Scroll to Top
Komunikasi Untuk Membangun Kepercayaan Dalam Organisasi Pendidikan (Bagian 2): Gosip dan Ketidakberanian Pimpinan Mematikan Kepercayaan?
Posted by maxfm on 22nd Februari 2021
| 2575 views
Evi Silvian Rospita – Pegiat Pendidikan [Foto: Istimewa]

MaxFM, Waingapu – Pada tulisan sebelumnya penulis membahas tentang 2 hal yang dapat meningkatkan kepercayaan guru (bawahan) kepada Kepala Sekolah (atasan) antara lain: (1) Menumbuhkan kepercayaan dengan memahami apa itu kepercayaan, (2). Memonitor reaksi. Dimana dijabarkan pentingnya bagi Kepala Sekolah untuk dapat memiliki 3C: Care (Kepedulian), Competence (Kompetensi), dan Character (Karakter). Kemampuan Kepala Sekolah dalam memonitor reaksi wajah saat merespon suatu situasi juga penting.Kedua hal di atas dapat menumbuhkan kepercayaan guru kepada Kepala Sekolahnya sehingga ketika atasannya tersebut meluncurkan ide perubahan di tingkat sekolah maka guru akan dengan senang hati menjalankannya.




Kepercayaan dari anggota organisasi mutlak diperlukan untuk dapat mencapai perubahan bermakna yang dampaknya akan membuat organisasi terus bertumbuh. Jika organisasi terus bertumbuh, maka kesempatan untuk mencapai tujuan besar sebuah organisasi akan dapat terwujud dengan lebih mudah. Perubahan yang sehat di tingkat Satuan Pendidikan (Sekolah) mutlak memerlukan bantuan guru-guru. Untuk itu, Guru harus memiliki kepercayaan kepada pimpinanannya atas ide perubahan yang diusung.

Jika guru tidak percaya kepada pimpinannya maka bisa dipastikan perubahan urung terjadi. Ilustrasinya mungkin seperti ini, apa yang akan kita lakukan apabila kita mendapati atasan kita terlihat seperti takut menyelesaikan sebuah permasalahan?
Penulis sering mendapati bahwa Kepala Sekolah yang kurang tegas atau takut dalam menyelesaikan permasalahan dengan guru tertentu membuat guru lain merasa patah arang pada apa yang dikatakan Kepala Sekolah. Dalam tugas penulis mendampingi para guru di beberapa provinsi selama 2 (Dua) tahun terakhir, penulis beberapa kali melihat situasi dimana anak-anak harus bermain di halaman sekolah karena gurunya tidak datang hari itu. Rasa sakit di hati tidak bisa digambarkan ketika diketahui bahwa kejadian ini seringkali terjadi, bahkan pernah seminggu penuh guru tidak hadir tanpa kabar.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons