Scroll to Top
Masyarakat Sumba Bersumpah Menjaga Dan Melindungi Hutan
Ditulis oleh maxfm on 4th November 2013
| Dilihat 1626 kali
Rato Marapu Dairo Bobo ( berikat kepala warna kuning ) sedang mengamati hati babi
RatoPasola Sebagai Ungkapan Syukur Penganut Marapu Di Sumba. Read more ... » MarapuJansen Hebi "Marapu": "Sarjana Olah Raga Yang Memilih Tinju Sebagai Jalan Hidupnya". Read more ... » Dairo Bobo ( berikat kepala warna kuning ) sedang mengamati hati babi

MaxFM, Waingapu – Masyarakat 3 gunung di Sumba, Nusa Tenggara Timur NTT bersumpah untuk menjaga, melindungi hutan dan alam sekitarnya.

Sumpah ini disampaikan dalam ritual adat di Festifal Wai Humba yang dilakukan di desa Dikira Wewewa Timur Sumba BaratPasola Sebagai Ungkapan Syukur Penganut Marapu Di Sumba. Read more ... » Daya pada 2-3 November ini.

Aktivis Lingungan dari Komunitas Peduli Martabat Sumba Umbu Wulang yang ikut merancang festifal ini mengatakan, gunung Yawila, Tana Daru dan Wanggameti merupakan 3 gunung di pulau Sumba sebagai penyumbang utama peradaban orang Sumba.

Ikrar sumpah adat disini hasilnya itu komunitas 3 gunung ini bersepakat bahwa mereka kukuh menjaga tiga gunung ini agar tidak dirusak, agar tidak dilakukan kegiatan – kegiatan yang berpotensi mengurangi daya suplai terhadap kehidupan masyarakat, jadi mereka juga bersepakat tidak boleh ada pertambangan di 3 gunung ini.

Masih kata Umbu Wulang, 3 gunung di Sumba ini juga menjadi sumber air, sumber papan, sumber bibit sumber tanaman dan energi untuk masyarakat Sumba.

Sementara itu Rato Marapu Dairo Bobo ( 46 th ) yang memimpin masayarakat untuk menaikkan doa di ritual ini mengatakan, permohonan masyarakat tiga gunung ini di kabulkan oleh yang kuasa pemilik semesta serta didukung para leluhur, hal ini kata dia dibuktikan dengan tanda yang dilihatnya lewat hati babi.

Tambah Rato Dairo Bobo, bila ada masyarakat yang melanggar sumpah ada ini dengan melakukan pencurian kayu dari hutan, membuang racun ikan di sungai dan mencuri ternak akan menangung akibatnya karena akan terkena sambaran petir, kalau sedang dipadang akan digigit ular, dan kalu dijalan akan ketabrak kendaraan sampai mati.

Rangkaian sumpah adat ini dipimpin para Rato, dimulai tengah malam hingga dini hari , lagu daerah dan baitan adat terdengar merdu, gong dan hentakan tambur mengiringi tarian, diikuti teriakan kayaka dan kakalak, memaknai Festifal Wai Humba, di kaki gunung Yawila.

 

Print Friendly, PDF & Email
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterEmail this to someone
Berita lainnya:close