Scroll to Top
Sindir – Menyindir
Posted by maxfm on 15th Juli 2014
| 5980 views
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM

MaxFM, Waingapu – “Nenek genit!”, kata orang-orang menjuluki seorang ibu yang usianya mendekati nenek-nenek tapi dandanannya wah…wah. “Rajin singgah, o…o”, nyeletuk seseorang melihat Tinus beberapa kali mampir ke rumah seorang janda muda. “Datangnya tepat waktu”, kata ketua panitia kepada salah satu undangan yang sebenarnya sudah lambat setengah jam. Dan masih banyak kata sindiran yang kita obral stiap hari.

Mungkin sekali orang yang mengeluarkan kata-kata sindiran itu bermaksud baik untuk merubah sikap atau tingkah laku seseorang yang tidak tepat. Risikonya jika orang yang dituju tidak senang kalau orang lain turut campur dengan urusannya. Apa lagi jika orang yang disindir itu fanatik, artinya tidak suka mendengarkan nasihat orang lain. Dia berasumsi bahwa orang yang selalu dinasihati pertanda orang bodoh, punya banyak kekurangan. Dalam dunia nyata kita tidak akan pernah menemukan orang  yang menganggap diri bodoh, mungkin saja dalam ucapannya demikian tapi  hati kecilnya berbicara lain.

Orang Jawa punya ungkapan soal kritik-mengkritik. Dikatakan kalau ingin  mengkritik harus melihat tingkat sosial seseorang. Jadi bupati disenyumi, camat disinis dan rakyat kebanyakan dikritik secara terus-terang kalau perlu dipukul. Maksudnya, kalau gubernur mangadakan sidak (inspeksi mendadak atas program kerja bupati yang ternyata sama sekali belum terlaksana, maka cukup dia disindir dengan senyuman. Tentu saja bukan senyum tulus melainkan senyum sinis atau senyum diplomat. Bupati yang paham akan segera berusaha mewujudkan programnya. Kalau camat, sindirannya harus  ditingkatkan menjadi sinis. Misalnya, “Ini sudah pertengahan tahun, pasti pak camat harus ngebut untuk memenuhi target menyangkut programnya”. Sedangkan rakyat jelata tidak bisa disindir karena mereka tidak paham. Harus secara langsung. “Kamu harus bekerja keras, tidak mungkin Dinas Sosial membagi-bagi beras untuk kamu”.

Dalam pelajaran sastra kita  menemukan gaya bahasa sindiran. Ada yang halus, ada yang biasa dan ada juga yang kasar. Di antaranya:

Ironi, yaitu sindiran halus dengan ungkapan yang menyembunyikan maksud terselubung dalam rangkaian kata-kata. Namun demikian ironi hanya akan berhasil kalau orang yang dituju menangkap pesan-pesan itu.
Misalnya, – Anda memang perlu diacungkan jempol karena semua kebijakan terdahulu anda rombak seluruhnya.
–    Semua orang tahu bahwa anda adalah wanita paling cantik yang perlu mendapat penghargaan`

Sinisme, yaitu sindiran yang lebih tajam dari ironi.
Misalnya: – Sebenarnya anda harus malu karena hidupmu selama ini hanya sebagai parasit.
–    Inilah pejabat yang diidam-idamkan, yang senangnya menari-nari di atas penderitaan rakyat.

Sarkasme, yaitu sindiran yang kasar, menghujat, menghina, memaki orang.
Misalnya: Otak udang; otak penyu; perut karet; anjing; kerbau; tebal kulit; monyet; ular beludak; mata duitan; mata keranjang; buaya darat; badot; dsb.

Dalam sastra klasik ada banyak peribahasa/pepatah/ungkapan yang sifatnya menyindir terhadap orang-orang yang punya perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya: –  Tong kosong nyaring bunyinya.
–    Besar pasak dari pada tiang.
–    Mulutmu harimaumu.
–    Musuh dalam selimut.
–    Telunjuk lurus kelingking berkait.
–    Mata lebih besar dari perut.
–    Seperti kubur berlabur putih.
–    Seperti kerbau dicocok hidung.
–    Seperti air di daun talas.
–    Buruk muka cermin dibelah.
–    Lempar batu sembunyi tangan.
–    Air beriak tanda tak dalam.
–    Nantikan sampai kucing bertanduk.
–    Menambah garam di laut.
–    Menohok kawan seiring menggunting dalam lipatan.

Ada juga sejenis pantun kilat atau karmina yang digunakan untuk menyindir. Karmina adalah pantun yang terdiri dari dua baris tiap larik dan bersajak a-a. Baris pertama merupakan sampiran, dan baris kedua adalah isi. Jika mau menyindir, cukup sampirannya saja yang diucapkan, karena dengan sendirinya orang yang dituju paham apa maksudnya.
Contoh: -Kurang pikir kurang siasat
-Tentu dirimu kelak tersesat

-Pinggan tak retak nasi tak dingin
-Engkau tak hendak aku tak ingin

-Jinak-jinak merpati
-Didekati ia terbang

-Malu-malu kucing
-Di belakang orang mengeong

-Ujung bendul dalam semak
-Kerbau mandul banyak lemak

-Kayu lurus di tengah ladang
-Kerbau kurus banyak tulang

Ada sejenis ironi yang disebut satire, yakni suatu uraian yang panjang dalam sebuah tulisan. Untuk memahaminya harus dibaca secara keseluruhan. Satire mengandung kritik yang menertawakan atau menolak sesuatu yang merupakan kelemahan manusia. Tujuannya untuk melakukan perbaikan secara etis maupun estetis. Biasanya tulisan itu dalam bentuk opini.

Contoh tulisan kami yang mengandung satire: ( Di sini kami hanya sebutkan judulnya)
–    Pendidikan Kita yang Penuh Buram
–    Sebuah Esai tentang Sang Guru yang Gelisah
–    Belum Saatnyakah Teori Walace Itu Ditinjau Kembali?
–    Pengajaran Tata Bahasa Tidak Relevan Lagi Dewasa Ini
–    Pak Kutip dan Pak Turut Memprotes

Inuendo adalah sejenis sindiran dengan mengecilkan keadaan yang sebenarnya. Sindiran yang mensugesti secara tidak langsung, karena itu tidak menyakitkan hati jika dilihat sepintas.
Contoh: – Setiap kali ada pesta, pasti dia akan sedikit mabuk karena terlalu banyak minum.
–    Ia menjadi kaya-raya karena sedikit melakukan komersialisasi jabatan.

Menghadapi sindiran tentu saja sangat tergantung dari pribadi yang dituju. Mungkin saja bagi sebagian orang menganggap ironi sebagai sinisme bahkan sarkasme.    Jadi sangat tergantung dari temperamen seseorang. Kalau seseorang disindir dengan sarkasme tapi dia tidak merasa, itu tandanya dia orang flegmatis, sudah putus saraf empatinya.

Memang ada peribahasa lama yang mengungkapkan tentang adanya orang yang bisa bertahan terhadap ungkapan atau kiasan dalam:
–    Binatang tahan palu, manusia tahan kias.

Orang yang tidak bisa tahan kias (sindiran) biasanya  akan membalasnya dengan amokan yang lebih sadis dan ini menandakan ketidakdewasaan emosi. Orang yang dewasa emosionalnya menanggapi sindiran dengan cara yang etis sehingga tidak menimbulkan konflik. Bahkan tidak menanggapinya sama sekali. Jika beberapa kali orang melontarkan sindiran yang tidak ditanggapi mungkin dengan sendirinya dia akan bosan dan tidak menyindir lagi. ( Oleh : Frans W. Hebi )

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons