
MaxFM Waingapu, SUMBA – Di tengah gempuran produk modern, seorang pengrajin lokal asal Sumba Timur, Tatu Ana Lodu, dengan tekun menjaga warisan budaya Nusantara. Memanfaatkan daun lontar dan daun pandan dari kebun sendiri, ia menciptakan beragam kerajinan tangan yang tidak hanya indah tetapi juga sarat makna sosial dan adat.
Ditemui di lokasi acara Pekan Budaya Sumba Timur di Museum Umbu Hina Kapita, Matawai, Selasa, 19 Mei 2026 siang, produk-produk buatan Tatu Ana Lodu dan kelompoknya sangat beragam, mulai dari topi dengan harga Rp75.000 hingga Rp100.000 terbuat dari daun pandan, ada juga produk lain seperti tempat simpana uang koleksi saat ibadah rumah tangga dijual seharga Rp.50.000.
“Dompet, tempat ponsel, hingga wadah sirih pinang yang menjadi elemen penting dalam setiap upacara adat Sumba juga terbuat dari daun pandan. Untuk produk dengan lapisan ganda (dopel) yang lebih tebal, harganya mencapai Rp200.000, agak mahal karena selain sulit cara membuatnya, juga bahannya dari daun lontar yang harus dibeli di pasar impres. Beberapa kerajinan juga dihiasi motif khas, seperti gambar kura-kura, orang naik kuda dan lainnya,” jelas Tatu Ana Lodu pengrajin lokal asal Mbatakapidu, Sumba Timur.
Menariknya, kerajinan ini bukan sekadar barang fungsional. Dalam kehidupan masyarakat Sumba, tas anyaman menjadi simbol kedewasaan dan status berkeluarga. Mereka yang sudah menikah diwajibkan membawa tas tersebut dalam setiap acara adat atau pertemuan sosial, bahkan saat pergi ke gereja.
“Mbola pahapa ini (tas) terbuat dari daun lontar, digunakan untuk menyimpan uang dalam acara adat, menyimpan mamoli, sirih pinang, sekaligus menjadi penanda identitas seseorang dalam komunitas,” jelas Tatu Ana Lodu.
Terkait penjualan Tatu Ana Lodu bilang dilakukan secara langsung dengan sistem pesanan, maupun berkeliling dari rumah ke rumah. Masyarakat yang berminat juga dapat memesan secara daring melalui nomor telepon yang disediakan. Tatu Ana Lodu juga kerap memamerkan karyanya dalam acara khusus, dengan produk tersedia hingga tanggal 23 Mei di lokasi Pekan Budaya Sumba dan dititip di penyelenggara acara.
“Bagi yang sudah berkeluarga, setiap orang harus membawa satu tas sebagai pendamping saat duduk makan sirih pinang bersama dalam suatu acara. Ini bukan hanya wadah, tapi bagian dari etiket sosial kami,” ungkap Tatu Ana Lodu menekankan pentingnya warisan leluhur ini.
Dengan ketekunannya, Tatu Ana Lodu membuktikan bahwa daun lontar dan pandan bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomis sekaligus pelindung tradisi. [HD]








