Scroll to Top
Tinju Tradisional Kodi
Posted by maxfm on 28th Februari 2014
| 2532 views
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM
Frans Wora Hebi, Senang Menulis, Narasumber Tetap di Acara Bengkel Bahasa Max FM

MaxFM, Waingapu – Pertengahan Pebruari baru-baru ini saya didatangi seorang Ibu, Yuli Odeh namanya. Dia orang Jawa asal Sidoarjo, tapi kawin dengan orang Siria, Lebanon dan menetap di Mainz Jerman karena suaminya tidak mau wajib militer menurut peraturan negaranya setelah lulus sarjana di Jerman. Yuli juga kuliah di Jerman. Tadinya dia dosen Olahraga di UNESA Surabaya yang sebelumnya IKIP. Juga mengajar Olahraga Renang di SD Ciputra.  Untuk mengambil S3 Yuli diwajibkan oleh Fakultasnya membuat disertasi tentang tinju tradisional di Indonesia dalam kaitannya dengan dopping.

Yuli bermaksud menulis disertasi tentang tinju tradisional Kodi. Sebelum ke Kodi dia mampir di rumah saya di Waingapu untuk wawancara soal tinju dan dopping. Wawancara berlangsung cukup lama. Saya jelaskan sesuai dengan apa yang saya ketahui. Ketika ditanya soal dopping saya jadi kikuk. Karena dopping yang biasa dilakukan para olahragawan (petinju, atlet) tidak dikenal di Kodi. Saya hanya menjelaskan, bahwa menyangkut dopping paling-paling orang Kodi makan sirih-pinang-tembakau, dan ini sudah merupakan konsumsi sehari-hari tidak menunggu saat bertinju. Padahal maksud Yuli dopping yang biasa dilakukan oleh masyarakat tradisional yang supranatural, magis dan karenanya sulit dites sebelum bertinju.

Ketika Yuli mewawancarai Bapa Lota Hangga (80 thn) keluarga saya di Kodi, barulah keinginannya terpenuhi. Seusai wawancara Bapa Lota Hangga memberi dia satu botol kecil berisi akar kayu yang diberi minyak. Dijelaskan minyak guna-guna itu bukan untuk diminum, melainkan dioleskan pada kepal tangan, atau ditiupkan pada ujung jari sebelum bertanding. Dapat juga botol kecil itu ditaruh di pinggang karena kerjanya misteri, supranatural. Semua petinju memiliki guna-guna penangkis yang disebut marapu patukung, guna-guna tinju.

Print Friendly, PDF & Email
Show Buttons
Hide Buttons