
MaxFM WAINGAPU, SUMBA – Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) memulai tahapan Persidangan I Majelis Sinode (MS) pada Rabu, 7 Oktober 2026, selepas Sidang Sinode di Nggongi beberapa waktu lalu. Persidangan yang dirancang sekali setahun dalam masa kepemimpinan Ketua Umum Pendeta Yakub Malo Bili dan Sekretaris Umum Pendeta Aprianus M. Jangga Uma dilaksanakan di gedung pertemuan Hapu Mbay Payeti, mengambil tema “Merawat Kehidupan, Merawat Generasi”.
Utusan dari berbagai Klasis se-Pulau Sumba akan mengikuti persidangan selama 3 hari ke depan hingga Jumat sore, 9 Oktober 2026.
Di dalam gedung Hapu Mbay, rangkaian kegiatan seremonial pembukaan Sidang I MS dimulai dengan Ibadah, dilanjutkan dengan Pernyataan Pembukaan Sidang 1 MS GKS, pengukuhan perangkat BPMS 2026-2031, laporan Ketua Panitia, serah terima jabatan dan rangkaian acara lain, diakhiri malam puji-pujian.
Di luar gedung, tertata rapi tenda dari beragam Usaha Mikro Kecil (UMK). Ada yang menawarkan aneka tenun ikat, aksesoris yang terbuat dari kerajinan tangan kayu, kerajinan tangan dari benang, makan dan minuman juga tersedia.
Yang menarik, di salah satu tenda UMK yang mengambil tempat di sekitar lokasi persidangan ini menghadirkan warna baru di dunia kriya Sumba melalui usahanya yang bernama Sumbaart, yang dimiliki oleh Kristina Yunita Lodo.
Melalui brand ini, ia memproduksi aneka aksesoris dan ukiran kayu unik yang mengusung narasi kehidupan masyarakat Sumba.
Berbeda dari kerajinan pasaran, seluruh produk Sumbaart didesain dan dikerjakan secara mandiri.
“Saya mendesain sendiri model ukiran ini, yang mengerjakan saya sendiri dan ada tim kerja lainnya,” jelas Kristina.
Keahlian dan ide orisinal tersebut membuat setiap karyanya memiliki karakter tersendiri, sehingga tidak ada produk yang dibuat persis sama.
Ragam produk yang dihasilkan meliputi miniatur rumah adat Sumba, patung figuratif warga yang menumbuk padi menggunakan lesung, ukiran penunggang kuda, hingga aksesoris khusus berunsur bahan alami seperti dari taring babi.
Kristina menjelaskan bahwa produk Sumbaart dirancang untuk menjawab kebutuhan wisatawan modern yang menginginkan suvenir praktis, kaya cerita budaya, namun tetap ramah di kantong.
Dengan kisaran harga mulai dari Rp100.000 untuk ukuran kecil, karya Sumbaart menjadi pilihan oleh-oleh yang sangat diminati oleh wisatawan generasi baru.
Suvenir miniatur ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin membawa pulang memori dan cerita otentik tentang Sumba.
Saat ini, Sumbaart berfokus pada penjualan secara online melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Selain itu, produk-produknya juga dipasarkan di Bandara Umbu Mehang Kunda, serta kerap memajang karyanya dalam pameran kerajinan yang difasilitasi oleh PLUT NTT.
Bagi wisatawan maupun masyarakat yang tertarik untuk memesan atau mengoleksi suvenir unik khas Sumba ini, dapat menghubungi Kristina Yunita Lodo secara langsung melalui kontak HP/WhatsApp di nomor 082214329013. [HD]








