tahun 2018 silam, penulis bermimpi bahwa setiap anak di daerah tempat penulis bekerja bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang ber-khusnuzon pada anak. Bahwa anak punya kelebihan masing-masing, dan bahwasanya stiap potensi anak diberikan ruang untuk berkembang.




Penulis punya mimpi bahwa saat belajar, anak-anak di daerah juga punya kesempatan untuk bisa mengembangkan pengetahuannya sendiri dengan teknik fasilitasi yang baik dari guru sehingga apapun yang anak pelajari akan bisa menjadi bagian dari Episodic Memory anak. Memori yang akan bertahan dalam waktu sangat lama, dan pengetahuan apapun yang tersimpan akan dengan sangat mudah diingat kembali apabila dibutuhkan.

Penulis juga bermimpi bahwa pembelajaran ilmu social di kelas akan berubah, dari sekedar menghafal fakta menjadi sebuah diskusi menggunakan kasus – kasus riil dan merumuskan pemecahan bersama-sama siswa dan guru di kelas.

Semua mimpi itu merujuk kepada satu hal bahwa anak-anak nantinya akan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang baik. Berubah, dari sekedar menghafal fakta menjadi ke tingkatan berpikir analitikal



Harapan penulis bahwasanya di hari pendidikan di tanggal 2 Mei 2021 ini penulis akan semakin banyak punya kesempatan untuk berinteraksi dengan para guru dan kemudian bersama-sama membentuk visi untuk praktek pendidikan yang memberdayakan anak.

Selamat Hari Pendidikan!

[Oleh: Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan]

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons