Scroll to Top
“Sikat Ukur Kuat” (Catatan Isolasi Mandiri)
Posted by maxfm on 23rd Juli 2021
| 275 views
Karikatur : Yongky HS

MaxFM, Waingapu – Pada masa isolasi mandiri ini, ada saat-saat di mana kami benar-benar berada pada titik terendah secara mental. Kalaulah kita anggap bahwa terinfeksi covid 19 tak ubahnya seperti flu biasa, namun rasa sakitnya dan ketakutanya tak bisa kita abaikan begitu saja.



Ini memang seperti hanya flu biasa, tapi secara psikis kita ada di antara hidup dan mati. Begitu terbatuk atau demam kambuh pikiran kita sudah ke mana-mana. Belum lagi kalau ada desahan seperti sesak nafas, yakinlah ciut memang nyali kita!

Sedikit-sedikit kita test kadar oksigen, tekanan darah dan suhu tubuh. Sedikit-sedikit kita berserah dalam doa. Pokoknya, secara psikis situasi ini benar-benar menguras energi. Kemarin anak saya Eifel, tiba-tiba menangis kesakitan. Kami gugup satu rumah, rupanya ia menahan rasa sakit ulu hati karena sulit mau muntah.




Di lain waktu kami dengar si sulung Xena mengerang kesakitan, ternyata ia kesakitan saat lagi haid. Jangankan ada keluhan kesakitan, ada di antara kita menarik nafas dalam-dalam itu sudah cukup mengkuatirkan bagi yang lain.

Jujur saja kami juga stress menghadapi situasi ini. Kami jenuh, kami kalut, kami takut, tapi kami juga mau tetap berusaha tegar!!!!




Anak saya Dhea si bungsu, menjadi yg paling tertib minum obat. Terapi uap dan lain-lain dijalankan secara tertib. Konsumsi madu, suplemen dan lain-lain semua dijadwal dengan waktu yg ketat. Dhea pula yang rajin mempersiapkan apa-apa yang harus kami konsumsi. Saya bersyukur itu sedikit mengurangi kekuatiran, maklumlah dia satu-satunya yg belum divaksin dan punya histori asma.

Istri saya menunjukkan sedikit gejala kejenuhan, yang semula paling cerewet soal harus konsumsi ini-itu, kini justru cederung apatis. Beberapa macam obat-obatan sudah tidak diminum lagi. Tak sabar segera mengakhiri masa isolasi dengan berbagai dalih, tanpa harus menunggu hasil swab atau PCR. Sabar Sayange, tinggal beberapa hari lagi.



Saya diam-diam juga sudah sangat jenuh dengan situasi ini. Paksa diri kerja segala macam untuk bikin sibuk diri. Mau ganti lampu, eh baru ambil tangga mau naik sudah rasa oleng. Mau packing barang-barang, baru siapkan dos dan karung sudah ngos-ngosan. Intinya fisik ini masih sangat lemah, meski semangat masih bisa terjaga. Jadinya nyaris 10 hari hanya makan-tidur, makan tidur.

Kami dapat kiriman sayur-sayuran, ikan, daging, telur dan ini yang penting: cabe rawit. Mulut saya mulai pahit, selera makan saya juga berkurang. Hari ini saya ambil inisiatif bikin sambal bawang sepedas-pedasnya. Makan sebanyak-banyaknya, ada daging kambing cincang, ada ikan, ada sate babi, ada telur rebus, ada mie pangsit, ada ayam Alia, semua saya sikat.



Saya makan ukur kuat seperti orang yang sudah satu Minggu tidak ketemu makanan. Rakus ya? Biar. Ini terapi supaya virus corona cepat pergi dari tubuh saya…

Waingapu, 22 Juli 2021

Catatan Isolasi Mandiri hari ke 10-11

Yongky HS

NB
Saya bingung masa untuk isolasi itu dihitung dari mulai ada gelaja atau mulai ketahuan positif? (Antigen/PCR)




Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons