Scroll to Top
Komunikasi Untuk Membangun Kepercayaan Dalam Organisasi Pendidikan (Bagian 2): Gosip dan Ketidakberanian Pimpinan Mematikan Kepercayaan?
Posted by maxfm on 22nd Februari 2021
| 1910 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan [Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Pada tulisan sebelumnya penulis membahas tentang 2 hal yang dapat meningkatkan kepercayaan guru (bawahan) kepada Kepala Sekolah (atasan) antara lain: (1) Menumbuhkan kepercayaan dengan memahami apa itu kepercayaan, (2). Memonitor reaksi. Dimana dijabarkan pentingnya bagi Kepala Sekolah untuk dapat memiliki 3C: Care (Kepedulian), Competence (Kompetensi), dan Character (Karakter). Kemampuan Kepala Sekolah dalam memonitor reaksi wajah saat merespon suatu situasi juga penting.Kedua hal di atas dapat menumbuhkan kepercayaan guru kepada Kepala Sekolahnya sehingga ketika atasannya tersebut meluncurkan ide perubahan di tingkat sekolah maka guru akan dengan senang hati menjalankannya.




Kepercayaan dari anggota organisasi mutlak diperlukan untuk dapat mencapai perubahan bermakna yang dampaknya akan membuat organisasi terus bertumbuh. Jika organisasi terus bertumbuh, maka kesempatan untuk mencapai tujuan besar sebuah organisasi akan dapat terwujud dengan lebih mudah. Perubahan yang sehat di tingkat Satuan Pendidikan (Sekolah) mutlak memerlukan bantuan guru-guru. Untuk itu, Guru harus memiliki kepercayaan kepada pimpinanannya atas ide perubahan yang diusung.

Jika guru tidak percaya kepada pimpinannya maka bisa dipastikan perubahan urung terjadi. Ilustrasinya mungkin seperti ini, apa yang akan kita lakukan apabila kita mendapati atasan kita terlihat seperti takut menyelesaikan sebuah permasalahan?
Penulis sering mendapati bahwa Kepala Sekolah yang kurang tegas atau takut dalam menyelesaikan permasalahan dengan guru tertentu membuat guru lain merasa patah arang pada apa yang dikatakan Kepala Sekolah. Dalam tugas penulis mendampingi para guru di beberapa provinsi selama 2 (Dua) tahun terakhir, penulis beberapa kali melihat situasi dimana anak-anak harus bermain di halaman sekolah karena gurunya tidak datang hari itu. Rasa sakit di hati tidak bisa digambarkan ketika diketahui bahwa kejadian ini seringkali terjadi, bahkan pernah seminggu penuh guru tidak hadir tanpa kabar.




Sebagian besar guru-guru di sekolah tersebut berusaha menghormati peraturan sekolah untuk dapat tiba tepat waktu sehingga mereka punya waktu untuk menyiapkan bahan ajar sebelum siswa datang ke sekolah. Hanya 1 (satu) guru dimaksud kerap datang terlambat atau bahkan tidak masuk sama sekali tanpa kabar. Kepala Sekolah sebagai pimpinan menegur dengan cara mengumpulkan semua guru di ruang rapat dan kemudian menegur semua orang di ruangan agar tidak sering absen dan tidak sering terlambat. Kepala Sekolah melakukan hal ini untuk menyingkat waktu, dan dengan harapan guru yang sering terlambat tersebut merasa tersindir dan malu. Kepala Sekolah tidak menyadari bahwa hal ini melukai perasaan guru-guru lain yang selalu hadir tepat waktu di sekolah. Ketidakmampuan Kepala Sekolah menangani permasalahan secara langsung dengan pihak yang bermasalah dapat menurunkan kepercayaan guru lain kepada Kepala Sekolah. Ini memperlihatkan bahwa Kepala Sekolah tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menangani masalah.

Hal berikutnya adalah ketidakmampuan Kepala Sekolah dalam mendengarkan. Dalam buku pelatihan Responsive Classroom yang merupakan sebuah institusi pelatihan guru di Amerika Serikat menuliskan bahwa salah satu kebutuhan mendasar anak adalah kebutuhan untuk didengar karena ini akan membuat anak merasa Significant (Perasaan bahwa seseorang merasa unik, penting dan dibutuhkan). Ini rasanya juga berlaku pada orang dewasa. Lebih lanjut, Tony Robbins juga mengatakan bahwa kebutuhan akan rasa Significance ini termasuk ke dalam 6 kebutuhan pokok yang dibutuhkan manusia

Mengutip judul lagu grup band terkenal di Bandung, Serius band “Aku (Guru) juga Manusia”, karenanya guru juga memiliki kebutuhan untuk dapat didengar. Kegagalan Kepala Sekolah untuk mendengarkan guru dapat membuat kepercayaan guru pada Kepala Sekolah menurun. Misalnya Kepala Sekolah meminta pendapat para guru untuk menyelesaikan permasalahan keterlambatan guru. Banyak guru kemudian memberikan ide, namun kemudian tidak ada satupun yang dilakukan oleh kepala sekolah. Atau ketika Kepala Sekolah seakan mendengarkan guru saat guru menceritakan atau mengeluhkan rekan mereka guru X yang sering terlambat, namun di dalam hatinya Kepala Sekolah sibuk menyiapkan balasan-balasan untuk merespon guru, sehingga apapun yang dikatakan guru akan dipotong dan disanggah langsung. Hal ini dapat membuat guru merasa kebutuhannya akan rasa Significance tidak terpenuhi dan ini menimbulkan turunnya kepercayaan guru.



Hal lain yang dapat menciderai kepercayaan guru pada Kepala Sekolah adalah Gosip. Menggunakan contoh di atas misalnya, Kepala Sekolah kemudian membicarakan tentang guru X yang suka membolos kepada guru lain. Kemudian Kepala Sekolah membicarakan bagaimana hal ini merugikan anak dan seterusnya. Ketika ini dilakukan maka guru lain yang sedang diajak berbicara akan berpikir, “Lalu apa yang sudah dilakukan? Kenapa ini disampaikan ke saya? Ah, bisa jadi lain waktu saya yang akan menjadi bahan pembicaraan Kepala Sekolah pada guru lain,” Sudah pasti gosip memang akan dapat menurunkan kepercayaan, pada siapapun ini terjadi.

Hal terakhir dan hal yang paling penting dalam upaya Kepala Sekolah meningkatkan kepercayaan guru adalah hal yang sangat sederhana, mengucapkan “Terima Kasih”. Ucapan terima kasih yang tulus terhadap upaya yang sudah guru lakukan, akan membuat perasaan Significance dari guru dapat terpenuhi.

Misalnya, guru yang biasa terlambat datang kemudian datang tepat waktu suatu hari. Kepala Sekolah dapat secara langsung mengatakan, “Terima Kasih pak Suneyo, bapak sudah mengupayakan untuk datang tepat waktu hari ini.”



Ilustrasi lain misalnya ketika guru baru kembali dari kegiatan mengunjungi siswa di rumah untuk mengantarkan bahan ajar dan melakukan pendampingan pada siswa. Kita tahu bahwa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) membuat guru mengeluarkan tenaga ekstra. Kelelahan mereka mengunjungi siswa satu persatu atau di titik kumpul agar siswa tetap dapat aman dari resiko terpapar Covid-19 perlu dihargai. Jangan tunggu lama, di saat mereka kembali ke sekolah atau saat mereka selesai melaksanakan kunjungan Kepala Sekolah dapat menyampaikan rasa terima kasihnya.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah strategi-strategi ini dapat digunakan guru di kelas atau atau dalam situasi lain? Dalam rumah tangga misalnya?




Ya tentu bisa. Ketika Kepala Sekolah, guru, pimpinan organisasi atau kepala rumah tangga mencontohkan dengan baik apa yang seharusnya mereka lakukan dalam meningkatkan kepercayaan, maka ini akan menjadi contoh (Role Model) bagaimana anggota organisasi atau anggota keluarga seharusnya bersikap kepada anggota lain. Pada akhirnya, kepercayaan guru kepada kepala sekolah, siswa kepada guru, anggota organisasi terhahadap pimpinannya, atau kepercayaan anggota keluarga pada kepala keluarga akan meningkat. Jika semua pihak dalam sebuah organisasi dapat tumbuh rasa percayanya pada pimpinan, maka perubahan bermakna akan terjadi sehingga organisasi dapat terus bertumbuh.

Demikian, dengan komunikasi yang baik dari pimpinan organisasi baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi yang ditunjukkan dari perilaku adalah kunci penting dari berkembangnya sebuah organisasi termasuk sekolah.



Pertanyaannya sekarang, apa saja yang sudah kita lakukan dalam upaya kita meningkatkan kepercayaan anggota organisasi yang kita pimpin? Apa saja yang belum kita lakukan? Bagaimana dan kapan kita akan mulai melakukannya jika memang ada yang belum kita lakukan?

Mari, kita tumbuhkan kepercayaan, karena sejatinya kepercayaan adalah pupuk yang akan membuat hubungan apapun akan memperbolehkan terjadinya perkembangan baik dalam hubungan antar pribadi maupun hubungan antara atasan dan bawahan.
[ Oleh: Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan ]

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons