Scroll to Top
Bahasa Yang Ambivalen
Ditulis oleh Frans Hebi on 5th Februari 2015
| Dilihat 1562 kali
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans  Wora Hebi
Nara Sumber Tetap Acara Bengkel Bahasa Max FM, Frans Wora Hebi

MaxFM, Waingapu – Ambivalen atau Ambuigitas kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mengandung arti, “mendua”, “membingungkan”, atau “mana yang benar”.

Kita langsung saja pada contoh :
Seorang bapak elergi mendengar orang berbicara soal cinta dan cemburu. Bukan hanya elergi melainkan dia lampiaskan dalam bentuk bahasa. “Berhenti berbicara soal cinta dan cemburu ! Kamu amat bodoh, mau meracuni masyarakat. Tidak heran kalau nanti pemuda-pemudi kita terjun ke frr sex alias sex bebas”.

Tapi herankah kita, pai tua ini rajin sekali menonton sinetron terutama yang ada adegan-adegan hot, seperti kiss-kissan, cium-ciuman, berpakaian ngepres yang memperlihatkan perut, separuh dada, top-less, back-less dan lain-lain less yang konon dewasa ini dikenal dengan sebutan  “pakian pancingan”. Dan yang lebih mengherankan, anak-anak juga turut nonton dengan pai tua.

Di sini timbul ambivalensi di kalangan anak-anak. Anak-anak yang sudah dewasa, misalnya SMA yang sudah kritis akan menilai bapak mereka munafik, sock suci, atau semuci-suci kata orang jawa. Berbicara soal cinta dan cemberu, kok elergi sedangkan menonton adegan gila dia sangat tergila-gila, gandrung. Kilah mereka.

Anak-anak yang belum kritis akan mempunyai persepsi yang miring. Jadi, bapa tidak melarang nonton adegan-adegan seks baik lewat reklame maupun lewat  film. Asal jangan mendengar apalagi berbicara soal cinta dan cemburu.

Persepsi anak-anak yang belum kritis tadi bisa benar kalau kita hubungkan dengan apa yang diungkapkan Hayakawa seorang pemikir ulung. Menurut Hayakawa, janganlah kita mengartikan sebuah kata menurut huruf-hurufnya, melainkan lihatlah apa yang dia perbuat atau lakukan dengan kata-kata itu. Misalnya, kata-kata, saya elergi, saya paling tidak suka, tetapi dalam tindakannya gandrung dan tergila-gila.

Banyak contoh orang-orang yang memiliki sikap yag ambivalen. Ada pejabat yang terus-menerus meneriakan, “anti korupsi” padahal di instansinya sendiri merajalela korupsi mulai dari kepala sampai kebawah. Maka arti kata anti korupsi di sini ialah pemerataan korupsi.

Anak kecil minta uang pada ibunya karena baru saja dia melihat ibunya menaruh uang kedalam dompet. Ibu mengatakan “tidak ada uang”. Anak kecil ini akan punya persepsi tidak ada uang artinya ada uang. Mengapa ibu tidak mengatakan, “memang ada uang tapi hanya pas untuk beli minyak goreng.

Tempo dulu pemerintah mengatakan harga BBM tidak naik tapi hanya disesuaikan. Ternyata naik.  Maka kata disesuaikan artinya naik. Pegawai negeri adalah abdi/hamba negara. Dalam layanan masyarakat yang sebenaranya hak mereka, harus menunggu berhari-hari, berminggu-minggu karena sistem birokrasi yang menuntut banyak persyaratan. Jadi, abdi negara artinya tuannya negara.

Kita bisa membuat sebuah litani panjang yang tidak berkesudahan menyangkut bahasa ambivalen, seperti bahasa-bahasa kampanye Pilkada, Pilgub, dan pil-pil yang lain yang diformulasikan dalam janji-janji yang ternyata hanya hampa.

Print Friendly, PDF & Email