
MaxFM WAINGAPU, SUMBA — BMKG dalam hal ini Stasiun Geofisika Waingapu memberikan pembaruan (update) terkait perkembangan situasi kegempaan yang melanda kawasan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, NTT.
Dalam wawancara via telepon di acara Warga Bicara Radio Max FM, Selasa pagi, 6 Oktober 2026, Kepala Stasiun Geofisika Waingapu, Rudy Darsono, menjelaskan bahwa setelah gempa utama bermagnitudo 6,1 yang kemudian diperbarui menjadi M 5,9 pada 4 Oktober 2026, telah terjadi ratusan gempa susulan.
“Hingga Selasa, 6 Oktober 2026 pagi WITA, Stasiun Geofisika Waingapu mencatat sebanyak 443 kali gempa susulan, dengan empat kali guncangan yang dirasakan oleh masyarakat,” jelas Rudy Darsono.
Sebaran magnitudo gempa susulan tersebut berkisar antara M 1,1 hingga yang terbesar M 4,8. Meskipun demikian, BMKG memastikan bahwa tren gempa susulan saat ini sudah melandai dan jauh menurun dibandingkan satu hingga dua hari pertama pascagempa utama.
“Gempa berkekuatan M 4.6 pada Selasa, 6 Oktober 2026 terjadi pada pukul 05.48 WITA pusat gempa berada di laut 14 KM Selatan Kodi, Sumba Barat Daya,” tambah Rudy Darsono
Rudy melanjutkan berdasarkan hasil peninjauan lapangan oleh tim Stasiun Geofisika Waingapu di kawasan Kodi, dampak kerusakan akibat gempa dilaporkan tidak bersifat masif, melainkan terkonsentrasi pada titik tertentu dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang.
Stasiun Geofisika Waingapu mengidentifikasi di lokasi terdampak gempa Kodi ujar Rudy bahwa, penyebab utama terjadinya kerusakan signifikan pada beberapa rumah warga adalah struktur bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa, seperti ketiadaan balok dan kolom penguat.
Ketika ditanya apakah gempa ini terkait aktivitas Sesar Wekabubak, Kepala Stasiun Geofisika Waingapu Rudy Darsono membenarkan bahwa pusat gempa dan sebaran gempa susulan berada di dalam jalur Sesar Wekabubak.
“Sesar aktif ini membentang dari bagian selatan Pulau Sumba hingga ke sebelah barat pulau, di mana segmen yang aktif saat ini berada di wilayah sekitar Kodi,” tegas Rudy Darsono.
Pihak Stasiun Geofisika Waingapu juga memastikan bahwa aktivitas gempa di Kodi tidak memiliki kaitan dengan kejadian gempa di Flores. Kedua gempa tersebut berasal dari sumber struktur yang berbeda dan lokasinya saling berjauhan.
Sebagai bentuk kewaspadaan, Rudy Darsono menyampaikan tiga langkah mitigasi utama yang wajib diperhatikan oleh publik:
1. Rujuk Informasi Resmi dan Hindari Hoaks: Masyarakat diminta untuk tidak memercayai isu yang tidak jelas dan selalu memantau informasi resmi dari BMKG atau BPBD melalui kanal media sosial resmi, situs web, serta aplikasi InfoBMKG.
2. Terapkan Evakuasi Mandiri (Drop, Cover, Hold On): Saat terjadi guncangan, masyarakat diimbau untuk merunduk, melindungi kepala, dan berpegangan (drop, cover, and hold on) agar tidak panik serta terhindar dari risiko cedera akibat terjatuh.
3. Pahami Lingkungan Bangunan dan Jalur Evakuasi: Masyarakat disarankan memeriksa kelayakan struktur rumah tinggal serta mengenali jalur evakuasi dan akses menuju ruang terbuka untuk menghindari bahaya reruntuhan. [HD]







