Scroll to Top
Kepala Bandara I Made Sutamayasa: Peran Warga di KKOP Kunci Keselamatan Penerbangan
Posted by maxfm on 21st Agustus 2026
Kepala Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu, I Made Sutamayasa [Kolase Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA — Bandara Umbu Mehang Kunda, Sumba Timur terus berupaya memperkuat budaya keselamatan dan keamanan penerbangan. Hal ini disampaikan Kepala Bandara, I Made Sutamayasa dalam wawancara bersama Radio Max FM, Kamis, 20 Agustus 2026.



I Made mengatakan frekuensi penerbangan dari dan menuju Sumba Timur kini meningkat dari 4 kali menjadi 5 kali sehari, termasuk penambahan rute pada hari Senin. Penyesuaian jadwal juga dilakukan, dengan keberangkatan dari Bali pukul 12.40 WITA dan tiba di Waingapu pukul 13.50 WITA. Sementara dari Waingapu ke Bali berangkat pukul 15.00 WITA.

“Penyesuaian ini memudahkan penumpang dari Jakarta dan Surabaya agar tidak perlu transit menginap di Bali. Dampaknya juga positif untuk pariwisata. Sekarang rata-rata ada 15 sampai 20 wisatawan asing yang datang setiap hari,” jelas Kabandara UMK I Made Sutamayasa.

Terkait keselamatan, I Made menekankan pentingnya peran masyarakat di radius 15 km Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Masyarakat diminta tidak menerbangkan layang-layang dan drone, serta membantu pemangkasan pohon tinggi yang mengganggu sudut pendaratan 3 derajat.



“Secanggih apa pun fasilitas bandara, keselamatan tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat. Safety and security is our responsibility,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan safety dan security. Safety fokus pada mitigasi bahaya dan risiko, sementara security melindungi dari tindakan melawan hukum seperti pencurian hingga ancaman bom.

Kabandara UMK I Made Sutamayasa juga menambahkan pasca gempa Magnitudo 7,7 di Nagekeo, bandara setempat terdampak ringan. Sebagai mitigasi, ruang tunggu keberangkatan dinonaktifkan dan penumpang dialihkan ke selasar. Diterapkan juga jalur pintas langsung dari check-in ke pesawat dengan proses boarding taktis, namun pemeriksaan keamanan tetap ketat.




Faktor alam juga menjadi perhatian. Adanya bukit di arah Paradita membuat pendaratan dari sisi utara tidak bisa maksimal. Karena itu diterapkan displaced threshold atau pergeseran batas ambang landasan sepanjang 100 meter. Untuk lepas landas, seluruh panjang landasan masih bisa digunakan penuh. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons