Scroll to Top
Tenun Ikat Kaliuda Mendunia, Ibu Rumah Tangga Andalkan sebagai Penopang Ekonomi Keluarga
Posted by maxfm on 19th Mei 2026
Tenun Ikat Kaliuda Mendunia, Ibu Rumah Tangga Andalkan sebagai Penopang Ekonomi Keluarga [Kolase Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu, SUMBA – Tenun ikat tradisional asal Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, telah dikenal luas hingga ke mancanegara. Di balik keindahan motif dan filosofinya, kerajinan ini menjadi tulang punggung ekonomi bagi mayoritas ibu rumah tangga di wilayah tersebut. Hasil menenun mereka digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak serta memenuhi kebutuhan domestik keluarga sehari-hari.



Kepala Desa Kaliuda, Khristanto Umbu Windi, di sela-sela acara Pekan Budaya Sumba Timur yang berlangsung di Museum Umbu Hina Kapita pada Selasa 19 Mei 2026, menjelaskan bahwa pemerintah desa memberikan dukungan nyata bagi para pengrajin. Bentuk dukungan tersebut berupa alokasi dana desa untuk pengadaan bahan baku serta peralatan menenun.

“Meskipun penjualan saat ini masih didominasi oleh transaksi langsung pada acara-acara tertentu, beberapa warga mulai merambah pasar melalui platform daring. Ini dilakukan untuk meraih pasar yang lebih luas, tidak hanya di Sumba tetapi juga hingga ke luar negeri,” jelas Khristanto.



Selain dukungan dari desa, pemerintah kabupaten juga turut berkontribusi. Khristanto menambahkan bahwa kontribusi tersebut meliputi pelatihan keterampilan dan penyediaan akses bagi para pengrajin ke berbagai pameran pariwisata. Menurutnya, upaya kolektif ini membuktikan bahwa pelestarian budaya lokal mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.

Namun, Khristanto mengakui bahwa saat ini masalah utama yang menjadi perhatian adalah pemasaran akibat keterbatasan literasi digital. Penjualan secara daring baru bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja dan belum merata ke seluruh pengrajin.

“Mayoritas ibu-ibu pengrajin masih sangat bergantung pada kunjungan tamu atau adanya acara-acara tertentu untuk menjual produk mereka secara langsung,” ungkapnya.



Untuk mengatasi persoalan tersebut dan meningkatkan nilai ekonomi tenun ikat, sejumlah strategi telah dijalankan. Beberapa di antaranya adalah mulai diterapkannya penjualan melalui *marketplace* oleh warga yang sudah memiliki kemampuan teknologi. Selain itu, pemerintah kabupaten melalui Dinas Pariwisata secara rutin memberikan kesempatan bagi para pengrajin untuk mengikuti pameran guna memperkenalkan produk ke khalayak yang lebih luas, serta sering mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk tenun Kaliuda. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons