Scroll to Top
Penyederhanaan Adat Kematian di Sumba Timur: Mungkinkah?
Posted by maxfm on 1st Februari 2014
| 3730 views
Keluarga membawa kerbau saat datang di salah satu kedukaan di Sumba
Keluarga membawa kerbau saat datang di salah satu kedukaan di Sumba

MaxFM, Waingapu – Dalam beberapa kali obrolan lepas dengan kawan muda di Waingapu terdengar seperti nada rintihan kesedihan setiap kali membicarakan acara adat di Sumba Timur, khususnya kematian.

Sebut saja Umbu yang mengalami kedukaan baru- baru ini, dia mengatakan kami sudah miskin tapi masih menyimpan mayat cukup lama di rumah, belum lagi nantinya urusan adatnya dengan keluarga yang datang, keluarganya harus siapkan babi, kuda, dll dan ini memakan anggaran yang banyak, kami mau dapat dari mana dana kematian ini, paling-paling harus berhutang, trus siapa nanti yang bayar utang, kami ? Kami ini juga hidup senin kamis?

Dalam obrolan dengan topik adat kematian di Sumba Tumba Timur di Acara Nuansa Malam Radio Max FM Waingapu (30/01) beberapa pendengar mengirim pesan pendek seperti ini kepada saya saat siaran:

  •  Pengirim dari nomor HP +6281337161XXX, 20:31:58, dengan Sony Karim di Palindi, mengenai adat kematian yang ada di Sumba Timur saya rasa ini sangat boros, contohnya adat kematian di Palindi desa Kambata Tana itu sangat boros. Kita beli kopi, gula, pahappa siri pinang, trus tikam babi baku balas artinya pakameting, bawa kain yang mahal-mahal dan sebagainya. Menurut saya sebaiknya diatur lagi agar adat ini kita sederhanakan dan bukan berarti kita kasih punah, sehinnga adat ini agak irit sedikit. Kalau saya lihat adat kematian kita di Sumba membuat kita rakyat jatuh miskin. Jadi harapan saya kalau bisa kita buat pertemuan dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah dan masyarakat untuk memperingan sedikit atdat kematian ini. Kita orang Sumba kalau sumbang di kematian cepat-cepat beli babi yang harga juta-juta, coba sebenarnya uang itu kita sumbang buat anak yang melanjutkan kuliah itu kan bagus. Terima kasih.
  •  Pesan lain datang dari pemilik nomor HP +6285333629xxx, 21:44:58, Reni di Wangga, saya setuju kalau saja bisa adat itu harus disederhanakan. Apa lagi di jaman sekarang yang semuanya serba mahal. Terkadang juga kita orang Sumba banyak mengeluh dengan kita punya adat sendiri, apalagi soal kematian. Di tambah sistim pakameting yang begitu banyak anggaran dan harus banyak babi sudah. Orang tua sendiri juga mengeluh dengan itu, tapi mereka tetap mau penuhi semua itu, giliran kita yang jadi anak butuh uang yang ada marah-marah sudah ini orang tua karena kewalahan.

Walaupun perjuangan untuk menyederhanakan adat di Sumba Timur ini masih panjang, paling tidak sejak tahun lalu sudah ada usaha untuk menuju tawaran penyederhaan adat. Usaha ini di mulai oleh Komunitas Peduli Adat Sumba Timur KPAST yang bekerja sama denga LSM Wahana Visi Indonesia WVI mengkampanyekan penyederhanaan adat kematian ke desa-desa.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons