Scroll to Top
Menjaga Atap Adat dan Hutan Sumba: Sinergi Ekonomi dan Konservasi Warga Pataledi di Taman Nasional
Posted by maxfm on 22nd Oktober 2026
Warga Kampung Pataledi, Yudi Keba Dailucsedang merapikan kumpulan alang-alang agar siap di jual [Foto: Heinrich Dengi]

MaxFM WAINGAPU, SUMBA — Warga Kampung Pataledi, Desa Manurara, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, terus merawat kearifan lokal sekaligus menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional melalui pemanfaatan rumput alang-alang.


Rumput alang-alang hasil panen warga tidak hanya menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bahan utama pembuatan atap rumah adat Sumba serta bangunan resor dan hotel.

Siang itu, setelah perjalanan pagi dari Waingapu menggunakan mobil Taman Nasional Matalawa, sampailah kami di pintu masuk menuju lokasi Air Terjun Maya Yangu yang ada di dalam kawasan TN Manupe Tana Daru dan Laiwanggi Wanggameti yang sering disebut Matalawa.

Menanti saat meluncur ke lokasi air terjun, terlihat di depan kami salah seroang warga desa sedang merapikan dan mengelompokkan tumpukan rumput yang juga disebut alang-alang yang dipakai sebagai atap rumah orang Sumba.



Warga Kampung Pataledi, Yudi Keba Dailu, adalah salah seorang pemanen lokal dari alang-alang yang sebarannya sangat masiv di sekitar pintu masuk ke Air terjun.

Yudi mengungkapkan bahwa permintaan alang-alang mengalir dari berbagai wilayah, termasuk pesanan sebanyak 100 pikul dari Kampung Adat Arola di Lamboya yang sedang membangun kembali kawasannya pascabencana kebakaran.

“Alang-alang dari kawasan Pataledi sangat diminati karena dikenal memiliki kualitas unggul dengan helai yang tebal dan berukuran besar, setiap pikul alang-alang—yang terdiri dari 30 ikat—dijual seharga Rp60.000, di mana setiap ikatnya berisi empat bundel,” ungkap Yudi.

Yudi bilang aktivitas pemanenan ini dikelola secara terorganisasi melalui sistem kelompok.

“Saat ini terdapat sekitar 11 kelompok pemanen yang terbagi di kawasan bagian bawah dan atas,” ujar Yudi.



Dalam satu kelompok yang beranggotakan empat hingga lima orang, warga mampu mengumpulkan sekitar 10 pikul alang-alang dalam sehari kerja.

Hasil penjualan alang-alang ini menjadi sumber penghasilan yang sangat membantu kebutuhan ekonomi sehari-hari warga, terutama di luar musim pengerjaan kebun, jelas Yudi

Warga Kampung Pataledi, Yudi Keba Dailucsedang merapikan kumpulan alang-alang agar siap di jual [Foto: Heinrich Dengi]

Di samping memberikan manfaat ekonomi, aktivitas pemanenan di kawasan Taman Nasional ini diimbangi dengan komitmen konservasi yang kuat.

Warga yang telah mendapatkan izin pemanfaatan dari pihak Taman Nasional secara aktif menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran.

“Warga rutin melakukan ronda harian untuk mencegah pembakaran liar, baik yang dipicu oleh aktivitas perburuan maupun kelalaian lainnya,” Yudi menjelaskan penuh semangat.

Lanjut dia, hubungan kerja sama antara masyarakat Kampung Pataledi dengan pengelola Taman Nasional terjalin sangat baik dan saling mendukung demi kelangsungan ekosistem serta keberlanjutan sumber daya alang-alang.


Yudi juga menyampaikan dengan bangga bahwa alang-alang yang diproduksi wara Pataledi dimanfaatkan oleh banyak vila dan hotel premium di Sumba.

Bahkan tambah Yudi, belum berselang berapa lama, salah satu manajemen Hotel di jawa melakukan pembelian alang-alang dalam jumlah besar. Kelompok pekerkerja alang-alang Pataledi harus menyiapkan alang—alang sebanyak 7 truk penuh untuk dikirim ke pembeli di Jawa. [HD]

Show Buttons
Hide Buttons
;