Scroll to Top
AKHIRI TUBERKULOSIS
Posted by maxfm on 5th Desember 2018
| 68 views
FX. Wikan Indrarto Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

MaxFM, Waingapu – Tuberkulosis (TB) adalah salah satu dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2017 terdapat 10 juta orang jatuh sakit TB dan sekitar 1,6 juta meninggal, termasuk 0,3 juta pada orang dengan infeksi TB dan HIV. Selain itu, sekitar 1 juta anak sakit TB tertular dari orang dewasa di sekitarnya dan 230.000 anak meninggal, termasuk anak dengan infeksi HIV dan TB. Apa yang harus kita lakukan?

TB terjadi di setiap bagian di belahan dunia. Pada tahun 2017, jumlah terbesar kasus TB baru terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, dengan 62% kasus baru, diikuti oleh wilayah Afrika, dengan 25% kasus baru. Pada 2017, 87% kasus TB baru terjadi di 30 negara dengan beban TB yang tinggi dan delapan negara menyumbang dua pertiga dari kasus TB baru, yaitu India, Cina, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan.

Secara global, kejadian TB menurun hanya sekitar 2% per tahun dan sebenarnya penurunannya perlu dipercepat hingga 4-5% untuk mencapai sasaran tahun 2030, sesuai Strategi Mengakiri TB (End TB Strategy). Diperkirakan 54 juta jiwa telah berhasil diselamatkan melalui proses diagnosis dan pengobatan TB yang tepat antara tahun 2000 dan 2017. Mengakhiri epidemi TB pada tahun 2030 adalah salah satu target kesehatan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.



WHO telah melangkah lebih jauh dan menetapkan target 2035 pengurangan 95% kematian dan penurunan 90% kejadian TB, dibandingkan dengan tingkat saat ini dan sama dengan di negara yang memiliki insiden TB rendah saat ini. Strategi ini menggunakan tiga pilar strategis untuk mengakhiri epidemi secara efektif. Pilar 1 adalah perawatan dan pencegahan yang terpusat pada pasien. Pilar 2 adalah kebijakan yang berani dan sistem yang mendukung dan Pilar 3 adalah penelitian intensif dan inovasi.

Dr. Lucica Ditiu, Direktur Eksekutif STOP TB Partnership mengenalkan strategi baru yang disebut ‘Zero TB Cities’ yang merupakan bagian dari ‘Zero TB Initiative’. Gagasan ini adalah perubahan paradigma, dengan tujuan setiap orang sakit TB di sebuah kota akan memiliki akses ke layanan dengan standar setinggi yang telah tersedia dalam dekade ini, di Eropa dan Amerika Utara. Inisiatif Nol TB (Zero TB) memiliki tiga cara, yaitu pertama mendukung koalisi antara pemerintah daerah, pebisnis, dan masyarakat sipil. Kedua, menggunakan pendekatan Search-Treat-Prevent (Pencarian – Pengobatan – Pencegahan) yang komprehensif. Ketiga, berfokus pada pencegahan menggunakan obat INH (isoniasid) dan perawatan TB di rumah, fasilitas kesehatan dan tempat bekerja.

Inisiatif Zero TB bertujuan untuk mengatasi epidemi TB global ke fase eliminasi, dengan berfokus pada partisipasi pemerintah daerah untuk mendorong dan mempertahankan keberhasilan melawan penyakit TB.
The Zero TB Cities project (Proyek Kota Nol TB) berkomitmen untuk memanfaatkan kerangka kerja komprehensif berbasis bukti, untuk secara signifikan meningkatkan deteksi kasus, mengurangi penyakit, dan angka kematianTB. Program ‘Zero TB Cities’ telah dilaksanakan di Odessa (Ukraina), Dhakka (Bangladesh), Ho Chi Minh City, Hai Phong, dan Hoi An (Viet Nam), Chennai (India), Karachi (Pakistan), serta Carabayllo dan Lima (Peru).



Namun demikian, sebaiknya kita mengingat bahwa GARC (the Global Alliance for Rabies Control) juga memiliki target eliminasi rabies pada tahun 2030. Caranya adalah dengan mengunakan dua jenis vaksin rabies, yaitu Profilaksis Pra-Pajanan (PrPP), yaitu vaksinasi pencegahan sebelum paparan virus rabies, dan Profilaksis Pasca Pajanan (PEP), yaitu vaksinasi untuk menghentikan timbulnya rabies setelah terpapar virus. UNICEF, WHO dan Gavi (the Vaccine Alliance) pada 17 Desember 2017 telah melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Bharat Biotech’s Typbar-TCV®, yaitu vaksin konjugasi tifus (TCVs) untuk menghapus tifus. WHO sudah mengenyahkan penyakit polio dari seluruh dunia pada tahun 2018 (WHO Year 2018 Polio End Game), dengan beralih dari pemakaian vaksin polio oral (OPV) ke vaksin polio suntikan atau IPV (Inactivated Polio Vaccine), dengan cakupan di atas 95%. Bahkan eliminasi campak dan rubella (congential rubella syndrome), juga dilakukan lewat imunisasi massal dan pendekatan case based measles surveillance (CBMS).

Pekan Imunisasi Dunia yang diselenggarakan pada Minggu terakhir bulan April setiap tahun, mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi. Tema tahun 2017 lalu adalah : #VaccinesWork, untuk mengingatkan tentang kekuatan kerja vaksin yang masih belum dimanfaatkan sepenuhnya (the power of vaccines still not fully utilized), pada hal vaksin mampu mencegah banyak kematian. Rencana global atau ‘The Global Vaccine Action Plan’ yang ambisius, adalah menjangkau semua orang dengan vaksin pada tahun 2020. Semua pemimpin dalam bidang kesehatan, ditantang untuk mewujudkan imunisasi sebagai salah satu kisah sukses terbesar dalam bidang kedokteran modern. Tidak ada intervensi dalam bidang kesehatan dalam aspek preventif tunggal yang lebih hemat biaya, dibandingkan imunisasi. Mengenyahkan penyakit menular hanya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan imunisasi, bukan sekedar memperbaiki terapi, yang terbukti boros biaya dan belum menunjukkan hasil setimpal.



Bacille Calmette-Guérin (BCG) adalah vaksin untuk mencegah TB yang dibuat dari baksil tuberkulosis (Mycobacterium bovis) yang dilemahkan. Vaksin BCG 80% efektif dapat mencegah TB selama 15 tahun, tetapi efeknya bervariasi tergantung kepada kondisi geografis. Dokter Albert Calmette dan seorang peneliti bernama Camille Guerin yang menemukan vaksin sehingga dinamakan vaksin Bacillus Calmette Guerin (BCG). Penelitian mereka untuk menemukan vaksin ini telah dimulai sejak tahun 1906 dan pada tahun 1921 tercipta vaksin BCG. Penelitian tentang vaksin BCG sejak ditemukan, sangat mungkin paling jarang dibandingkan vaksin lainnya.

Di Indonesia, program ‘Zero TB Cities’ ini akan dilaksanakan di Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo, keduanya di DIY. Peresmiannya akan dilakukan pada Hari TB Sedunia pada Minggu, 24 Maret 2019. Proyek ambisius sebagai bagian dari inisiatif ‘Zero TB’ dengan pendekatan ‘Search-Treat-Prevent’ tanpa pengembangan imunisasi BCG yang terbukti belum cukup efektif, tentu menjadi dilematis dan perlu dikritisi.

Sudahkah kita cerdas?

FX. Wikan Indrarto – Dokter Spesialis Anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM

Print Friendly, PDF & Email