Scroll to Top
Rambu Linggawandal Yang Culas
Posted by maxfm on 19th November 2013
| 774 views
Frans Wora Hebi
Frans Wora Hebi

MaxFM, Waingapu – Dua orang gadis kakak-beradik. Rambu Linggawandal yang kakak, Rambu Kahi adik. Keduanya di suruh orang tua menimba air di mata air. Mereka membuat senggulung dari lemak babi sebagai alas periuk tanah yang mereka junjung. Rambu Linggawandal menyuruh adiknya berjalan lebih dahulu, sedangkan dia membuntutinya dari belakang.

Di perjalanan Rambu Linggawandal mencubit sedikit demi sedikit senggulung di kepala adiknya sampai ludes ketika mereka tiba di mata air. Sepulang, gara-gara tidak ada alas kepala periuk Rambu Kahi tidak seimbang sehingga jatuh dan pecah.

Melihat wadah air adiknya pecah, dia mulai menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa dia bakal di bunuh oleh oarng tua. Mendengar hal itu, Rambu Kahi melarikan diri ke hutan.

“Di mana adikmu?”, tanya kedua orang tua. “Dia melarikan diri ke hutan gara-gara memecahkan periuk”, tukas Rambu Linggawandal. “ Pokoknya cari adikmu sampai ketemu”, perintah kedua orang tua yang merasa cemas, mengapa hanya gara-gara periuk tega melarikan diri ke hutan.

Rambu Linggawandal mencari dimana adiknya bersembunyi. Dari jauh dia memanggil. Setelah ada jawaban, Rambu Linggawandal bahkan tambah menakut- nakuti adiknya. “ lebih baik jauh dari sini karena bapak dan ibu akan membunuh engkau karena memecahkan periuk?”, teriaknya.

Pulang rumah Rambu Linggawandal tidak melaporkan keadaan yang sebenarnya. Dia membohongi orang tua dengan mengatakan tidak bertemu dengan Rambu Kahi. “ Jangan- jangan kau marahi adikmu sehingga tidak mau kembali?”, tanya orang tua. Rambu Linggawandal menyangkal. Dan untuk kedua kalinya dia di suruh lagi.

Akan tetapi di tengah jalan dia duduk saja, dan tidak mau mencari adiknya. Sekembali dia melaporkan, bahwa dia tidak menemukan Rambu Kahi. Jangankan bertemu, jejaknya saja pun tidak ada. Karena itu kedua orang tua merasa putus asa.

Sejak peristiwa itu Rambu Kahi semakin jauh melarikan diri dan akhirnya tiba di kebun Apu Millimongga di tengah hutan belantara. Karena lapar maklum sudah berhari-hari tidak makan, dia mengambil tebu di kebun dan makan.

Tidak lama kemudian Apu Millimongga pemilik kebun itu datang. “ Hai, siapa yang mengambil tebu saya tanpa izin?”. “ Nenek, saya lapar sekali karena sudah berhari-hari tidak makan. Saya lari dari rumah karena orang tua mau membunuh saya”, jawabnya. “ Dan siapa namamu?”. “ Rambu Kahi” dia menjawab. “ Kau gadis yang jujur. Karena kau jujur maka saya tidak berani memarahimu, bahkan saya mengajakmu untuk tinggal bersama saya”. “ saya senang sekali nenek”, jawab Rambu Kahi. Saat itu Rambu Kahi tidak kemana-mana lagi tetapi tinggal di rumah Apu Millimongga.

Melihat ketulusan gadis itu pada suatu pagi Apu Millimongga menyuruh Rambu Kahi ke kebun, katanya, “ Petik tomat yang matang dan bawah kemari. Sayat mata tomat dan tempelkan pada matamu, kemudian bertanyalah siapa yang melihatmu. Nanti kau saksikan apa yang terjadi”.

Rambu Kahi menuruti perintah Apu Millimongga. Saat bertanya siapa yang melihatnya, dia takjub mendengar suara merdu yang menjawab, “Saya?”. Ketika dia membuka mata tampaklah seorang pemuda tampan. Dia memperkenalkan diri sebagai Umbu Dilu, seorang raja yang kaya- raya. Karena buku dan ruas telah bertemu, Rambu Kahi juga cantik, maka raja Umbu Dilu memboyong dia ke istana dan mengawininya.

Beberapa saat kemudian atas izinan Apu Millimongga pengantin baru itu pergi ke rumah orang tua Rambu Kahi guna memohon restu dan untuk memastikan apakah mereka masih hidup. Setiba di rumah Rambu Kahi menceritakan seluruh perjalanan hidupnya hingga mendapatkan jodoh seorang raja yang kaya kepada kedua orang tua termasuk Rambu Linggawandal kakaknya.

Mendengar kisah Rambu Kahi yang beruntung, Rambu Linggawandal iri hati. Dia juga berniat menjadi istri seorang raja mengikuti jejak adiknya. Karena itu dia minggat dari rumah orang tua dan mencari kebun Apu Millmongga sampai ketemu. Dia mematahkan dua batang tebuh dan memakannya. Ketika Apu Millimongga
menegurnya, dia menjawab bahwa itu puntung-puntung sisa makan orang yang dia pilih karena lapar. Katanya berbohong.

Apu Millimongga mengajak dia bermalam. Keesokan pagi Apu Millimongga menyuruh Rambu Linggawandal memetik tomat yang sudah memar karena terlalu matang. Kemudian menyuruh menyayat mata dan memempelkan pada matanya seperti yang di perbuat Rambu Kahi.

Ketika dia membuka mata, alangkah kecewanya karena yang bakal menjadi suaminya adalah seorang tua rentah setinggi raksasa dengan muka yang seram. Karena merasa ngeri dan takut, Rambu Linggawandal lari tunggang langgang tak tahu entah ke mana.

( Oleh : Frans W. Hebi, Penulis, tinggal di Kalu-Waingapu )

Pesan cerita:
Jangan membuat curang karena akan mendatangkan bencana

Print Friendly, PDF & Email