
MaxFM Waingapu, SUMBA – Hampir 3 jam berkutat dengan lumpur muara Sungai Watumbaka, akhirnya selesai juga menanam seratusan anakan bakau.
Ini bagian dari komitmen Radio MaxFM Waingapu, untuk setiap tahun memanam bakau untuk menjaga dan merawat alam Sumba, penanaman dilakukan kadang di awal tahun, kadang di pertengahan tahun.
Kali ini tim kerja MaxFM tidak sendiri karena ditemani oleh 3 orang gadis. Dua Nona berstatus mahasiswi di UNKRISWINA Sumba, jurusan Agrotek. Seorang lagi siswi Kelas 3 di Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 1 Waingapu.
Anakan bakau yang ditanam, sebelumnya disemai dengan beberapa cara. Pertama ada anakan bakau yang disemai di plastik koker hitam, persemaiannya di dalam lumpur.
Persemaian lain masih di dalam koker tetapi tidak ditanam dalam lumpur, anakan bakau yang sudah dimasukkan dalam plastik ditambah media semai dan disimpan dekat akar pohon yang melindungi dari dari datangnya gelombang.
Persemaian berikutnya dilakukan di sekitar Studio Radio MaxFM, dimasukan dalam wadah, disimpan di tempat yang dingin tidak kena matahari langsung.
Dari semua cara persemaian rata-rata hasilnya baik dan anakan baku jenis Rhizopora ini siap untuk ditanam di lokasi dekat muara Sungai.
Tulensi Tamu Rambu Ananuwa mahasiswi dari Kampung Adat Praiyawang Rende berkuliah di Agrotek UNKRISWA menyatakan kegembiraannya karena bisa ikut menanam bakau bersama tim Radio MaxFM.
“Ini pengalaman pertama saya untuk menamam bakau dan saya sangat bersemangat serta bahagia sekali karena sudah diberikan kesempatan untuk ikut menjaga alam Sumba, ” ungkap Tulensi dengan penuh perasaan kepada media ini, Rabu, 02 September 2026 sore, di dekat muara Sungai Watumbaka.
Tulensi menambahkan, karena merasa senang dengan kegiatan ini, dirinya tidak merasa lelah, meski membawa anakan dan perlengkapan lain ke lokasi tanam yang jaraknya lumayan jauh dan harus berjalan kaki dari tempat berhenti kendaraan.
Dirinya berharap masih ada kesempatan lain untuk ikut merawat alam Sumba, meskipun hanya hal kecil yang dilakukkannya.
Dalam kesempatan yang sama, Debi Tenga Lunga teman kuliah Tulensi di jurusan yang sama UNKRISWINA bilang kalau dirinya merasa bahagia ketika bisa ikut menanam anakan bakau bersama tim MaxFM
“Perasaan saya hari ini ketika saya menanam bakau bahagia sekali dan merasa bangga terhadap diri sendiri karena sudah meluangkan waktu untuk berpartisipasi tanam bakau, rasa bahagia ini meluap-luap dan tidak bisa ditukar dengan uang,” tegas Debi.
Debi menambahkan, saat tanam bakau, beberapa kali kakinya sempat masuk ke lumpur yang agak dalam dan lumayan berat untuk keluarkan kaki dari lumpur, selain itu karena asik menanam, tanpa terasa pakaiannya terkena lumpur tebal, tetapi dirinya tidak hiraukan soal lumpur ini dan terus menanam hingga 111 anakan bakau semuanya tertanam.
Selain dua mahasiswi, siswi kelas 3 SMPN 1 Waingapu, Maudia Zafutri Tamu Ina juga tidak kalah bersemangat ikut menanam bakau.
Di lokasi tanam bakau sisi Selatan muara Sungai Watumbaka, penanaman anakan bakau selesai ketika hari sudah hampir gelap, matahari mulai bergerak turun ke ufuk Barat.
Anakan bakau ditanam dengan jarak 2.5 meter x 2.5 meter, di dua titik lobang tanam dimasukkan sekaligus 5 anakan bakau. Seratusan anakan yang lain ditanam 1 anakan bakau di satu lobang tanam.
Hari makin sore, hampir gelap, angin di sekitar laut sudah tidak kencang, itu tandanya harus segera pulang, karena agas mulai keluar, mengepung dan menggigit dengan ganas bagian badan yang tidak terlindungi. Beruntung saat menuju ke lokasi tanam, bagian tubuh yang tidak terlindungi sudah dilumuri lotion anti nyamuk, yang sedikit menghalau serangan agas. [HD]







