
MaxFM, WAINGAPU, SUMBA – Yang saya kasihi Suami dan istri pelayan yang hadir (ini penting disebut dalam moment ini, pasangan pelayan/suami atau istri pelayan mereka tidak di mimbar, mereka di belakang layar pelayanan, tetapi peran mereka bagi suksesnya pelayanan dari seorang pelayan sangat menentukan).
Para koster gereja di seluruh jemaat, mereka pasti tidak hadir di sini. Salam buat mereka.
Para Pegawai kantor gereja di seluruh jemaat, pimpinan media/ wartawan yang hadir meliput acara ini.
Bapak Ketua dan seluruh Panitia Pelaksana Sidang 1 MS GKS.
Sekali lagi : Shalom!
Saya ingin awali sambutan yang saya usahakan ringkas ini bukan dnegan pantun apalagi puisi tetapi dengan satu ayat firman Tuhan : Yohanes 3:30 : “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Sidang Sinode GKS ke-XLIV telah selesai. Kita telah berdoa bersama, kita telah bermusyawarah bersama. Kita telah memilih dan menetapkan orang-orang yang akan menerima tanggung jawab memimpin GKS lima tahun ke depan.
Hari ini kita hadir disini bukan untuk memulai, tetapi untuk meneruskan berjalan bersama. Tetapi sebelum melangkah terlalu jauh, ada baiknya kita menoleh sebentar ke belakang. Sebab tidak ada perjalanan yang benar-benar dimulai dari hari ini. Kita berdiri di sini karena ada orang-orang yang telah berjalan lebih dahulu. Rasul Paulus pernah berkata: Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”(1 Korintus 3:6)
Ayat ini sederhana, tetapi bagi kami, ayat ini menolong kita dalam memahami kepemimpinan gereja. Ada yang menanam. Ada yang menyiram. Ada yang memelihara. Ada yang kemudian menikmati buahnya. Tetapi pertumbuhan tetap milik Tuhan. Karena itu, sebelum kita berbicara tentang apa yang akan kita kerjakan lima tahun ke depan, kita patut mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menanam sebelum kita.
Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada BPMS GKS periode 2022–2026. Bagi saya, BPMS GKS periode sebelumnya bukan semata orang-orang yang pernah duduk dalam satu struktur organisasi. Mereka adalah kawan, saudara, mentor, sahabat perjalanan. Di bawah kepemimpinan pemimpin GKS periode terdahulu dan dan dibawah kepemimpinan ibu Ketua Umum periode yang baru saja berakhir Ibu Pdt. Marlin Lomi, S.Th. yang tetap awet dan cantik. Saya, Kaka Pendeta Benyamin Kondi, Kaka Pendeta Apri, Penatua Agustinus Hona Parin dan para ketua perwakilan : Usi Pendeta Irene Takanjanji, Kakak Pendeta Theo, Usi Pendeta Fin Fangidae dan perangkat periode sebelumnya kami belajar banyak hal. Belajar memimpin, belajar mendengar, belajar sabar, belajar berbeda pendapat dan belajar mengambil keputusan bersama. Dan yang paling penting, belajar bahwa gereja tidak boleh menjadi milik pemimpinnya tetapi milik Tuhan yang diurus bersama. Karena itu, apa yang baik dari perjalanan sebelumnya akan kami lanjutkan. Apa yang belum selesai akan kami kerjakan dan apa yang kurang akan kami perbaiki bersama. Intinya kita tidak sedang mengganti orang. Kita sedang meneruskan pekerjaan Tuhan
Bapa, Ibu, Saudara-saudara, ada juga orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk dalam berita. Nama mereka jarang disebut. Tetapi tanpa mereka, pekerjaan gereja tidak akan berjalan dengan baik. Saya ingin menyebut mereka malam ini: para sopir kantor Sinode. Mereka adalah sahabat perjalanan, siang berangkat, malam kembali. Menyusuri jalan-jalan di pulau Sumba. Panas, hujan, debu. Kadang jalan yang tidak mudah. Mereka mungkin tidak ikut mengambil keputusan. Tetapi mereka membantu keputusan itu sampai ke tempat tujuan. Terima kasih.
Kepada para pegawai kantor Sinode, termasuk yg telah pensiun kami juga menyampaikan penghargaan. Ada orang yang bekerja di depan. Ada orang yang bekerja di belakang layar. Ada yang namanya disebut. Ada yang tidak pernah disebut. Tetapi gereja membutuhkan semuanya. Tidak semua pelayanan harus terlihat untuk menjadi berarti. Kerjanya sederhana tapi dengan cinta yang besar.
Kita juga perlu mengingat orang-orang yang bekerja dengan pikiran dan waktu mereka untuk mempersiapkan perjalanan gereja ini. Baik di Jemaat, di Klasis maupun di aras Sinode.
Ada tim yang merumuskan draf amandemen Tata Gereja. Ada tim yang menyusun draf GBKU. Ada yang bekerja dalam kajian teologi. Ada yang menyiapkan bahan khotbah hari-hari raya gerejawi. Ada yang duduk dalam rapat panjang yang bisa jadi melelahkan. Membaca dokumen, mencari referensi. berdebat, mengoreksi, menulis ulang, kadang sampai malam. Mereka mungkin tidak terlihat di mimbar dan dalam persidangan. Tetapi pikiran mereka ikut membentuk arah perjalanan gereja. Karena itu, terima kasih kepada seluruh tim kerja, tim kajian, tim perumus, dan semua orang yang telah menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, dan keahliannya bagi GKS.
Apa yang mereka kerjakan belum tentu langsung sempurna. Tetapi pekerjaan yang baik memang sering dimulai dari sebuah draf, kemudian dibaca, dikritik termasuk komentar cerdas lalu diperbaiki. Dan akhirnya menjadi keputusan bersama. Itulah indahnya hidup bergereja. Tidak ada satu kepala yang merasa paling tahu. Kita berpikir bersama, kita berdoa bersama, kita memutuskan bersama. Dan ketika keputusan telah diambil, kita berjalan bersama, kita mengeksekusinya bersama-sama.
Kepada Bapak ibu Pendeta, Vikaris, Guru Injil, Penatua, Diaken, dan seluruh warga jemaat GKS, kami juga mengucapkan terima kasih. Pada periode sebelumnya, Bapa, Ibu, Saudara-saudara telah mendoakan kami. Ada yang memberi dukungan. Ada yang memberi nasihat. Ada yang memberi kritik termasuk di grup WA pelayan. Ada yang mungkin kecewa kepada kami. Ada yang diam-diam memberi apresiasi ada juga yang lugas menyampaikannya. Semuanya kami terima sebagai bagian dari dinamika perjalanan bersama.
Dan memasuki periode yang baru ini, kami berharap hal yang sama tetap ada. Doakan kami. Nasihati kami. Tegur kami dalam kasih Kristus jika kami salah. Sebab pemimpin gereja juga manusia. Supaya kami jangan mudah lupa bahwa kami sedang memegang amanat Tuhan.
Kita juga tidak boleh lupa kepada jemaat-jemaat yang setia menopang kehidupan Sinode GKS, termasuk melalui tanggung jawab dukungan dua persen, setoran, tanggungan dan spontanitas dan rupa-rupa bentuk topangan lainnya termasuk menjadi tuan rumah keggiatan sinode. Gereja/jemaat adalah milik Tuhan. Sebab ketika setiap jemaat memberikan bagian kecilnya, bagian-bagian kecil itu disusun rapi akan menjadi kekuatan bersama. Itulah gereja, yang sedikit, yang dari satu orang menjadi berarti ketika dipersembahkan bersama. Terima kasih kepada seluruh jemaat yang telah menjadi bagian dari kehidupan Sinode GKS.
Bapa, Ibu, Saudara-saudara, Hari ini kita juga patut memberikan penghargaan khusus kepada Klasis Payeti dan jemaat-jemaat yang menjadi tuan rumah Sidang Majelis Sinode I ini. Mereka menyiapkan segala sesuatu bagi suksesnya persidangan ini. Terima kasih kepada seluruh warga Klasis Payeti. Terima kasih kepada majelis jemaat, panitia dan warga jemaat yang terlibat. Kiranya Tuhan memberkati setiap pengorbanan yang diberikan. Dan terima kasih pula kepada panitia Sidang Majelis Sinode dan panitia Sidang Sinode periode sebelumnya, serta jemaat-jemaat yang telah membuka rumahnya bagi kegiatan-kegiatan sinodal. Gereja berjalan karena selalu ada jemaat yang bersedia.
Gereja juga tidak hidup sendirian, kita hidup di tengah masyarakat. Karena itu, melalui momentum ini atas nama Sinode GKS, kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kabupaten se-daratan Sumba atas kemitraan yang selama ini telah dibangun. Secara khusus kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, yang menjadi tetangga terdekat pusat pelayanan Sinode GKS. Kantor Sinode GKS berada di sini. Pemda Sumba Timur selalu tanggap dan sigap berdiri Bersama kami. Dari tempat ini pelayanan gereja menjangkau seluruh jemaat dalam 61 klasis di seluruh Sumba. Karena itu hubungan gereja dan pemerintah bukan sekedar hubungan administratif. Kita hidup di tanah yang sama, kita melayani masyarakat yang sama, kita menghadapi persoalan yang sama. Dan kita mempunyai kerinduan yang sama: agar kehidupan masyarakat sumba menjadi semakin baik.
Kami juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra Sinode GKS. Kementrian agama, Kepada Gereja-Gereja Mitra, Yayasan, Dunia Pendidikan, BUMN, Perguruan Tinggi, Organisasi sosial dan seluruh pihak yang selama ini berjalan bersama GKS. Kita belajar bahwa pelayanan menjadi lebih luas ketika kita mau berjalan bersama. GKS tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para suami, istri, dan anak-anak keluarga BPMS dan perangkat periode sebelumnya. Mereka sering menjadi bagian yang tidak terlihat dari pelayanan kita. Ada hari anak yang bertanya : ”Besok pi mana lagi atau kapan pulang?” Kepada mereka saya mengucapkan terima kasih.
Kepada BPMS dan perangkat yang baru, organ yayasan, mari kita saling menjaga. Jangan sampai gereja mendapatkan pemimpin yang hebat tetapi kehilangan waktu buat keluarganya. Sebab keluarga juga adalah ladang pelayanan Tuhan.
Kepada BPMS dan perangkat yang baru, organ Yayasan, saya ajak kita ada dalam satu pemahaman dengan talenta yang ada. Tuhan tidak mencari orang yang paling mampu tetapi Tuhan mencari orang yang mempersembahan kemampuannya untuk kemuliaan Nama Tuhan. Kita juga ingat inti khotbah hari ini dan ayat Alkitab 1 Kor 15:58 – Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Bapa, Ibu, Saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus, hari ini kita membuka Sidang Majelis Sinode I. Kita akan berbicara tentang program, tentang anggaran, tentang struktur, tentang perangkat kerja, tentang keputusan-keputusan yang harus kita ambil. Semua itu penting, tetapi ada sesuatu yang lebih penting: Untuk apa kita melakukan semua ini? Kita melakukannya bukan supaya organisasi terlihat kuat. Bukan supaya nama kita dikenang. Bukan supaya jabatan kita dihormati. Kita melakukannya karena ada kehidupan yang harus dirawat. Ada anak-anak dan remaja yang harus dibimbing. Ada rumah tangga yang harus diselamatkan dari kekerasan domestic. Ada generasi yang harus diwariskan iman. Ada jemaat yang membutuhkan pengharapan. Karena itu tema pelayanan kita: “Merawat Kehidupan, Merawat Generasi”. Sebab pada akhirnya: Gereja tidak diukur dari banyaknya rapat yang kita lakukan, tetapi dari sentuhan pelayanan kita.
Melayani di gereja bukan menjadi besar, tetapi menjadi berguna, bukan menjadi terkenal, tetapi menjadi setia. Bukan mencari kehormatan, tetapi bersedia menghamba dan seperti sebuah kata bijak yang sederhana: “Kita mungkin tidak bisa melakukan segala sesuatu, tetapi kita selalu bisa melakukan sesuatu dengan setia.” Jabatan akan berakhir, pelayanan harus terus berjala, nama kita mungkin suatu hari dilupakan, tetapi kiranya ada kehidupan yang pernah kita rawat. Ada generasi yang pernah kita tuntun, ada orang yang pernah kita kuatkan dan ada gereja yang pernah kita layani dengan setia.
Akhirnya marilah kita mulai lagi perjalanan lima tahun ini dalam Nama Tuhan Yesus dan dalam kerendahan hati. Dengan tangan yang siap bekerja dan bekerja sama, kita berjalan bersama, kita merawat kehidupan, kita merawat generasi. Terima kasih dan Shalom!







