Scroll to Top
Teologi Ekologi dan Kearifan Lokal Sumba: Merawat Bumi sebagai Rumah Bersama
Posted by maxfm on 3rd Juli 2026
Pdt. DR. Irene Umbu Lolo Memimpin Ibadah Pembukaaan Sidang Sinonde GKS ke-44 di Jemaat Nggongi, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, NTT, Kamis, 2 Juli 2026 [Foto : Heinrich Dengi]

MaxFM Waingapu SUMBA – Sidang Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) ke-44 yang berlangsung pada 2-10 Juli 2026 di GKS Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, Sumba Timur, mengusung tema besar “Merawat Kehidupan dalam Kasih Kristus”. Tema ini dijabarkan melalui subtema “Merawat bumi sebagai rumah bersama, memperjuangkan keadilan dan kebenaran, serta meneguhkan nilai-nilai budaya dalam terang Injil.”

Pendeta Irene Umbu Lolo dalam khotbah pembukaan Sidang Sinode GKS ke 44 mengambil bacaaan dari Mazmur 24 : 1-5 dan dibacakan dalam berbagai bahasa daerah di Sumba. Dilanjutkan dengan pengantar dalam bentuk refleksi tentang situasi Sumba terkini melalui narasi pengalaman hidup di Sumba yang dibawakan oleh 3 narator.



Pendeta Irene membuka khotbahnya melalui tafsir Mazmur 24:1 yang menegaskan bahwa “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya”, ditekankan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan, bukan milik manusia. Allah adalah pemegang “hak cipta” atas kehidupan, sehingga manusia tidak memiliki otoritas mutlak untuk merusak alam demi kepentingannya sendiri .

Manusia diberi mandat ilahi untuk menjadi perawat kehidupan, bukan pemilik semesta. Rancangan Allah bagi ciptaan-Nya adalah kehidupan dan keselamatan, sehingga manusia ditugaskan secara aktif untuk merawat kehidupan dan menggunakan kecerdasan serta kekuatannya untuk mendukung misi keselamatan dunia .

Merusak alam dianggap sebagai perbuatan yang melawan kehendak Allah dan dilakukan oleh mereka yang memiliki hati serta pikiran yang “kotor”. Tindakan destruktif ini tidak mendatangkan berkat, melainkan kutuk dan kebinasaan, sedangkan merawat bumi sebagai “rumah bersama” mendatangkan berkat kehidupan .

Kearifan Lokal Sumba: Harmoni dalam Simbol Mamuli dan Umah

Dalam budaya Sumba Pendeta Irene bilang dalam khotbahknya, tanggung jawab merawat alam tercermin melalui simbol-simbol sakral dan kosmologi yang menghargai koneksi antar makhluk. Simbol Mamuli (rahim) melambangkan bahwa kehidupan berawal dari rahim ibu dan pada akhirnya manusia akan kembali ke “rahim bumi”. Praktik penguburan jenazah yang dibentuk menyerupai janin menunjukkan penghormatan mendalam terhadap bumi sebagai asal dan tujuan akhir kehidupan manusia .



Simbol Umah (rumah) bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menggambarkan kosmologi orang Sumba tentang relasi dan koneksi yang tidak terpisahkan antara Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya. Manusia diyakini tidak dapat hidup tanpa menjaga keharmonisan hubungan ketiga hal tersebut .

Nilai-nilai luhur nenek moyang Sumba ini dipandang sebagai “benih-benih Injil” yang membawa kesadaran akan pentingnya menghargai dan merawat kehidupan secara berkelanjutan .

Pendeta Irene Umbu Lolo secara tegas menyatakan tanggung jawab merawat alam ini harus diwujudkan melalui aksi nyata yang dimulai dari diri sendiri, antara lain:

1. Penanaman pohon: Menanam bibit seperti cendana menjadi simbol kepedulian terhadap kehidupan di Pulau Sumba.

2. Pengurangan sampah plastik: Menyadari bahaya sampah plastik yang merusak lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab etis .



3. Pencegahan kekerasan dalam keluarga: Merawat kehidupan juga mencakup aspek sosial, yaitu mencegah dan menghentikan segala bentuk kekerasan yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga .

4. Aksi kolektif dan kolaborasi: Pemerintah, gereja, institusi, dan seluruh elemen masyarakat diajak untuk menyatukan kapasitas, potensi, daya, serta dana yang dimiliki untuk merawat bumi sebagai “rumah bersama” .

Melalui Sidang Sinode Gereja Kristen Sumba ke-44, diharapkan lahir keputusan-keputusan strategis yang memperkuat peran gereja dalam merespons persoalan sosial dan lingkungan demi mewujudkan kehidupan yang bermartabat di Pulau Sumba. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons